Kamis, 4 Juni 2020
News & Nature
Tapak

Mewujudkan Hutan Indonesia jadi Sumber Obat Dunia

Senin, 18 Mei 2020

Jangan sampai kita kecolongan lagi seperti kasus temuan obat kanker yang diekstrak dari tanaman kenikir (Cosmos caudatus).

Dr. Ir. Sulistya Ekawati M.Si. Dr. Ir. Sulistya Ekawati M.Si. Peneliti Ahli Utama Bidang Kebijakan Pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim KLHK
Mewujudkan Hutan Indonesia jadi Sumber Obat Dunia
dok. penulis

SAAT ini seluruh dunia dihebohkan dengan penyakit yang disebabkan oleh virus Corona. Ulah virus tersebut telah menjungkirbalikkan tatanan sosial, mengaduk-aduk mata rantai ekonomi dan menggoyahkan tata ibadah agama-agama besar di dunia.

Dikabarkan hanya aspek ekologi yang bersuka cita karena langit kembali membiru, ikan-ikan di sungai menetas dan bebas berenang, burung berkicau, satwa laut berjemur di pantai dan kawanan rusa berjalan-jalan di kota.

Para peneliti berlomba-lomba menemukan obat penangkal dan vaksin virus  corona. Mereka bekerja keras berpacu dengan waktu. Jurnal-jurnal internasional ternama semakin rajin menerbitkan tulisan-tulisan ilmiah terkait penanganan virus ini. Beberapa pos anggaran pembangunan dialihkan untuk mengatasi dampak virus ini.

______________________________________________________________

Baca juga: Potensi Kayu Ules untuk Tingkatkan Imunitas Tubuh

______________________________________________________________

Banyak rumah sakit kelabakan menyediakan obat-obatan, alat pelindung diri dan ventilator. Kita baru sadar, selama ini produksi farmasi di Indonesia sangat tergantung dari impor negara lain, khususnya China.

Ketergantungan tersebut sudah lama terjadi dan membuat kita lupa bahwa di bumi nusantara banyak mengandung potensi tanaman obat yang belum dijelajahi (baca: diteliti). Penelitian terkait tanaman obat sudah banyak dilakukan, tapi berhenti sebagai selembar kertas tanpa ada tindak lanjut yang terarah.

Ketika kita mengetik pada laman browser dengan kata kunci ‘tanaman obat dari hutan', akan muncul kurang lebih 8.210.000 artikel terkait. Wow... sangat luar biasa. Data tersebut menyatakan masyarakat mulai tertarik menggunakan obat-obatan dari tanaman atau obat herbal.

Tanaman obat tersebut tersebar di seluruh wilayah hutan di Indonesia. Bagian tanaman yang dipergunakan sebagai obat berupa akar, daun, batang, kulit batang, buah, biji, daun muda, getah, air dari batang dan umbi. Cara penggunaan obat herbal tersebut juga beragam, tapi sebagian besar digunakan dengan cara direbus.

Banyak artikel penelitian menceritakan kekayaan turun temurun nenek moyang kita menggunakan tanaman herbal untuk penyembuhan penyakit. Sayangnya sebagian hasil penelitian tersebut hanya berupa resume wawancara dari masyarakat sekitar hutan.

______________________________________________________________

Baca juga: Bajakah, Benarkah Berpotensi Obati Kanker?

______________________________________________________________

Para peneliti tanaman obat  hanya mengidentifikasi biodiversitas. Etnobotani, paling banter hanya menganalisis kandungan kimia (fitokimia) dari tanaman tersebut. Etnobotani sendiri merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pemanfaatan tetumbuhan oleh masyarakat secara turun temurun dan dalam kurun waktu yang lama.

Menurut Sutarno dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2015, hutan tropis di Indonesia, Brasil dan Kongo adalah wilayah dengan keanekaragaman spesies daratan tertinggi di dunia. Di di Kalimantan saja, dari hasil penelitian Noorhidayah pada 2006 ditemukan sedikitnya 815 spesies tanaman obat dari kawasan hutan yang secara turun temurun dimanfaatkan masyarakat lokal untuk mengobati 424 macam penyakit.

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 2019 menyatakan kekayaan biodiversitas ini telah menginspirasi tiga karya besar kelas dunia. Pertama, Herbarium Amboinense karya Rumphius. Buku tersebut bercerita tentang tumbuh-tumbuhan di Ambon dan kegunaannya untuk obat-obatan.

Kedua, Wallace mengidentifikasi pembagian fauna yang sekarang dikenal dengan istilah Garis Wallace. Ketiga, Lembaga Eijkman sebagai laboratorium penelitian untuk patologi dan bakteriologi untuk negara tropis.

 

Etnomedicine

 

Pengobatan tradisional sebagai warisan budaya bangsa (ethnomedicine) perlu terus ditingkatkan dan didorong pengembangannya melalui penggalian, penelitian, pengujian dan pengembangan yang secara medis dapat dipertanggungjawabkan.

Di  dalam dunia kedokteran memang ada tahapan baku yang harus dilalui untuk menetapkan tanaman herbal menjadi produk obat. Hasil-hasil penelitian tanaman obat dari hutan perlu dilanjutkan sampai mencapai tahapan tersebut agar tuntas dan bermanfaat.

Menurut WHO, sebanyak 65% dari penduduk negara maju dan 80% penduduk negara berkembang telah menerima obat herbal.  Menurut Sinambela (2003) Pemasok obat herbal terbesar adalah Cina, Eropa, dan Amerika Serikat. Berita menyedihkannya,  Indonesia yang kaya akan biodiversitas tanaman obat tidak termasuk dalam jajaran negara pemasok obat herbal.

Kondisi ini sangat disayangkan, jangan sampai kita kecolongan lagi seperti kasus temuan obat kanker yang diekstrak dari tanaman kenikir (Cosmos caudatus). Nenek moyang kita memanfaatkan kenikir untuk mengobati myom, kista dan sejenisnya. Kita tidak pernah meneliti dengan serius tanaman ini sebagai tanaman obat.

Salah satu perusahaan farmasi asal Perancis mengimpor daun kenikir dari Indonesia dan mengekstraknya menjadi obat kanker. Perusahaan tersebut kemudian menjualnya kembali ke banyak negara termasuk Indonesia. Ironisnya kita membeli obat tersebut dengan harga yang sangat mahal, padahal bahan baku obat tersebut sangat melimpah di Indonesia. 

______________________________________________________________

Baca juga: Covid-19 dan Potensi Bioetanol Hutan Tropis Kita

______________________________________________________________

Sebagian tanaman obat di Indonesia diyakini merupakan antivirus. Menurut beberapa peneliti asing ternama,  obat antivirus herbal mempunyai beberapa keuntungan  seperti menghambat replikasi virus, inaktivasi virus secara langsung, mengurangi resiko resistensi, dapat digunakan dengan dosis relatif rendah, memiliki efek sinergis, serta memiliki efek samping kecil sehingga relatif aman digunakan.

Menurut Prafitriani dan Subarnas (2016), Indonesia kaya akan potensi tanaman anti virus yang bisa diteliti lebih lanjut untuk dikembangkan menjadi obat Covid 19, seperti Glycine max L, Momordica charantia L, Ribes nigrum L, Cryptoporus volvatus dan Jatropha curcas.

 

Riset Komprehensif

 

Penelitian terkait biodiversitas dan etnobotani tanaman obat sudah banyak dilakukan. Hasil-hasil penelitian menyampaikan pesan betapa banyak tanaman hasil hutan yang dimanfaatkan untuk tanaman obat, termasuk obat antivirus corona seperti daun laban, benalu, daun ketapang badak, daun sungkai, gaharu, kulit batang kina, empon-empon (jahe, temulawak, kunyit) dan sebagainya. Sayangnya beberapa penelitian tersebut dilakukan sepotong, tidak dilanjutkan dengan uji klinis sehingga efektivitasnya masih diragukan.

Peneliti dari Kementerian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, LIPI, Kementerian Kesehatan, Perguruan Tinggi dan perusahaan farmasi perlu berkolaborasi untuk melakukan penelitian yang lebih komprehensif dari hulu sampai hilir (komersialisasi).

______________________________________________________________

Baca juga: Pestisida Nabati Pengganti Pestisida Kimia

______________________________________________________________

Ada satu topik penelitian tanaman obat yang sudah merintis kolaborasi dengan swasta, yaitu penelitian arang dan cuka kayu yang diaplikasikan pada sebuah alat untuk membunuh sel kanker. Badan Riset dan Inovasi Nasional bisa memainkan peran untuk mendorong kolaborasi riset tanaman obat.

Kelangkaan bahan baku farmasi akibat dampak covid 19  harusnya menyadarkan segenap elemen bangsa untuk bergandeng-tangan, bersama-sama memanfaatkan sumberdaya yang ada. Hutan kaya akan sumber tanaman obat, menunggu kerja keras anak bangsa untuk memanfaatnya. ***



BAGIKAN

BAGIKAN