Senin, 27 Januari 2020
News & Nature
Konservasi

Tajudin Sang Penangkar Kupu-Kupu di TN Babul

Senin, 2 September 2019

Disambangi dan diapresiasi Kepala Balai

Tajudin Sang Penangkar Kupu-Kupu di TN Babul
Taufik, Balai TN Bantimurung Bulusaraung (TN Babul)
Tajudin Perintis Penangkaran Kupu-Kupu

KEPAKAN sayap warna–warni tampak samar–samar dari balik jaring hitam. Kuning, coklat, oranye, hitam, dan biru, padauan warna sayap kupu-kupu menghiasi penangkaran. Tajuddin adalah pemilik penangkaran kupu-kupu ini. Ia tampak sibuk menyiangi rerumputan yang tumbuh liar. Sesekali ia memindahkan beberapa lembar daun untuk pakan ulat pada keranjang sederhana di rak. Begitulah kesibukan penangkar ini saat kami berkunjung.

Pagi itu, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, bersama rombongannya menyambangi penangkaran milik seorang masyarakat di Dusun Samanggi Desa Samangki, Simbang, Maros. Desa ini termasuk salah satu desa penyangga taman nasional. Beberapa pengendali ekosistem hutan, staf perencanaan, personil SPTN Wilayah II, dan Kepala Resor Bantimurung mendampingi kepala balai. Saya pun turut serta dalam rombongan. Kunjungan itu berlansung pada minggu pertama Mei 2018.

Baca Juga: Kupu-kupu Dongkrak Daya Tarik Wisata TN Babul

Tajuddin dengan senang menyambut kedatangan kami. “Mari silakan. Selamat datang di penangkaran sederhana kami,” sambutnya. 

Tajuddin juga seorang pedagang pengumpul kupu-kupu. Untuk memenuhi permintaan pasar akan awetan kupu–kupu, ia juga mendirikan penangkaran. Setakat kini ia sedang dalam proses mengajukan izin penangkaran kupu-kupu ke Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan. 

Tak kurang dua puluh tahun, ia telah berkecimbung di dunia kupu–kupu. Ia pernah menjadi penangkap, menjajakan langsung souvenirnya ke wisatawan hingga saat ini memiliki penangkaran sendiri.

“Rasanya baru kemarin saya berburu kupu–kupu ke semak–semak di bawah tebing karst,” kilahnya mengenang masa lalu. “Dulu tahun 1990-an saat musim kupu-kupu kita tak perlu jauh menjelajah mencari, cukup di pekarangan rumah. Kupu–kupu berdatangan mengisap bunga,” tambahnya. 

Ia merinci bahwa musim kupu-kupu adalah musim pancaroba. Utamanya dari musim kemarau ke musim hujan. Kemudian berlanjut selama beberapa bulan di musim penghujan.

Sekarang ini, ia memperhatikan kupu–kupu yang jumlahnya kian hari makin berkurang. Karenanya setelah berkeliling ke beberapa daerah dan banyak belajar cara budidaya makhluk bersayap cantik ini, ia memutuskan membangun penangkaran. Selain karena permintaan pasar souvenir yang terus membaik, penangkaran ini juga sebagai wahana belajar bagi kalangan siswa.

Baca Juga: Nikmati Panorama Bulu Tombolo & Kupu-kupu TN Babul

Ia kemudian berkisah tentang riwayat menangkar yang ia lakoni. “Tahun 1998 saya dapat bantuan penangkaran dari BKSDA Sulawesi Selatan. Waktu itu zamannya Pak Baharuddin, Kepala Seksinya,” tuturnya. 

Setelah beberapa tahun kandang penangkarannya mulai rusak. Ia kemudian vakum beberapa tahun. Namun semangat untuk mendirikan penangkaran terus menghantuinya. 

Hingga kemudian di tahun 2000-an, ia berhasil mendirikan sebuah penangkaran yang sangat sederhana. Ukuranya hanya sekitar 9 x 4 meter persegi. Tiangnya terbuat dari kayu. Melalui penangkaran itu, ia dengan bangga menceritakan keberhasilan seorang siswa SLTP yang membuat karya tulis tentang metamorfosis kupu-kupu dari hasil pengamatan di penangkaran miliknya.  “Dia juara satu penulisan karya tulis tingkat nasional. Acaranya digelar di Bali waktu itu,” dengan bangga ia berceloteh.

Saat ini Tajuddin telah membangun penangkaran yang cukup besar dan lebih representatif. “Penangkaran ini saya bangun pertengahan tahun 2017 lalu,” dengan sumringah ia bercerita.

Selain memiliki penangkaran, pecinta kupu-kupu ini juga menanam beberapa pakan ulat (larva) di pekarangan rumahnya. “Saya tanam sirih hutan sebagai pagar hidup. Kemudian kupu-kupu Troides mulai datang bertelur hingga nantinya menjadi kupu-kupu,” tuturnya. Sirih hutan (Aristolachia tagala) adalah pakan ulat untuk jenis kupu-kupu dari genus Troides. Ada empat jenis kupu-kupu dari genus Troides:T. helena, T. haliphron, dan T. hypolitus. Ketiganya adalah jenis kupu-kupu yang dilindungi. Jenis keempat adalah T. celebensis, namun jenis jarang dijumpai. 

T. celebensis merupakan jenis yang unik. “Kupu-kupu ini merupakan hasil hibrid antara T. helena dan T. haliphron. Saat Wallace mengunjungi Maros pada tahun 1957, ia mendapatkan beberapa spesimen dari jenis ini,” tutur Kamajaya, Pengendali Ekosistem Hutan taman nasional.

Baca Juga: TN Babul Kembangkan Kawasan Wisata Leang Londrong

Dengan menanam pakan larva kupu-kupu ini maka memancing kupu-kupu untuk meletakkan telurnya. Karena kupu–kupu betina hanya akan meletakkan telurnya pada pakan larvanya. Pada beberapa kejadian sering juga sang betina meletakkan telur pada daun atau benda-benda di sekitar pakan larvanya kelak. Telur kupu-kupu berbentuk bulat hingga lonjong. Telur kupu-kupu biasanya diletakkan di balik daun.

Telur yang diletakkan tersebut kemudian berubah menjadi ulat. Masa ini pada jenis troides berlangsung ..... hari. Selang 2 minggu ulat ini akan berubah menjadi pra-pupa. Hanya dua sampai tiga hari pada masa pra pupa ini. selanjutnya akan berubah menjadi pupa atau kepompong. Kepompong umumnya berumur 2 minggu atau lebih. Hingga akhirnya keluar lah kupu-kupu dewasa dari kepompong ini. begitulah metamorfosis kupu-kupu. Metamorfosis itu sering Tajuddin saksikan langsung di pagar hidup miliknya.

Aktivitas budidaya melalui pembesaran kupu-kupu di sekitar habitat alaminya dikenal dengan istilah ranching. Aktivitas seperti ini dapat menjadi solusi untuk menjamin ketersedian kupu-kupu untuk tujuan pemanfaatan komersial. “Cara ini belum banyak dilakukan oleh masyarakat sekitar sini. Padahal cukup mudah dan hasilnya lumayan,” ujarnya saat memperlihatkan kepompong yang menggantung di pagar hidup depan rumahnya. 

Selama di sana saya mengelilingi penangkaran ini, dengan mudah saya menjumpai tahapan metamorfosis kupu-kupu secara lengkap. Mulai dari telur, ulat, pra pupa, pupa hingga kupu-kupu dewasa.

Baca Juga: Satu Abad Tata Kelola Bantimurung

Kepala balai taman nasional ini memberikan motivasi untuk terus mengembangkan usaha penangkaran kupu-kupu ini. “Penangkaran Bapak ini sangat menarik. Kami bangga dengan semangat Bapak yang begitu peduli dengan kelestarian kupu-kupu di sekitar Bantimurung ini,” ucap Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, sembari menepuk bahu sang penangkar.

Pada sela-sela perbincangan hangat itu, Tajuddin sesekali menunjukkan keperihatinannya akan kelestarian kupu-kupu. “Kupu–kupu di Kawasan Wisata Bantimurung sebenarnya tidak berkurang. Mereka hanya tak singgah. Mengapa! Karena wisatawan yang begitu ramai. Yang kedua adalah pakannya mulai berkurang. Di mana-mana sudah dibeton. Jadinya mereka berpindah ke daerah lain.”

Bapak tiga anak ini juga mengisahkan kearifan lokal yang dimilikinya. Saban waktu jika sempat dia menjelajah ke dalam hutan mencari pakan kupu-kupu. Umumnya pakan kupu-kupu adalah tanaman merambat. Namun tak jarang juga berupa daun dari pohon berkayu. Terkadang ia menemukan jenis ulat kupu-kupu jenis baru. 

“Jika begitu saya mengambil ulat atau kepompong beserta daun tempat ia hinggap. Jika tiba waktunya, kepompong itu akan menetas menjadi kupu-kupu dewasa. Maka ketahuanlah jenis kupu-kupu dan pakan ulatnya.” Dari sana lah ia kemudian memperbanyak pakan kupu-kupu tersebut kemudian ia tanam di dalam penangkaran miliknya.

Baca Juga: TN Babul Mencari Solusi Penanganan Keterlanjuran

Saat ini Tajuddin memiliki dua jenis pakan baru yang belum ia ketahui namanya secara detail. Salah satunya baru sebatas nama lokal. Adalah abballung adalah nama lokal tanaman perdu untuk pakan Yomasabina. Satunya adalah tanaman merambat untuk pakan ulat untuk jenis kupu-kupu Ideablancardi dan Danausgenutia yang belum ia ketahui namanya.

Pihak Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mengapresiasi keinginan belajar ketua forum pelestari kupu-kupu ini. Seorang pengendali ekosistem hutan yang ikut dalam rombongan berjanji akan membantunya mengidentifikasi tanaman pakan tersebut. “Kami akan coba bantu untuk megidentifikasi tanaman pakan kupu-kupu ini. Termasuk sebarannya,” kilah Kamajaya Shagir.

Saat ini penangkaran miliknya sudah mampu menangkarkan tak kurang dari 12 jenis kupu-kupu. Jumlah jenis itu akan terus bertambah seiring pakan baru yang terus dicarinya. Hanya saja begitu jika ditanya jumlah kupu-kupu yang telah ditangkarkan, ia akan kewalahan menjawabnya. Hal ini dikarenakan tak ada rekam jejak kupu-kupu yang ditangkarkan secara administrasi.  
“Ke depan perlu dibukukan berapa input dan outputkupu-kupu yang ditangkarkan. Kami akan rancang format untuk dipedomani,” ujar Mansur, Pengendali Ekosistem Hutan.

Forum Pelestari Kupu-kupu

Sejak tahun 2011 Tajuddin juga aktif menjadi anggotanya dalam “Forum Pelestari Kupu-Kupu”. Awal pembentukannya difasilitasi olehPusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sulawesi Maluku. Anggota forum ini berasal dari unsur masyarakat di sekitar Kawasan Wisata Bantimurung. Anggotanya terdiri dari kepala desa, guru-guru, pelaku pemanfaat awetan kupu-kupu, hingga petugas Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Pada perkembangannya, Tajuddin, diangkat menjadi ketua forum menggantikan Kepala Desa Samangki yang menjadi ketua pertama saat dibentuk.  

Baca Juga: TN Babul Latih Kelompok Tani Hutan Patanyamang

Forum ini memiliki visi untuk menjaga kelestarian kupu-kupu di sekitar Bantimurung. Salah satu upaya adalah dengan mendirikan penangkaran dan sejumlah program lainnya. Forum ini telah membangun sebuah unit penangkaran dengan ukuran 5x10 meter persegi dan sebuah pondok metamorfosis. Mereka menangkarkan kupu-kupu dari genus Troides dan Papilio. 
Program lain yang pernah dijalankan forum ini adalah pelatihan souvenir kupu-kupu dari bulu ayam di tahun 2014. 

Hanya saja belakangan ini kurang berkiprah. Anggotanya yang sebagian besar adalah pelaku usaha di sekitar Kawasan Wisata Bantimurung sibuk dengan urusan masing-masing. Pun begitu Tajuddin terus berkarya dengan segala keterbatasan. Ia terus membenahi pangkalan forumnya yang berada di kompleks Sanggar Kegiatan Belajar Bantimurung.

Tajuddin banyak belajar dari forum ini. Ia mengalami bagaimana sulitnya mengatur anggota untuk aktif. Belum lagi sumber pendanaan yang minim, belum lagi kurangnya perhatian dan pendampingan dari intansi pencetus forum ini. ”Tapi itu tidak jadi masalah bagi saya. Dari forum ini saya banyak belajar bagaimana menangkarkan kupu-kupu” tegasnya. 
Terus berkarya Pak Tajuddin demi kelestarian maskot Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan kebanggaan masyarakat Maros.
 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR