• Jumat, 30 September 2022

Siti Nurbaya: FOLU Net Sink 2030 Bukan Hanya untuk Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

- Jumat, 16 September 2022 | 22:46 WIB
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyampaikan orasi ilmiah  berjudul "Indonesia's FOLU Net Sink 2030: Penguatan Tata Kelola dan Konservasi Sumber Daya Hutan Berbasis Lanskap" Milad ke-61 Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Kamis, 15 September 2022 (ppid.menlhk.go.id)
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Indonesia's FOLU Net Sink 2030: Penguatan Tata Kelola dan Konservasi Sumber Daya Hutan Berbasis Lanskap" Milad ke-61 Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Kamis, 15 September 2022 (ppid.menlhk.go.id)

KABAR ALAM - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Indonesia's FOLU Net Sink 2030: Penguatan Tata Kelola dan Konservasi Sumber Daya Hutan Berbasis Lanskap" Milad ke-61 Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Kamis, 15 September 2022.

"Indonesia's FOLU Net Sink 2030 diharapkan tidak hanya dapat mencapai target dalam penurunan emisi GRK, namun juga sekaligus dapat dijadikan momentum untuk mempercepat proses penguatan tata kelola lingkungan hidup dan kehutanan di Indonesia, dalam hal ini konservasi sumber daya hutan berbasis lanskap," kata Siti Nurbaya.

Berbicara FOLU Net Sink 2030 dan lanskap di Provinsi Aceh, tidak terlepas dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Keberadaan KEL, menjadikan Provinsi Aceh satu-satunya yang memiliki nilai kekayaan alam key wildlife atau hidupan liar kunci tertinggi dan terlengkap. KEL juga merupakan satu-satunya kawasan hutan di Indonesia yang menjadi habitat empat satwa langka yakni harimau, gajah, orang utan, dan badak.

Baca Juga: Hari Ozon Sedunia, Begini Klaim Menteri LHK Siti Nurbaya

KEL adalah suatu lanskap luas yang terdiri dari lanskap konservasi, perlindungan, produksi, dan pemukiman masyarakat. Ini menegaskan bahwa KEL bukan seluruhnya merupakan lanskap konservasi dan perlindungan, namun juga merupakan lanskap produksi dan pemukiman masyarakat.

"Lanskap produksi di KEL diperuntukkan untuk kegiatan ekonomi kehutanan yang mendukung perekonomian masyarakat lokal dan masyarakat adat serta sektor dunia usaha," tutur Menteri Siti.

Menteri Siti menjelaskan bahwa KEL dengan luas areal lebih dari 2,5 juta hektar tidak sama dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang merupakan kawasan konservasi seluas lebih kurang 830 ribu hektar. TNGL menjadi bagian dari KEL.

Baca Juga: Kapolda Riau Siap Kawal Implementasi UU Cipta Kerja, Refresif dan yang Terpenting Preventif!

"KEL itu jadi seperti watershed area, dimana pada areal tersebut terdapat segala kegiatan dengan land use dan Land Utilization Type atau LUT yang bermacam-macam menurut tradisi masyarakat. Jadi ada LUT konservasi, LUT pertanian rakyat, bahkan pemukiman. Jadi KEL merupakan ruang hidup yang dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Jadi tidak berbeda dari Rencana Tata Ruang Wilayah," tutur Menteri Siti.

Halaman:

Editor: Endan Suhendra

Sumber: ppid.menlhk.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hari Ozon Sedunia, Begini Klaim Menteri LHK Siti Nurbaya

Jumat, 16 September 2022 | 21:44 WIB
X