Minggu, 8 Desember 2019
News & Nature
Tapak

Jangan Abaikan Penyakit Ulat Sutera dan Murbei

Sabtu, 23 November 2019

Bibit ulat sutera yang berkualitas tinggi merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pengembangan persuteraan alam

Dra. Illa Anggraeni Dra. Illa Anggraeni Peneliti Ahli Utama Bidang Perlindungan Hutan

PENGEMBANGAN persuteraan alam di Indonesia sudah lama berlangsung, yakni dimulai pada abad ke-10. Karena potensi untuk pengembangan ditinjau dari keadaan fisik lapangan maupun keadaan sosial ekonomi masyarakat sangat mendukung. Namun sampai sekarang masih banyak hambatan yang dihadapi antara lain rendahnya kualitas bibit ulat sutera, pemanfaatan areal yang belum efektif dan cara pemeliharaan ulat yang belum tepat.

Kualitas bibit ulat sutera merupakan suatu masalah yang sangat penting,  karena walaupun teknik pemeliharaan ulat sudah diperbaiki akan tetapi apabila kualitas bibit masih rendah maka hasil yang diharapkan tetap tidak akan tercapai.

Bibit ulat sutera yang berkualitas tinggi merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pengembangan persuteraan alam. Bibit yang berkualitas tinggi adalah bibit yang bebas penyakit, mempunyai lebih banyak jumlah telur yang baik, daya tetasnya tinggi dan seragam serta menghasilkan kokon yang tinggi mutunya dan stabil. Seperti kita ketahui bahwa dalam pemeliharaan ulat sutera hasil akhir berupa kokon dan mutu kokon inilah yang menentukan benang yang akan dihasilkan.

Kenyataan di lapangan  halnya makhluk hidup yang lain dalam pemeliharaan ulat sutera di Indonesia akhir- akhir ini terkendala adanya serangan berbagai jenis hama dan penyakit, sehingga mengakibatkan masalah yang cukup meresahkan. Hama dan penyakit menyerang ulat sutera dalam setiap periode  pemeliharaan.

Hama dan penyakit  yang menyerang ulat sutera merupakan salah satu faktor pembatas produksi utama. Selain ulat suteranya yang terserang hama dan penyakit, ternyata hama dan penyakit juga menyerang pakannya yaitu murbei.

HAMA DAN PENYAKIT ULAT SUTERA

a. Hama  ulat sutera yang utama adalah,
-    Lalat
-    Nematoda
-    Rayap
-    Semut
-    Tikus

b.    Penyakit ulat sutera

Penyakit yang disebabkan bakteri (Bacillus cereus, Bacillus subtilis,  Escherichia coli, Klebsiella cloacae, Pseudomonas fluorescence, Staphylococcus aureus  dan Streptococcus pneumoniae).Gejala awal yang diperlihatkan oleh ulat sutera apabila  terinfeksi atau terserang  bakteri adalah ulat sutera nafsu makannya menurun bahkan tidak mau makan. 

Hal ini mempengaruhi pertumbuhan ulat sutera  dan tubuhnya seperti  mengkerut.  Ulat mulai tidak bergerak, pada tubuhnya  timbul tanda bercak-bercak  hitam, lama kelamaan bercak melebar dan menutupi seluruh tubuh. Ulat mati dengan kondisi seluruh tubuhnya menjadi hitam, bila ditekan tubuh ulat serasa   lembek dan menimbulkan bau yang khas dari pembusukan oleh bakteri.

Ulat sutera yang terinfeksi bakteri

Penyakit yang disebabkan oleh jamur patogen (Aspergillus sp., Beauveria bassianam,  Harziella entomophila, Isaria fumosorosea dan Metarrhizium anisopliae). Jamur-jamur tersebut merupakan jamur patogen  serangga (entomopatogen) yaitu jamur yang menjadi parasit pada serangga.

Di Indonesia sejak abad ke-19 jamur patogen dimanfaatkan sebagai agensia hayati atau bioinsektisida  untuk pengendalian hama tanaman. Jamur ini hidup, tumbuh, dan berkembang dengan mengambil nutrisi dari inang yang ditumpanginya sehingga inangnya tidak mampu melakukan metabolisme yang kemudian diikuti kematian. Jamur ini dapat menyerang ulat sutera pada stadium telur, larva, pupa maupun dewasa serangga inangnya.

Gejala secara umum apabila ulat terinfeksi jamur dapat digmbarkan sebagai beikut, larva yang terinfeksi berhenti makan, menjadi lesu, menunjukkan ketegangan artinya tubuh ulat menjadi kaku sulit untuk bergerak dan permukaan kulit tubuh  berkilau  dan akhirnya mati  .  

Ulat sutera yang terinfeksi oleh jamur patogen
Beauveria bassiana (A) dan Aspergillus sp. (B)

Ulat sutera yang terinfeksi oleh jamur patogen Metarrhizium anisopliae

Penyakit yang disebabkan oleh Protozoa (Pebrin)

Penyebab penyakit pebrin adalah  protozoa, penyakit  ini juga disebut  mikrosporodiosis yang disebabkan oleh  patogen microsparidia Nosema bombycistermasuk dalam famili Nosematidae.

Pebrin berkembang biak dengan membentuk spora dan membelah diri. N. bomycis bersifat  parasit obligat pada  tubuh ulat sutera setelah termakan dan berkembang di seluruh bagian tubuh ulat. N. bomycis menginfeksi ulat sutera melalui mulut artinya spora termakan atau transovarial, patogen menginfeksi pada tahapan umur ulat sutera dan menimbulkan kematian pada larva dan kokon.

Penyakit pebrin dapat diturunkan dari induk ngengat ke telurnya, N. bombycis yang hidup di dalam ovari ngengat betina dan penyakit ini akan pindah ke dalam telur untuk menyerang ulat pada generasi berikutnya, pada kasus ekstrim dimana infeksi berat, larva tdk menetas sama sekali.

Penyebarannya penyakit lebih banyak ditularkan melalui telur, walaupun tidak menutup kemungkinan penyakit ini menular dari serangga yang terinfeksi dari lapangan. Spora N. bombycis yang keluar melalui feces ulat sutera yang sakit dapat melekat pada daun murbei sebagai pakan,  alas  dan alat-alat pemeliharaan sehingga ulat sutera sehat dapat tertular.

Penyakit pebrin sangat berbahaya terutama dalam kegiatan produksi telur ulat sutera, karena penyakit ini dapat diturunkan dari induk ngengat ke telurnya, oleh sebab itu, pemeriksaan penyakit perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini.

Untuk mengetahui apakah ulat sutera tersebut terserang penyakit pebrin atau tidak, maka dilakukan penelitian di laboratorium Pusat Pembibitan Ulat Sutera (PPUS) Bejen-Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Penelitian penyakit pebrin dilakukan terhadap imago betina.

Bentuk spora penyebab penyakit pebrin

Penyakit yang disebabkan oleh Virus
NPV/BmNPV (Nuclear Polyhedrosis Virus), penyakit NPV pada ulat sutera disebabkan oleh  Borrelina bombycis P (famili Baculovirus).  NPV umumnya menyerang epidermis lemak, kelenjar sutera,  sel darah dan inti sel.

Apabila ulat sutera terserang NPV maka menunjukkan gejala  nafsu/selera  makan ulat berkurang, ulat bergerak  mondar mndir atau mengelilingi  bak pemeliharaan, terjadi pembengkakan  epidermis/kulit  terutama di daerah ruas-ruas ulat dan mudah terluka atau kutikulanya rapuh, haemolimpenya menjadi keruh atau putih seperti susu, bila kutikulanya pecah akan keluar semua cairan tubuhnya yang berwarna putih seperti nanah sehingga penyakitnya disebut penyakit graseria.CPV/BmCPV (Bombyx mori Cytoplasmic Polyhedrosis Virus), penyakit CPV ini disebabkan oleh virus Smithia.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT ULAT SUTERA

-    Kebersihan tempat pemeliharaan ulat sutera.
-    Penggunaan desinfektan yang bijaksana.
-    Seleksi ras yang cocok di lingkungan tempat pemeliharaan.
-    Menggunakan ulat sutera  unggul dan sehat.
-    Pakan yang bersih bebas dari hama dan penyakit.
-    Bila sudah terlihat gejala sakit, segera ulat dipisahkan dari yang sehat bahkan dimusnahkan.
-    Pengendalian hama dan penyakit pada ulat maupun pakannya menggunakan pestisida biologi.

B.    HAMA DAN PENYAKIT MURBEI

a.    Hama murbei
-    Belalang
-    Kutu daun
-    Penggerek batang
-    Rayap
-    Ulat jengkal
-    Ulat grayak
-    Ulat kantong

b.    Penyakit murbei
-    Bercak daun
-    Embun tepung
-    Embun jelaga

 



BAGIKAN

BAGIKAN