Selasa, 31 Maret 2020
News & Nature
Konservasi

Akhirnya, Sugeng dan Wilujeng Menikmati Kebebasan

Minggu, 22 Maret 2020

Dirjen KSDAE, Wiranto dorong keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi satwa dan habitatnya

Akhirnya, Sugeng dan Wilujeng Menikmati Kebebasan
ksdae.menlhk.go.id

KULONPROGO – Sugeng dan Wilujeng akhirnya bisa menikmati kebebasannya di alam liar  kawasan hutan Jatimulyo, Yogyakarta. Pelepasan sepasang burung elang ular bido (Spilornis cheela) ini dilakukan di Puncak Gondang, Sabtu (21/3/2020).

Sugeng dan Wilujeng adalah satwa liar yang telah masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Indonesia sendiri memiliki beberapa anak jenis Spilornis cheela, sedangkan anak jenis Spilornis cheela bido tersebar di Jawa dan Bali. 

Baca juga: Di Halimun Salak, Ular Sanca dan Kobra Dilepas

Secara simbolis, pelepasan dilakukan oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno yang didampingi Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Tandya Tjahjana dan Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Wahyudi.

Proses pelepasliaran ini, merupakan proses panjang sejak diserahterimakan dari masyarakat. “Keterlibatan banyak pihak dalam upaya konservasi satwa dan habitatnya terutama keterlibatan masyarakat sekitar, sangat diperlukan!” ujar Wiratno.

Sebelum dilepasliarkan, sepasang elang ini telah menjalani proses rehabilitasi di Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta. Elang jantan yang kemudian diberi nama Sugeng diterima YKAY pada 30 Juni 2013, diserahkan oleh warga Desa Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Sedangkan elang ular betina yang diberi nama “Wilujeng” diterima YKAY pada 23 Januari 2013 dari serahan warga melalui BKSDA Jogja.

Kedua elang ini menjalani proses habituasi di kawasan Jurang Jero Taman Nasional Gunung Merapi pada 14 Februari 2020. Tujuan habituasi ini agar kedua elang tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungan dan juga mengenal pakan alami di sekitar lokasi pelepasliaran.

Baca juga: Dara Dilepasliarkan di TN Gunung Leuser

Akan tetapi, berdasarkan pertimbangan teknis termasuk rekomendasi hasil kajian habitat dan perilaku, kemudian pada 13 Maret 2020, kedua elang tersebut ditranslokasi ke kawasan hutan Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo sebelum dilepasliarkan. 

Program pelepasliaran ini melibatkan banyak pihak diantaranya BKSDA Yogyakarta, Balai Taman Nasional Gunung Merapi, Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta, Rain (Raptor Indonesia); Pusat Konservasi Elang Kamojang, Paguyuban Pengamat Burung Jogja dan Kelampok Tani Hutan Wanapaksi Desa Jatimulyo.

Program pelepasliaran kedua elang ulara ini akan ditindaklanjuti dengan kegiatan montoring selama kurang lebih 21 hari yang dilakukan oleh para relawan dan perwakilan para pihak terkait beserta BKSDA Yogyakarta. Dilakukan pula kegiatan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat sekitar mengenai nilai penting keberadaan elang dan habitatnya, serta lingkungan pada umumnya.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR