Kamis, 28 Mei 2020
News & Nature
Tapak

Cemara Sumatera di Gunung Singgalang

Jumat, 10 Januari 2020

Satu-satunya taxus yang ditemukan di daerah tropis

Eka Novriyanti, S.Hut, M.Si, Ph.D Eka Novriyanti, S.Hut, M.Si, Ph.D Peneliti BP2TSTH

CEMARA Sumatera memiliki nama latin Taxus sumatrana merupakan jenis dalam genus Taxus. Di Asia merupakan satu-satunya taxus yang ditemukan di daerah tropis. Seperti kerabatnya yang lain dalam genus Taxus, jenis ini memiliki kapasitas farmakologis yang luar biasa.

Paclitaxel dan taxane merupakan senyawa antikanker yang pertama sekali diisolasi dari T. brevifolia yang diperdagangkan dengan nama komersil Taxol, telah sejak lama beredar di dunia dan digunakan dalam pengobatan kanker.

Meskipun di Indonesia belum seterkenal kerabatnya, Taxol dan senyawa taxoid lainnya tercatat pernah diisolasi dari T. sumatrana [1][2], sehingga potensinya sebagai bahan dalam pengobatan kanker sudah didukung hasil riset. Selain potensinya dalam pengobatan kanker, tanaman ini juga telah dilaporkan mengandung bahan aktif bersifat anti oksidan, anti bakteri [3] dan antidiabetes [4].

Species taxus sebagian besar tersebar di bumi belahan utara (northern hemisphere), dan T. sumatrana merupakan satu-satunya yang ditemukan di daerah yang sepenuhnya tropis, termasuk di Indonesia. Walaupun berada di daerah tropis, tumbuhan ini tetap menuntut kondisi tempat tumbuh yang spesifik yang membuat penyebarannya menjadi terbatas.

Sejauh ini, cemara Sumatera secara alami hanya ditemukan di hutan hujan tropis di pegunungan pada ketinggian di atas 1700 m dpl. Spjut [5] pada tahun 2003 menyampaikan bahwa specimen herbarium T. sumatrana yang pernah dilaporkan berasal dari Sumatera (G. Kerinci dan Dempo) dan di Sulawesi. Namun begitu, hingga saat ini hampir tidak ada informasi lain mengenai keberadaan tumbuhan ini di Pulau Sulawesi.

Di Sumatera sendiri, eksplorasi yang dilakukan oleh peneliti-peneliti Badan Litbang dan Inovasi (BLI) melaporkan keberadaan Taxus sumatrana ditemukan di G. Kerinci, G. Tujuh, G. Sibuaton dan G. Dempo [6][7][8]. Namun, tim dari BP2TSTH baru-baru ini menemukan populasi T. sumatrana juga ditemukan di Gunung Singgalang.

Tim menemukan empat pohon yang jarak dari satu pohon ke pohon berikutnya berkisar dari 40 m hingga 400 m, serta satu anakan setinggi ±50 cm. Keempat pohon yang ditemukan memiliki kisaran diameter mulai dari ±20 cm hingga ±180 cm. Taxus di Gunung Singgalang ini ditemukan mulai pada ketinggian 1791 m dpl.

Penemuan ini mendukung praduga bahwa populasi pohon endemic Sumatera bernilai tinggi ini kemungkinan dapat ditemukan di sepanjang pegunungan Bukit Barisan asal ketinggian dan kondisi lingkungannya sesuai.

Cemara Sumatera termasuk dalam Family Taxaceae dan merupakan gimnosperma yang tidak memiliki saluran resin. Tumbuhan ini termasuk dalam kelompok tumbuhan dioecious atau berumah dua, yang berarti bunga jantan dan bunga betina berada pada individual pohon yang terpisah. Tumbuhan berdaun jarum ini termasuk jenis yang lambat tumbuh dengan permudaan alami yang relatif sulit.

Thomas dan Polwart [9] melaporkan pertumbuhan T. baccata yang tumbuh di Eropa, dalam 20 tahun tingginya hanya mencapai rata-rata 4,5 m dengan laju pertumbuhan tinggi 20-30 cm per tahun jika tempatnya terbuka dan laju pertumbuhan diameter berkisar dari 0,095 mm per tahun hingga 3 mm per tahun jika kondisi tanahnya sangat cocok.

Peneliti BP2LHK Aek Nauli (BLI) melaporkan laju pertambahan tinggi maksimal hanya 19,2 cm dan diameter maksimal hanya 2,27 mm dalam satu tahun pengamatan pada T. sumatrana yang di tanam di Kebun Percobaan Sipisopiso [10]. Selanjutnya, survey yang dilakukan oleh tim BP2TTSH Kuok (BLI) menunjukkan struktur tegakan yang tidak ideal untuk T. sumatrana yang ditemukan di habitat asinya dimana hampir tidak ditemukan tingkat tiang dan pancang dan sangat sedikit sekali terdapat anakan di habitat alaminya [11][7][12].

Pertumbuhan yang lambat dan regenerasi yang relatif sulit, ditambah lagi daerah penyebaran yang terbatas, menyebabkan populasi hampir semua species taxus di dunia menjadi sangat kecil dan sangat gampang mengarah pada kelangkaan. Sehingga, walaupun di Indonesia belum diekploitasi, T. sumatrana sudah masuk dalam daftar tanaman yang dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan no. 92 tahun 2018.

Mengingat populasinya yang sangat kecil dengan penyebaran yang terbatas dan karakter pertumbuhan yang lambat tersebut, untuk mendapatkan potensi kesehatan yang luar biasa dari cemara Sumatera ini haruslah dilakukan dengan pemanfaatan yang lestari (sustainable utilization).

Pemanfaatan lestari dengan membudidayakan dan memanen tanpa menebang/mematikan tanaman ini sangat memungkinkan untuk dilakukan karena karakter pertumbuhannya yang sangat mudah bercabang pada saat pertumbuhan vegetatif. Tentu saja, ada cara lain dalam mendapatkan senyawa spesifik anti kanker, Taxol®, melalui bioteknologi yang memerlukan investasi dan keahlian tertentu.

 

Description: G:data_ekgambar_ekno	axus_singgalanguah.jpeg

Gambar Ranting taxus yang memperlihatkan daun taxus dan buahnya yang sudah matang yang ditemukan di Gunung Singgalang

 

Description: G:data_ekgambar_ekno	axus_singgalangDSCF2968.JPG

Gambar Pohon cemara Sumatera yang ditemukan di Gunung Singgalang berdiameter ±1,8 m

Pustaka

[1]         I. Kitagawa, T. Mahmud, M. Kobayashi, Roemantyo, and H. Shibuya, “Taxol and its related taxoids from the needles of Taxus sumatrana,” Chem Pharm Bull, vol. 43, no. 2, pp. 365–367, 1995.

[2]         A. Hidayat, “Taxol and its related compound from the bark of Taxus sumatrana,” in International Seminar Proceedings Forest and Medicinal Plants for Better Human Welfare, 2014, pp. 127–132.

[3]         Y. Aprianis, E. Novriyanti, and H. Y. Teruna, “Bioaktivitas ekstrak Taxus sumatrana,” J. Lignocellul. Technol., vol. 2, pp. 50–54, 2017.

[4]         L. B. S. Kardono, N. Artanti, L. Yarni, Chairul, and S. Wiryowidagdo, “Isolation and identification of A-Glucosidase inhibitor active constituents from the twigs of Taxus sumatrana,” in Prosiding Seminar Kimia Bersama ITB-UKM keenam “Perkembangan terkini ilmu kimia yang berlandaskan kajian ilmu alam,” 2005, pp. 1070–1079.

[5]         R. W. Spjut, “Taxus sumatrana,” The World Botanical Associates, 2003. [Online]. Available: http://www.worldbotanical.com/taxus_sumatrana.htm. [Accessed: 29-Mar-2013].

[6]         G. Pasaribu and T. Setiawati, “Kandungan fenol total dan aktivitas antioksidan ekstrak Taxus sumatrana,” in Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (Mapeki) XV, 2013, pp. 263–268.

[7]         E. Novriyanti, “The 3rd Project Progress Report: Prmoting conservation of selected high value indigenous species of Sumatra,” Kuok, 2015.

[8]         H. H. Rachmat, A. Subiakto, and K. Kamiya, “Genetic diversity and conservation strategy consideration for highly valuable mecidinal tree of Taxus sumatrna in Indonesia,” Biodiversitas, vol. 17, no. 2, pp. 478–491, 2016.

[9]         P. A. Thomas and A. Polwart, “Taxus baccata L.,” J. Ecol., vol. 91, pp. 489–524, 2003.

[10]       A. D. Sunandar and M. H. Saputra, “Pertumbuhan awal dua provenans Taxus sumatrana di Kebun Percobaan Sipisopiso,” in Seminar Nasional MAPEKI XVII: Optimalisasi pemanfaatan biomasa dari hutan dan perkebunan sebagai upaya pelestarian lingkungan, 2015, pp. 230–236.

[11]       D. Frianto and E. Novriyanti, “Eksplorasi potensi Taxus sumatrana di Gunung Kerinci, Sumatera,” in Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon, 2017, pp. 471–475.

[12]       D. Frianto and E. Novriyanti, “Pola penyebaran dan potensi kerapatan Taxus sumatrana di Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Jambi,” in Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon, 2016, pp. 12–15.



BAGIKAN

BAGIKAN