• Jumat, 30 September 2022

Pestisida Nabati Pengganti Pestisida Kimia

- Rabu, 14 September 2022 | 11:04 WIB
Mahoni
Mahoni

Oleh: Dra. Wida Darwiati, M.Si.

Salah satu wujud komitmen sektor kehutanan dalam mendukung program ketahanan pangan diantaranya melalui penyediaan kawasan hutan dengan pola agroforestri. Kontribusi pola agroforestri ini terhadap ketersediaan pangan nasional sangat besar yaitu mencapai 3,4 juta ton per tahun.

Namun demikian pola ini dapat memberikan dampak negatif, salah satunya disebabkan karena penggunaan pestisida kimia yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Pada banyak kasus, penggunaan pestisida sering kali dilakukan dengan dosis yang berlebihan.

 

Untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida kimia pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian No. 24/Permentan/SR.140/4/2011 tanggal 8 April 2011 melarang penggunaan 42 jenis bahan aktif pestisida sintetis, termasuk dieldrin, endosulfan, dan klordan (Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, 2012).

-
Baca Juga: Potensi Kayu Ules untuk Tingkatkan Imunitas Tubuh

Biji suren

Penggunaan pestisida kimia sintetis secara berlebihan tersebut mengakibatkan meningkatnya akumulasi residu pestisida di alam. Residu tersebut berdampak tidak hanya terhadap menurunnya kualitas lingkungan hidup namun juga kesehatan masyarakat.

Salah satu upaya dalam mengurangi penggunaan pestisida kimia sintetik yaitu dengan subtitusi menggunakan pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan. Kelebihan pestisida nabati yaitu bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan.            

Halaman:

Editor: Islaminur Pempasa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mewujudkan Hutan Indonesia jadi Sumber Obat Dunia

Senin, 19 September 2022 | 11:03 WIB

KoFCo Nursery, Koleksi Dipterokarpa Terlengkap

Kamis, 15 September 2022 | 09:29 WIB

Pestisida Nabati Pengganti Pestisida Kimia

Rabu, 14 September 2022 | 11:04 WIB

Potensi Kayu Ules untuk Tingkatkan Imunitas Tubuh

Selasa, 13 September 2022 | 08:36 WIB

Konsep Baru untuk Teknologi Restorasi Mangrove

Senin, 12 September 2022 | 08:44 WIB

Tanam Pinang untuk Selamatkan Lahan Gambut

Jumat, 9 September 2022 | 08:29 WIB

COVID-19 dan Potensi Bioetanol Hutan Tropis Kita

Kamis, 8 September 2022 | 10:50 WIB

Penanganan COVID-19 dalam Perspektif IAS

Jumat, 2 September 2022 | 10:40 WIB

Memformasikan Sains Membangun Standar LHK

Kamis, 1 September 2022 | 14:21 WIB

Faloak untuk Obati Hepatitis, Mitos atau Fakta?

Rabu, 31 Agustus 2022 | 11:03 WIB

Ratu Anggrek dari Sebangau

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 13:59 WIB

Pengembangan Kelor untuk Ekonomi Kreatif di Kampar

Jumat, 26 Agustus 2022 | 09:23 WIB

Papan Serat Non Kayu Produk Furnitur Masa Depan

Kamis, 25 Agustus 2022 | 11:41 WIB

Laut Berbicara tentang Carbon Dioxide Removal (CBD)

Kamis, 25 Agustus 2022 | 08:35 WIB

Potensi Bambu sebagai Sumber Silika Ramah Lingkungan

Kamis, 25 Agustus 2022 | 07:44 WIB

Cara Leuit Menghadapi Krisis Pangan

Senin, 22 Agustus 2022 | 14:39 WIB

Moke, Nalo dan Makna Sosial Budaya yang Mengiringinya

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 16:48 WIB
X