Jumat, 15 November 2019
News & Nature
Wisata Alam

TWA Batu Gamping Gelar Saparan Bekakak

Minggu, 20 Oktober 2019

Lestarikan Tradisi Upacara Adat

TWA Batu Gamping Gelar Saparan Bekakak
BKSDA Yogyakarta
Taman Wisata Alam Batu Gamping menjadi lokasi penting dalam perhelatan tradisi “Saparan Bekakak”

Yogyakarta -- Taman Wisata Alam Batu Gamping menjadi lokasi penting dalam perhelatan tradisi “Saparan Bekakak” yang digelar setiap tahunnya oleh Pemerintah Desa Ambarketawang yang didukung Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman. Pada tahun 2019, tradisi Saparan Bekakak dilaksanakan pada 18 Oktober 2019. 

Upacara Adat Saparan Bekakak yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Ambarketawang sekali dalam setahun pada bulan Sapar (kalender Jawa) merupakan upacara adat yang dilaksanakan dengan penyembelihan bekakak yaitu sepasang boneka pengantin Jawa terbuat dari  tepung ketan yang diisi gula merah di altar TWA Batu Gamping.

Kegiatan diawali denga ritual pengambilan air di Gunung Gamping pada Rabu Malam (16/10/19) dilanjutkan dengan acara Macapatan di Pendopo TWA Batu Gamping pada Kamis malam (17/10/19). Puncak prosesi Bekakak dilaksanakan pada hari Jumat (18/10/19) diawali dengan Karawitan di Pendopo TWA Batu Gamping dan kirab Bekakak yang diberangkatkan dari kantor Desa Ambarketawang. Iring-iringan Bekakak tersebut diikuti oleh 37 Bergada (pasukan prajurit) dan 47 ogoh-ogoh (boneka berukuran besar).

Turut hadir pada pelaksanaan Upacara adat Saparan Bekakak Kepala Balai KSDA Jogjakarta, M. Wahyudi dan Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun M.Kes. Di sela-sela pelaksanaan upacara adat Saparan Bekaka, M. Wahyudi menyampaikan mengenai keberadaan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Batu Gamping yang tidak lepas dari saksi sejarah asal mula berdirinya Kraton Yogyakarta yang pada saat itu dirintis oleh Sultan Hamengku Buwono I. Selanjutnya M. Wahyudi menyampaikan mengenai pengembangan TWA Batu Gamping ke depan. 

“Kawasan TWA Batu Gamping ke depan dapat diarahkan sebagai destinasi minat khusus sejarah dan budaya dengan konsep eco edu wisata,” kata Wahyudi.
 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR