Selasa, 10 Desember 2019
News & Nature
Konservasi

BKSDA Yogyakarta Intip Potensi Kawasan Bunder

Sabtu, 7 September 2019

Pengembangkan edu ekowisata

BKSDA Yogyakarta Intip Potensi Kawasan Bunder
BKSDA Yogyakarta
Kepala BKSDA Yogyakarta, M. Wahyudi beserta rombongan mengunjungi Wanagama dan SFF Bunder, Selasa (3/9/2019)

Yogyakarta -- Aktivitas konservasi di kawasan Bunder, Gunungkidul dilaksanakan oleh beberapa pihak. Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) yang mengelola hutan pendidikan Wanagama, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DI Yogyakarta sebagai pengelola Tahura Bunder dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta yang memanfaatkan sebagian lahan Tahura Bunder sebagai Stasiun Flora Fauna (SFF) yang ditujukan untuk kegiatan penyediaan indukan rusa dan penyelamatan satwa.

Untuk melihat lebih dekat menggenai kawasan Bunder, Kepala BKSDA Yogyakarta, M. Wahyudi beserta rombongan mengunjungi Wanagama dan SFF Bunder, Selasa (3/9/19). Wahyudi bersama Direktur Wanagama, Priono dan pengelola Wanagama meninjau beberapa fasilitas seperti Museum Kayu, Wanagama Paksi, dan peninjauan lokasi potensial yang dapat dikembangkan sebagai edu ekowisata forest, serta melihat ketersediaan sarpras pendukung yang sudah ada di Wanagama. Setelah selesai mengunjungi Wanagama, Kepala Balai KSDA Yogyakarta bersama Polhut dan PEH BKSDA Yogyakarta melanjutkan meninjau fasilitas di SFF Bunder yang lokasinya tidak jauh dari Wanagama tersebut.

Baca Juga: BKSDA Yogyakarta Tertibkan Kepemilikan Satwa Liar

Hasil kunjungan lapangan di Wanagama selanjutnya ditindaklanjuti dengan audiensi bersama Fakultas Kehutanan UGM dan BKSDA Yogyakarta, Kamis (5/9/2019). Dalam audiensi tersebut dibahas mengenai kerjasama antara Ditjen KSDAE dan Fakultas Kehutanan UGM serta pembahasan pengelolaan Wanagama dan SFF Bunder.
 
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Budiadi menyampaikan mengenai kerjasama yang dilakukan Fakultas Kehutanan UGM dengan BKSDA Yogyakarta. “Perlu untuk mencermati kembali bentuk kerjasama yang dilakukan dan butir-butir kerjasama yang disepakati yang tentunya berlandaskan pada peraturan perundangan yang berlaku. Perjanjian kerjasama ini harus clear and clean untuk menghindari timbulnya permasalahan di kemudian hari.  Terkait pengembangan obyek daya tarik wisata alam di Wanagama dari sisi hukumnya perlu dipayungi dengan mekanisme yang jelas dan transparan dan dari sisi sosialnya diharapkan dapat melibatkan masyarakat lokal yang selama ini banyak bergantung dari Wanagama,” katanya.


 
Kepala BKSDA Yogyakarta menyampaikan pandangannya terhadap pengelolaan Wanagama. “Wanagama ini cukup potensial untuk dikembangkan menjadi edu ekowisata dengan mengangkat budaya lokal dan nusantara. Bisa juga mengangkat kuliner lokal dan ekonomi lokal yang berbasis ekologi dan riset,” kata Wahyudi. 
 
Sementara itu, untuk pengembangan SFF Bunder akan diproyeksikan selain sebagai stock center rusa juga sebagai pusat penyelamatan berbagai jenis satwa liar. “SFF Bunder akan kita tata kembali, saat ini kita sedang siapkan dokumen Road Map SFF Bunder yang nantinya bisa menjadi arahan pelaksanaan kegiatan di Bunder. Beberapa kali kita evakuasi buaya tetapi belum siap sarprasnya. Nanti kita coba buat kandang reptil, dibuat juga dome untuk aves kecil,klinik satwa beserta fasilitasnya. Selanjutnya untuk mendukung sarana edukasi, rencana ke depan akan dibuat pusat informasi di kawasan SFF Bunder, ada juga pusat pengolahan limbah dan kandang karantina," kata Wahyudi. 

Baca Juga: BKSDA Yogyakarta Anjangsana ke Desa Ramah Burung

Harapan ke depan, BKSDA Yogyakarta dan Fakultas Kehutanan UGM dapat menjadi  inisiator pengelolaan wisata alam dan edukasi dalam segitiga emas di Kabupaten Gunungkidul yang meliput Wanagama- Tahura Bunder dan SFF Bunder. 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR