Minggu, 8 Desember 2019
News & Nature
Konservasi

BKSDA Kalteng Selamatkan Orangutan di Perkebunan

Senin, 2 Desember 2019

Bersama OF-UK Indonesia

BKSDA Kalteng Selamatkan Orangutan di Perkebunan
bksda kalteng
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng bersama OF-UK Indonesia melakukan penyelamatan orangutan di Desa Parang Batang, Kecamatan Hanau Kabupaten Seruyan, Sabtu (30/11/2019).

Pangkalan Bun -- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng bersama OF-UK Indonesia melakukan penyelamatan orangutan di Desa Parang Batang, Kecamatan Hanau Kabupaten Seruyan. Penyelamatan dilakukan berdasarkan laporan yang diterima BKSDA Kalteng pada Sabtu (30/11/2019) pukul 16.33 WIB melalui layanan Quick Response.  

Randi An Nur, warga Desa Parang Batang, Kecamatan Hanau Kabupaten Seruyan melaporkan kepada BKSDA Kalteng bahwa dia menemukan orangutan yang masuk ke perkebunan sawit milik warga. Orangutan ini pertama kali diketahui keberadaannya oleh anjing milik salah seorang warga yang sedang bekerja di perkebunan sawit yang berbatasan langsung dengan PT. Wanasawit Subur Lestari pada hari Sabtu (30/11/2009) pukul 09.30 WIB.  Anjing milik warga terus-menerus menggonggong di sekitar kebun tempat orangutan berada.  Pemilik anjing yang curiga karena anjingnya yang terus menyalak, segera menghampiri anjingnya dan terlihat ada satu individu orangutan yang terduduk di tanah.

Baca Juga: Drama Penyelamatan Orangutan di Lokasi Karhutla

Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalteng berangkat bersama dengan Tim Rescue OF-UK Indonesia menuju lokasi dengan menempuh perjalanan selama tiga jam. Pada pukul 20.30 WIB Tim WRU BKSDA Kalteng dan Tim Rescue OF-UK Indonesia tiba di lokasi dan menjumpai orangutan dalam keadaan lemah, bahkan ia hanya mampu berpindah sejauh satu meter saja ketika tim rescue mencoba mendekatinya.  Melihat keadaan orangutan yang demikian lemah, tanpa membuang waktu, Tim WRU BKSDA Kalteng dan Tim Rescue OF-UK Indonesia segera melakukan evakuasi. Pada pukul 21.00 WIB orangutan berhasil dievakuasi ke tempat terbuka untuk kemudian diperiksa.

Saat pemeriksaan fisik berlangsung, teraba adanya satu peluru senapan angin di pipi kiri, dua peluru di pipi kanan, dan satu peluru di pinggul kanan.  Selain luka akibat peluru senapan angin, terdapat juga luka sobek besar dibagian pelipis kiri, dua luka lubang di belakang leher, dua luka lubang akibat peluru senapan angin yang lebih besar di siku kiri yang diperkirakan membuat tulang siku kiri remuk.  Kondisi luka-luka tersebut sudah bernanah dan mengeluarkan bau busuk yang kuat. “Saya menduga luka-luka tersebut sudah ada sejak beberapa hari yang lalu,” ujar drh. Dimas Yuzrifar.

 "Untuk penanganan medis pasca orangutan terbius, saya membersihkan luka-luka yang ada di tubuhnya dengan cairan antiseptik, agar luka tidak dihinggapi lalat.  Injeksi antibiotik juga dilakukan untuk menghambat infeksi.  Selain itu, diberikan juga injeksi vitamin agar kondisi orangutan tetap terjaga dan menghindari stress diperjalanan,” tambah drh. Dimas dalam keterangannya.

Setelah penanganan medis selesai dilakukan, orangutan dimaksukkan ke dalam kandang angkut untuk dibawa ke Pangkalan Bun. Orangutan beserta Tim WRU BKSDA Kalteng dan Tim Rescue OF-UK Indonesia tiba di Pangkalan Bun pukul 00.46 WIB. Namun, orangutan tersebut tidak dapat langsung dibawa ke kantor BKSDA dikarenakan hujan deras sehingga harus bermalam di kantor OF-UK Indonesia.  Minggu (1/12/2019), berdasarkan hasil koordinasi antara BKSDA Kalteng dan OF-UK Indonesia, orangutan berjenis kelamin jantan yang diperkirakan berumur 25 tahun dengan berat 75 kilogram tersebut dibawa ke Orangutan Care Center Quarantine (OCCQ) untuk mendapat perawatan yang intensif.

Baca Juga: Menjaga Langit Hunian Orangutan Tetap Biru

Sebagai upaya untuk menanggulangi maraknya konflik manusia dengan orangutan, Dendi Sutiadi, SH., Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Kalteng mengatakan bahwa ia akan mencoba melakukan investigasi di lapangan. “Kita akan coba koordinasi dulu dengan para pemangku kepentingan.  Kemarin, dari pihak kebun di sekitar lokasi orangutan yang diselamatkan, melaporkan adanya tanda aktifitas orangutan dalam kawasan lindung kebun miliknya." ujar Dendi.  Selanjutnya Dendi menyatakan bahwa pihak kebun juga sudah melakukan mitigasi konflik dan monitoring bersama dengan BKSDA Kalteng.  Bahkan, di dalam kebun juga sudah dipasang rambu-rambu larangan untuk tidak berburu orangutan beserta ancamannya.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR