Selasa, 31 Maret 2020
News & Nature
Konservasi

Di Halimun Salak, Ular Sanca dan Kobra Dilepas

Sabtu, 21 Maret 2020

Penguatan populasi spesies target dan upaya keseimbangan ekosistem

Di Halimun Salak, Ular Sanca dan Kobra Dilepas
ppid.menlhk.go.id

SUKABUMI – Sebanyak 23 ekor ular piton sanca dan ular kobra yang diselamatkan dari banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kamis (19/3/2020).

“Pelepasliaran merupakan bagian program penguatan konservasi in-situ, dengan mengacu ketentuan pelepasliaran guna mendukung penguatan populasi spesies target dan upaya keseimbangan ekosistem di wilayah TNGHS,” kata Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Indra Exploitasia.

Ular yang dilepaskan terdiri dari 21 Ekor ekor ular piton/sanca batik (Python reticulatus), dan 2 ekor ular cobra (Naja sputatrix). Pelepasliaran ular yang merupakan mangsa dan pemangsa (predator) di kawasan TNGHS dinilai strategis, mengingat TNGHS merupakan habitat Burung Elang Jawa sebagai satwa kunci.

Ular merupakan salah satu mangsa utama dari Burung Elang Jawa, disisi lain ular juga sebagai pemangsa dari satwa pengerat (rodentia) yang ada di TNGHS. "Kegiatan serupa akan dilaksanakan di kawasan konservasi lainnya dengan jenis-jenis satwa lainnya yang merupakan satwa asli/lokal di habitat tersebut," kata Hayati Indra.

Pelepasliaran ular tersebut dilakukan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), dan Forum Komunikasi Kader Konservasi (FK3I) Jakarta.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Ahmad Munawir, menyampaikan bahwa terpilihnya kawasan TNGHS sebagai tempat pelepasliaran 23 jenis ular ini, didasarkan atas hasil kajian daya dukung habitat. “Juga pertimbangan sosial, seperti jarak dari pemukiman penduduk, yang dilakukan oleh BTNGHS dan mitra,” kata Ahmad.

Balai KSDA Jakarta selaku pengelola Pusat Penyelematan Satwa (PPS) dan Wildlife Rescue Unit (WRU) sangat membutuhkan dukungan dari para pihak dalam melakukan upaya penyelamatan satwa, rehabilitasi, habituasi, dan terutama kerjasama penyediaan lokasi pelepasliaran satwa seperti kawasan TNGHS.

Kegiatan pelepasliaran ini tidak melibatkan banyak orang, dengan pertimbangan pencegahan Covid-19. Pesan edukasi terhadap upaya pelepasliaran satwa liar di habitatnya, dilakukan melalui pesan singkat SMS, dan Whatsapp Broadcast di wilayah area Seksi Pengelolaan TN Wilayah I Lebak-TNGHS.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR