Senin, 9 Desember 2019
News & Nature
Konservasi

TNBNW Teken Kerjasama Kemitraan Konservasi

Jumat, 6 September 2019

Dengan lima kelompok masayarakat sekitar kawasan

TNBNW Teken Kerjasama Kemitraan Konservasi
ksdae.menlhk.go.id
Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) mendatangani perjanjian kerjasama kemitraan konservasi dengan 5 kelompok masyarakat konservasi yang berada di sekitar kawasan, Kamis (5/9/2019)

Kotamobagu -- Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) mendatangani perjanjian kerjasama kemitraan konservasi dengan 5 kelompok masyarakat konservasi yang berada di sekitar kawasan, Kamis (5/9/2019). 

Kerjasama kemitraan konservasi yang dilakukan untuk pemulihan ekosistem ini merupakan salah satu bentuk penguatan fungsi kawasan. Meskipun sebelumnya telah dilakukan dengan beberapa kelompok masyarakat, kerjasama kali ini merupakan upaya pemberdayaan masyarakat.  

Baca Juga: Polisi Kehutanan TNBNW Terus Berinovasi

Penandatangan kerjasama merupakan tindak lanjut dari Surat Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor S. 631/KSDAE/KK/KSA.1/8/2019 tanggal 23 Agustus 2019 perihal Persetujuan Kerja Sama Kemitraan Konservasi dalam rangka Pemulihan Ekosistem di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Kerjasama yang akan berlangsung selama 5 tahun ini melibatkan 5 kelompok masyarakat yaitu Kelompok Buana Hijau Desa Mengkang, Kelompok Lestari Desa Kinomaligan, Kelompok Boliogot Desa Doloduo Dua, Kelompok Gunung Lanying Desa Werdhi Agung Selatan dan Kelompok Podarwis Desa Poduwoma, dengan jumlah anggota secara keseluruhan 116 orang dan luasan areal kemitraan 147,50 hektar.

Baca Juga: Ramadan, Kelompok Lestari Tanam Pohon di TNBNW

Dalam sambutannya, Kepala Balai TNBNW, drh. Supriyanto menyampaikan, kerjasama kemitraan konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem ini menjadi salah satu solusi yang ditempuh dalam menyelesaikan masalah keterlanjuran pemanfaatan kawasan di TNBNW.  Harapannya, kerjasama ini dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya penjagaan dan pengelolaan kawasan TNBNW, dengan tidak lagi menambah areal untuk berkebun di dalam kawasan, namun menjaganya dengan melakukan penanaman tanaman kayu dan nonkayu seperti cempaka, nantu, pala dan kemiri.

Dengan kerjasama ini pula diharapkan apa yang dilakukan oleh kelompok masyarakat ke depannya dapat memberikan hasil yang optimal. Tidak hanya bagi kawasan TNBNW namun juga bagi kelompok masyarakat itu sendiri yaitu dengan memanfaatkan hasil hutan nonkayu sebagai alternatif dalam menambah penghasilan/pendapatan masyarakat.

Baca Juga: TNBNW dan 2 Kelompok Masyarakat Teken Kerjasama

Sebagaimana analisis dari masyarakat yang sudah menanam kemiri bahwa dalam setahun dapat menghasilkan sekitar 100 – 200 kg per pohon, yang jika dihitung dengan harga terendah saat ini sekitar Rp. 6.000 per kg dapat menghasilkan Rp. 600.000 – 1.200.000 per pohon per tahun.  Dapat dibayangkan jika setiap orang menanam sekitar minimal 50 pohon.

Di akhir sambutannya Kepala Balai menyampaikan agar kelompok masyarakat dapat menyusun teknis pelaksanaan kegiatan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) sebagai tindak lanjut dari kerjasama  ini.  Disamping itu diharapkan pula kepada Kepala Desa agar dapat bersama-sama melakukan penjagaan kawasan termasuk pencegahan kebakaran hutan maupun penambahan luas perambahan kawasan.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR