Senin, 9 Desember 2019
News & Nature
Konservasi

TNAL Serahkan Burung Endemik ke BKSDA Maluku

Selasa, 18 September 2018

Sebanyak 7 ekor paruh bengkok

TNAL Serahkan Burung Endemik ke BKSDA Maluku
ksdae.menlhk.go.id
Sebanyak 7 ekor burung paruh bengkok endemik Maluku diserahkan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku (BKSDA Maluku)

Ambon -- Sebanyak 7 ekor burung paruh bengkok endemik Maluku diserahkan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku (BKSDA Maluku). Ketujuh ekor burung tersebut terdiri dari seekor kakatua koki (Cacatua galerita), 2 ekor nuri Maluku (Eos bornea), dan 4 ekor perkici pelangi (Trichoglossus haematodus). Semuanya dalam kondisi sehat. 

Penyerahan dilakukan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Weda Balai TNAL, Raduan SH dan Kepala SPTN III Subaim, Junesly F.Lilipory, S.Pi. dan diterima perwakilan BKSDA Maluku, Denny Soewarian selaku Polhut Pelaksana Lanjutan.

Baca Juga: Cegah Pengambilan Galian C dari Dalam Kawasan TNAL

Keseluruhan jenis burung yang diserahkan memiliki status dilindungi dan merupakan hasil pengamanan Polhut Balai TNAL yang bermula dari informasi masyarakat di sekitar Sofifi, tepatnya di Pelabuhan Besar Sofifi pada tahun 2017. Selanjutnya, burung diamankan di kantor Balai TNAL di Sofifi dan dirawat sekitar kurang lebih satu tahun sampai hasil pengamatan petugas teknis bahwa burung-burung tersebut siap dilepasliarkan.

Karena burung berasal dari Pulau Seram, Balai TNAL berkoordinasi dengan BKSDA Maluku untuk dilepasliarkan di habitatnya. Untuk memastikan kondisi kesehatan dan menghindari penularan penyakit, burung-burung tersebut telah diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan dari Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate. Keseluruhan burung siap untuk dilepasliarkan kembali ke alam dengan terlebih dahulu mendapatkan sertifikat kesehatan hewan dan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS-DN) dari BKSDA Maluku.

Baca Juga: TNAL Gelar Diskusi Pengelolaan ODTWA Tayawi

Pelepasliaran satwa ini harus dilakukan di habitat aslinya. Burung-burung yang memiliki wilayah persebaran di daerah tertentu, tidak boleh dilepasliarakan di daerah lain yang bukan merupakan wilayah persebaran aslinya apalagi  burung paruh bengkok endemik. Terdapat beberapa alasan untuk tidak melepasliarkan burung sembarangan diantaranya dapat menjadi target buruan, media penyebaran penyakit, menjadi spesies invasif, terjadi perkawinan silang di alam liar serta burung sulit bertahan hidup.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR