Kamis, 4 Juni 2020
News & Nature
Konservasi

Melepas Elang, Tak Semata Membuka Kandang

Rabu, 20 Mei 2020

Tim Wildlife Rescue Unit BBKSDA Sulsel lepasliarkan delapan elang, dan tiga ular sanca kembang di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung

Melepas Elang, Tak Semata Membuka Kandang
BBKSDA Sulsel

Makassar – Sebanyak 12 ekor satwa dilindungi dilepas ke alam liar oleh tim Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dan petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Minasa te’ne kabupaten Pangkep dan Karaenta kabupaten Maros termasuk dalam kawasan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Dari 12 satwa tersebut, terdapat 8 elang dari berbagai jenis, tiga ekor ular sanca kembang, dan seekor buaya muara. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulsel,  Ir.  Thomas Nifinluri M.Sc mengatakan, pelepasliaran satwa ini telah melalui proses panjang rehabilitasi dan reintroduksi.

_______________________________________________________________

Baca juga: Satu Individu Orangutan Kembali Dilepas di TNTP

_______________________________________________________________

“Rehabilitasi dari hasil sitaan dan serahan masyarakat untuk dilepasliarkan ke habitatnya dengan merujuk pada panduan IUCN dan ketentuan yang berlaku di Indonesia untuk pelepasliaran," kata Thomas di Makassar, Rabu (20/5/2020).

Satwa dilindungi yang diperoleh dari operasi penegakkan hukum dan penyerahan dari masyarakat tersebut melalui proses awal pemeriksaan kesehatan. Kajian perilaku terhadap satwa tersebut selama proses rehabilitasi di Kandang Transit Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan.

“Setelah dinyatakan sehat, observasi lebih lanjut dilakukan di kandang observasi untuk melihat perilaku harian, perilaku berburu dan makan, perilaku interaksi antar satwa,” papar Thomas.

Kemudian dilakukan juga kajian terhadap lokasi pelepasliaran untuk mempertimbangkan aspek kesesuaian habitat, potensi pakan serta potensi ancaman dan gangguan terhadap satwa.

Tahap berikutnya adalah proses habituasi atau adaptasi terhadap lingkungan satwa yang baru dengan menempatkan dalam kandang habituasi selama sekitar 7 sampai 14 hari. “Setelah semua proses pemeriksaan kesehatan, perilaku, observasi, rehabilitasi, dan habitat dilakukan maka satwa siap untuk dilepasliarkan,” lanjut Thomas.

Program pelepasliaran satwa liar kali ini dilakukan terhadap lima ekor Elang tikus (Elanus caeruleus) yang diserahkan oleh Balai Gakkum pada 30 Januari 2020, dua elang Bondol (Haliastur indus) dari hasil patroli Tim WRU BBKSDA Sulsel terhadap peredaran TSL  tanggal 27 Maret 2019, dan satu ekor elang Paria (Milvus migrans) sebanyak 1 (satu) ekor dari hasil patroli Tim WRU BBKSDA Sulsel pada 13 Januari 2020.

_______________________________________________________________

Baca juga: Rumah Elang Flores di Taman Nasional Tambora

_______________________________________________________________

Selain elang, dilepas pula tiga ekor ular sanca kembang (Python reticulatus) dari  serahan TNI AL Marinir Makassar di kantor BBKSDA Sulawesi Selatan pada 9 April 2020  dan serahan masyarakat di perumahan Villa Permata Makassar pada 20 Maret 2020. Seekor buaya muara (Crocodylus porosus) yang dilepas merupakan hasil evakuasi Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan di Pare-Pare pada 15 Mei 2020.

Pelepasliaran elang dilaksanakan di Minasa te’ne Kabupaten Pangkep. Pada hari yang sama, tiga ekor sanca kembang dilepas di  Karaenta Kabupaten Maros, Rabu (20/5/2020). Kedua lokasi pelepasliaram merupakan areal Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Sementara pelepasliaran buaya dilakukan di kawasan hutan lindung, muara sungai Malili, dusun Ussu, Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur, Jumat (15/5/2020)

Proses panjang pelepasliaran satwa liar tersebut bertujuan untuk menstabilkan populasi satwa liar di alam dan juga sebagai bentuk pernyataan politis dan pendidikan yang kuat terhadap kesejahteraan satwa liar dan promosi nilai-nilai konservasi lokal.

“Satwa liar yang dilepaskan merupakan satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan keberadaannya di alam diperlukan sebagai pengatur ekosistem kawasan konservasi,” tegas Thomas.

Ancaman terhadap berbagai jenis satwa liar tidak hanya muncul dari penurunan populasi dan aspek ekologi sebuah kawasan, tetapi juga menurunnya tingkat apresiasi masyarakat terhadap satwa yang tidak melihat dan memperhatikan nilai dan peran penting satwa liar di alam sebagai pengatur keseimbangan ekosistem.

_______________________________________________________________

Baca juga: Kakak Tua Langka 'Nyasar' ke Hotel

_______________________________________________________________

Rendahnya tingkat reproduksi satwa liar serta tingginya tingkat perburuan liar menjadi faktor utama penurunan populasi satwa liar di alam.

“Dengan adanya pelepasliaran diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai penting keberadaan satwa liar dan habitatnya bagi lingkungan dan kehidupan di masa yang akan datang dalam mengatur keseimbangan ekosistem sebuah kawasan,” jelasnya.

Kegiatan pelepasliaran 12 satwa dilindungi ini merupakan bagian peringatan Hari Keanekaragaman Hayati 22 Mei 2020 dan Semangat Kebangkitan Nasional di tengah pandemi Covid19.

Pada kegiatan ini hadir Kaseksi SPTN Wilayah I TN Bantimurung  Bulusaraung, Iqbal,  S.Hut.MP.,  Teknis BBKSDA Sulsel,  Ir. Anis Suratin,  Kabag TU Ellyyana Said,  Kasi P3, Yusry. SP, MPP., Lurah Biraeng,  Komandan Rayon Mileter Minasa tene, Kepala Lingkungan  Belae dan TIm WRU BBKSDA Sulsel serta masyarakat sekitar.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR