Kamis, 28 Mei 2020
News & Nature
Tapak

Geronggang, Penyelamat Gambut Bengkalis

Senin, 16 Desember 2019

BP2TSTH Kuok, juga telah melakukan penelitian terkait geronggang dari berbagai aspek, termasuk aspek finansial pengusahaan hutan rakyat

Hery Kurniawan S.Hut, M.Sc Hery Kurniawan S.Hut, M.Sc Peneliti Madya BP2TSTH
Geronggang, Penyelamat Gambut Bengkalis
Geronggang (Cratoxylon arborescens (Vahl.) Blume)

Geronggang (Cratoxylon arborescens (Vahl.) Blume) merupakan jenis tumbuhan yang banyak dijumpai di hutan rawa gambut. Bagi masyarakat asli Sumatera dan Kalimantan mungkin sudah tidak asing lagi mendengarnya.

Geronggang tumbuh tersebar atau mengelompok pada belukar dan hutan primer yang tergenang. Meskipun demikian geronggang juga dapat tumbuh pada tanah berpasir ataupun tanah lempung berpasir.

Tumbuhan ini mampu mencapai tinggi hingga lebih dari 40 meter dengan diameter lebih dari 60 sentimeter. Kayunya memiliki sifat cukup kuat, ringan dan mudah dalam pengerjaannya.

Dalam dunia ilmiah kayu ini termasuk dalam kelas awet IV, kelas kuat III-IV dengan berat jenis 0,46. Karena sifatnya inilah geronggang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat lokal untuk pembuatan konstruksi ringan, jembatan, kapal, furnitur, flooring, panel, papan partikel, dan lain-lain.

Selain manfaat kayunya, geronggang juga memiliki manfaat lain yang cukup beragam, diantaranya adalah sebagai antimikroorganisme, antioksidan dan penangkal radikal bebas serta antikanker. Beberapa hasil penelitian setidaknya telah membuktikannya.

Tidak cukup sampai di situ, geronggang juga memiliki manfaat lainnya yang tidak kalah pentingnya, yakni berguna dalam mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan, karena ia merupakan tumbuhan asli rawa gambut dan relatif tahan terhadap genangan air.

Bertolak dari manfaatnya yang beragam dan sangat sesuai dengan kondisi lokal setempat, maka geronggang banyak dicari oleh masyarakat maupun pedagang, sehingga nilai komersilnya “terdongkrak” oleh permintaan pasar yang ada. Salah satu daerah (habitat alami) penghasil geronggang di Riau adalah Kabupaten Bengkalis.

Potensi geronggang di Kabupaten Bengkalis pada masa lampau sangatlah melimpah. Namun eksploitasi yang tak terkendali ditambah dengan bencana kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi membuat keberadaan geronggang di alam mulai hilang.

Kondisi ini menyadarkan sebagian masyarakat di Bengkalis, akan ancaman kehilangan potensi sumber daya alam yang sangat bernilai, bukan hanya dari sisi ekonomi namun juga budaya. Masyarakat bengkalis telah lama memanfaatkan tumbuhan ini sebagai bahan untuk pembuatan rumah tinggalnya.

Kearifan lokal juga telah lama dipraktekkan oleh masyarakat Bengkalis dalam hal pelestarian geronggang. Masyarakat Bengkalis telah mempraktekkan dua cara pelestarian geronggang, yakni yang pertama dengan merawat anakan yang tumbuh liar di alam, dengan cara seleksi dan pembersihan sekitar anakan. Kedua dengan cara memindahkan anakan dari alam ke lahan pekarangan atau lahan lainnya yang dekat dengan tempat tinggal mereka.

Penanaman biasanya dilakukan secara campuran dengan tanaman lainnya seperti sagu, karet, pinang dan kelapa. Namun demikian, tingginya penebangan di alam dan bencana kebakaran yang kerap terjadi semakin mengikis keberadaannya di alam.

Statusnya saat ini di Indonesia menurut IUCN adalah terkikis (Lower Risk) dan kurang diperhatikan (Least Concern), kasus di Pulau Bengkalis berdasarkan keterangan dari masyarakat dan tokoh kunci, jenis ini sudah sangat jarang ditemui di hutan alam. Sementara di sisi lain potensinya di lahan masyarakat juga semakin menipis.

Beberapa tokoh beserta masyarakat Bengkalis menaruh perhatian serius terhadap keberadaan geronggang yang mulai sulit didapatkan ini. Mereka bahu membahu melakukan kegiatan budidaya geronggang mulai dari penyemaian hingga pengaturan hasilnya nanti.

Pada awalnya mereka sama sekali tidak memahami cara budidaya geronggang, namun jerih payah mereka akhirnya membuahkan hasil dengan berhasil menanam geronggang pada lahan-lahan mereka. Di antaranya bahkan telah menjadi sumber benih yang bersertifikat.

Pola penanamannya pun sudah diperhitungkan sedemikian detil sehingga hasilnya dapat diperkirakan nantinya. Hasil pemanenan berupa kayu cerocok (umur 3 tahun), tebang penjarangan (6 tahun), dan tebang akhir 10-12 tahun.

Salah satu lembaga yang telah lama aktif dalam pengusahaan dan pelestarian geronggang adalah LSM Ikatan Pemuda Melayu Peduli Lingkungan dengan ketuanya Pak Solichin. LSM IPMPL saat ini telah membina tidak kurang dari 40 KTH dengan anggotanya mencapai 1495 orang anggota kelompok. Luas lahan yang digarap dinyatakan seluas ±2950 hektar yang meliputi 4 kecamatan.

Solihin beserta anggotanya meyakini bahwa geronggang bukan hanya bernilai ekonomi, namun juga menjadi penyelamat gambut di Bengkalis. Gambut yang ditanami geronggang akan mampu menahan dan menyediakan air dalam waktu yang panjang.

Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok, juga telah melakukan penelitian terkait geronggang dari berbagai aspek, termasuk aspek finansial pengusahaan hutan rakyat geronggang di Bengkalis. Sebagai gambaran perhitungan nilai finansial hutan rakyat geronggang, dengan jarak tanam 1 m x 1 m, maka dalam satu hektar akan terdapat 9215 batang.

Penjarangan pertama yakni pada umur 6 tahun diperkirakan akan menghasilkan panen sebanyak 285 tan, kemudian ditanami lagi dan dipanen 6 tahun kemudian dengan hasil yang sama 285 tan. Sementara terdapat tanaman yang dibiarkan tumbuh dan dipanen pada umur tanaman mencapai 10 tahun yakni sebanyak 744 batang (541 tan), dengan kayu afkir diperkirakan sekitar 471 batang.

Tan merupakan ukuran volume lokal yang biasa digunakan dalam perdagangan, besarannya setara 7200 inchi3 atau kurang lebih setara dengan 1,6 m3, apabila dikonversi ke dalam satuan metrik. Harga yang diperoleh dari para petani dan pengguna kayu geronggang saat ini bisa mencapai Rp. 3.500.000,-/tan.

Harga yang cukup fantastis bila melihat kemudahan tumbuh tanaman ini di Bengkalis. Dengan daur 10 tahun dan asumsi minimal (tebang akhir saja) setidaknya akan diperoleh nilai nominal mencapai Rp. 1.893.500.000,-.   

Potensi ekonomi yang demikian besar dan sudah dimulai oleh inisiasi dari kesadaran masyarakat membangun hutan rakyat mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah setempat. Setidaknya terdapat tiga modal dasar sebagai komponen utama pilar pengusahaan geronggang yang sangat kondusif dalam mendorong iklim pengusahaan dan budi daya tanaman geronggang di Kabupaten Bengkalis.

Tiga komponen tersebut adalah pertama faktor edafis dan habitat yang cocok bagi budidaya geronggang, kedua minat masyarakat yang tinggi, serta ketiga potensi pasar yang besar menjadikan geronggang layak untuk diusahakan dalam bentuk hutan tanaman.

Pada masa mendatang, apabila ketiga modal utama ini mampu digarap dengan baik oleh seluruh stakeholder yang ada, maka Bengkalis akan menjadi sentra pengusahaan dan pengembangan kayu beserta produk-produk berbahan kayu geronggang. Pengalaman masa lalu masyarakat dalam mengeksploitasi dan mengolah kayu geronggang juga menjadi faktor pendorong lainnya yang menempatkan geronggang sebagai kayu yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Bengkalis.

Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa geliat hutan rakyat geronggang mampu menjadi penyelamat ekosistem gambut di Bengkalis.   



BAGIKAN

BAGIKAN