Jumat, 15 November 2019
News & Nature
Konservasi

Mengenal Burung Isap Madu Rote, Maskot HCPSN 2019

Rabu, 6 November 2019

Spesies yang baru ditemukan peneliti LIPI tahun 2017

Mengenal Burung Isap Madu Rote, Maskot HCPSN 2019
Taufik Ismail/TN Babul
Burung Isap Madu Rote

HARI Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) diperingati setiap tanggal 5 November. Setiap peringatannya selalu mengangkat ikon tumbuhan dan satwa nusantara. Nah, pada HCPSN 2019 mengangkat burung isap madu rote dan pohon saninten (Castanopsisargentea) sebagai maskotnya.

Dalam laporan Taufik Ismail dari Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, burung isap madu memiliki nama ilmiah Myzomelairianawidodoe. Burung pengisap madu ini belum lama ditemukan oleh peneliti biologi LIPI. Pada Okober 2017 lalu, tim peneliti mengumumkan temuan spesies baru ini dari Pulau Rote, Nusa Tengara Timur (NTT).

Baca Juga: KLHK Kenalkan Medis Konservasi Satwa Liar

Melihat namanya, rasanya tidak asing. Pemberian nama Ibu Negara atas burung ini sebagai wujud penghargaan kepada Iriana Joko Widodo yang dinilai sangat memperhatikan kehidupan burung.

Burung isap madu rote juga lebih dikenal dengan nama latin: Myzomela rote. Penampilannya cukup menarik dengan warna merah tua pada kepala. Dengan paduan hitam pada tubuh bagian atas, sayap, dan ekor menambah kharismatik tampilannya. Tak hanya itu, paruhnya berwarna hitam, kaki dan jarinya berwarna hitam dengan bantalan kuku berwarna kuning.  Tubuh bagian bawah berwarna zaitun. Iris matanya coklat gelap.

Ukurannya cukup mungil. Panjang paruh 1,79 cm. Bentangan sayap 17,2 cm, dan panjang sayap 5,8 cm. Panjang ekor 3,7 cm dengan tinggi kaki 1,67 cm, seperti dikutip darilipi.gi.id.

Habitat burung kecil berukuran panjang tubuh 11,8 cm ini di hutan, semak-semak, kebun, dan pohon yang sedang berbuah. Ia juga menyukai serangga kecil seperti laba-laba. 

Baca Juga: KLHK Gelar Kehati Expo di Lapangan Banteng

Mengapa burung bersuara merdu saat terbang ini tidak masuk family Nectarinidae? Padahal secara fisik serta menyukai nektar dan serangga. Rumahkolibri.com melangsir bahwa burung ini tak bisa masuk Nectarinidae karena perilaku mereka berbeda. Salah satu contohnya dari perilaku membuat sarang. Burung madu membuat sarang berbentuk kantung yang menggantung. Perilaku Myzomela sendiri membuat sarang seperti mangkuk layaknya burung lain.

Burung iriana ini masuk dalam keluarga Meliphagidae di mana semua jenisnya merupakan burung dilindungi. Ancaman burung ini cukup tinggi, karenanya para peneliti merekomendasikan agar IUCN (Badan Konservasi Dunia) agar memasukkannya dalam kategori rentan/ vurnerable.

Baca Juga: KLHK Ajak Masyarakat Peduli Fauna

Burung dengan bobot sekitar 32,23 gram ini sangat terancam di habitat alaminya. Kerusakan habitat dan alih fungsi lahan menjadi ancaman serius keberadaannya. Lebih terancam lagi karena Pulau Rote yang tak begitu luas dan tidak terdapat kawasan lindung. (Taufik/TN Babul)*

 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR