Jumat, 15 November 2019
News & Nature
Tapak

Masih Mau Bertahan dengan Merkuri?

Minggu, 20 Oktober 2019

Alfonsus H. Harianja, M.Sc. Alfonsus H. Harianja, M.Sc. Peneliti Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas Lingkungan dan Laboratorium (P3KLL), Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

PERTAMBANGAN Emas Skala Kecil (PESK) yang tersebar pada 32 provinsi di Indonesia menggunakan merkuri pada proses pengolahan material tambangnya untuk menghasilkan emas.  Merkuri digunakan untuk mengikat bijih emas ketika material tambang dihaluskan dengan menggunakan gelundung, yaitu instalasi pengolahan material tambang untuk mendapatkan emas.  

Setelah diikat, dan menjadi amalgam, emas kemudian dilepaskan dari merkuri melalui proses pembakaran.  Lepasan merkuri kemudian dapat mencemari media lingkungan  seperti air, tanah dan udara.  Lepasan selanjutnya dapat memasuki biota dan manusia, baik langsung maupun secara bio-akumulasi melalui rantai makanan. 

Kontaminasi ini dapat mengancam kesehatan masyarakat sekitar pertambangan emas, terutama masyarakat yang berada tepat di lokasi pertambangan dan pengolahan bijih.   Bahkan, juga membahayakan kesehatan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas lebih jauh dari lokasi tersebut.  

Mengingat ekstensifnya aktivitas PESK di seluruh Indonesia, maka masalah kesehatan ini menjadi masalah besar.  Konsekuensinya dapat menurunkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.  

Bahaya merkuri

Terserapnya logam merkuri ke dalam tubuh manusia meningkatkan risiko kesehatan, mulai dari gangguan saraf, otak dan kerusakan organ.  Pada tingkatan yang lebih berbahaya, dapat mengakibatkan kelumpuhan bahkan kematian.  Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa kontaminasi merkuri pada tubuh manusia bersifat “irreversible”, tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula.
 
Penelitian pada kasus Minamata Disease di Jepang pada tahun 1990-an menunjukkan bahwa sebagian masyarakat yang berdomisili di Teluk Minamata, Kumamoto, Jepang telah terkontaminasi merkuri. Pembuangan limbah yang mengandung merkuri ke Teluk Minamata yang dilakukan oleh beberapa pabrik di lokasi tersebut mengakibatkan kontaminasi merkuri pada ikan.  Ikan tersebut kemudian dikonsumsi oleh manusia yang kemudian menderita penyakit terkait fungsi syaraf, otak dan kelumpuhan, yang kemudian dikategorikan sebagai penyakit Minamata. 

Mirip dengan situasi tersebut, lepasan merkuri dari proses pengolahan pada PESK potensial mengakibatkan dampak yang sama.  Pemantauan dan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pemantauan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) di wilayah Sumatera dan Jawa pada periode 2007-2019, menunjukkan bahwa potensi pencemaran merkuri terjadi di air dan sedimen, biota seperti tumbuhan dan ikan, serta pada manusia 

Laporan tim peneliti P3KLL berdasarkan pemantauan merkuri pada DAS Batanghari di wilayah Provinsi Sumatera Barat dan Jambi pada periode waktu 2007-2014 menyebutkan adanya indikasi distribusi merkuri baik di air maupun sedimen sungai Batanghari.  Merkuri di air sungai berfluktuasi pada kisaran <0,0005 – 0,32 milligram/liter, sedangkan pada sedimen sungai terdeteksi pada kisaran 0,01 – 0,42 milligram/kilogram. 

Selanjutnya, penelitian mengenai pencemaran merkuri juga dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Alfonsus H. Harianja, M.Sc. pada tahun 2018-2019 di PESK yang terletak di Kabupaten Sukabumi.  Merkuri digunakan sebanyak 200 sampai dengan 400 gram untuk menghasilkan 0,8 sampai dengan 4 gram emas per bulan sehingga diproyeksikan rata-rata penggunaan merkuri adalah sebesar 130-520 kilogram per bulan.  

Penelitian tersebut juga melaporkan hasil analisis kandungan total merkuri pada rambut 85 orang responden, yaitu 48 laki-laki, 33 perempuan dan 4 anak-anak, dengan kisaran umur 2,5 sampai dengan 70 tahun.  Konsentrasi total merkuri berkisar pada 0.71 – 24 part per million dengan rata-rata sebesar 4.34 part per million, sementara kisaran normal adalah di bawah 1 milligram/gram).  

Konsentrasi total merkuri tertinggi (sebesar 24 part per million) ditemukan pada seorang perempuan berumur 23 tahun yang bekerja menghaluskan material tambang emas di sekitar gelundung.  Tingginya kandungan total merkuri pada rambut berkaitan dengan tingginya waktu terpapar responden dengan merkuri, karena proses pembakaran amalgam emas-merkuri dilakukan di pemukiman mereka.  

Haruskah merkuri 

PESK memang terbukti memberikan tambahan penghasilan buat masyarakat sekitar, tetapi juga telah terbukti membahayakan kesehatan masyarakat akibat penggunaan merkuri.  Pendalaman kasus oleh P3KLL di Sukabumi pada tahun 2019 menunjukkan bahwa walaupun sebagian besar masyarakat telah memahami akibat negatif penggunaan merkuri bagi kesehatan  masyarakat dan lingkungan, mereka menyatakan bahwa tidak tersedia pilihan lain sebagai sumber penghasilan bagi mereka selain terlibat dalam kegiatan PESK.

Demikian juga dengan pilihan teknologi pengolahan, belum tersedia yang semudah dan seefisien penggunaan merkuri.  Bahkan, seorang pengusaha gelundung  di Sukabumi menyatakan bahwa dia bersedia menanggung risiko paling berat akibat penggunaan merkuri, karena belum ada bukti riil masyarakat terjangkit penyakit akibat terpapar merkuri di kampungnya.  Seorang lagi menyatakan “pekerjaan apa sih yang tanpa risiko?”. 

Jika demikian, apakah pengolahan emas dengan merkuri akan tetap berlangsung? Dengan risiko tingginya tingkat kandungan merkuri di tubuh manusia sekitar PESK, seharusnya penggunaan merkuri harus dihentikan.  Setidaknya, menjauhkan pengolahan tambangnya dari lokasi pemukiman masyarakat. ***
 


Kata kunci:
merkuri

BAGIKAN

BAGIKAN