Selasa, 10 Desember 2019
News & Nature
Konservasi

BKSDA Kalsel Kembalikan Burung Berkicau ke Alam

Senin, 16 September 2019

Hasil penyitaan dari pelaku perdagangan satwa ilegal

BKSDA Kalsel Kembalikan Burung Berkicau ke Alam
ksdae.menlhk.go.id
BKSDA Kalsel Kembalikan Burung Berkicau ke Alam

Banjarmasin -- Untuk menjaga populasi burung di habitat alami, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan kembali melakukan pelepasan burung ke alam. Pelepasliaran dilakukan dalam dua tahap. 

Tahap pertama, 13 September 2019, 11 ekor perkutut putih (Geopelia striata) dilepaskan di hutan Arboretum Balai Penelitian Pengembangan dan Inovasi (Balitbang) KLHK Banjarbaru. Areal hutan Arboretum Balitbang KLHK, dengan luas kurang lebih 5 hektare adalah habitat alami dari 20 jenis burung liar termasuk perkutut. Dalam pelepasliaran tahap pertama ini antara lain dihadiri Suwandi, S.Hut., MA (BKSDA Kalsel), Dra. Lilis Kurniati (Badan Litbang dan Inovasi), Lulus Riyanto, SIP (Balai Karantina  Banjarmasin) dan staf.

Baca Juga: SKW 2 Terima Kukang dari Masyarakat

Pelepasliaran tahap kedua dilakukan pada Minggu (15/9/2019). Sebanyak 138 ekor burung yuhina Kalimantan (Staphida everetti) dilepaskan di areal hutan Batalyon Yonif 623. Areal hutan Yonif 623 dengan luas mencapai 40 Ha diyakini mampu memberikan ruang bagi perkembangbiakan burung ke depan. Pelepasan burung tahap kedua dilakukan oleh Anditya Yudha E.P., SE (Yonif 623), Jarot Jaka Mulyono (BKSDA Kalsel) dan beberapa staf.

Kegiatan pelepasliaran burung ini merupakan tindak lanjut dari penyitaan oleh Kepolisian Pelabuhan Trisakti Banjarmasin dan Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin terhadap seorang pengedar satwa liar ilegal dari Surabaya, Rabu (11/9/2019) dan Jumat (13/9/2019). Dari penyitaan terdapat jenis dilindungi berupa 2 ekor elang bondol (Haliastur indus), 2 ekor elang brontok (Nisaetus cirhatus), dan 2 ekor elang hitam (Ictinaetus malayensis) yang semuanya masih berupa anakan. Kelima ekor burung ini sementara dirawat di kandang transit dan akan dilepaskan ke alam saat telah dewasa.

Baca Juga: BKSDA Kalsel Terima Penyerahan Owa Owa

Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Mahrus Aryadi, menjelaskan, kegiatan penyitaan burung oleh petugas dilakukan karena pelaku melanggar hukum yaitu membawa satwa liar tanpa dokumen. Para pelaku akan diancam dengan sanksi pidana 5 tahun dan denda 100 juta. Harapannya sanksi tersebut dapat memberikan efek jera dan dapat menekan kejahatan satwa kedepannya. 

"Kegiatan pelepasan satwa kembali ke alam, diharapkan mampu memberikan kontribusi positif dalam menjaga dan mempertahankan populasi burung-burung berkicau di habitat alami, sehingga terhindar dari ancaman kepunahan. Kami berterima kasih kepada para pihak yang menghubungi BKSDA Kalsel untuk penyitaan dan pelepas-liaran ini," katanya.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR