Rabu, 24 Juli 2019

Hari Hutan dan Kota Berkelanjutan

Selasa, 20 Maret 2018

Meski ada klaim perbaikan lingkungan perkotaan, tentu masih jauh dari kata ideal sesuai dengan konsep "Kota Berkelanjutan" yang diharapkan

BOLEH jadi, Maret adalah bulannya lingkungan hidup dan kehutanan (LHK). Setidaknya, ada tiga peringatan penting di bulan ini yang sangat identik dengan LHK. Pertama, Hari Bakti Rimbawan (16 Maret), Hari Hutan Internasional (21 Maret) dan Hari Bumi Sedunia (22 Maret).

Berbeda dengan Hari Bakti Rimbawan yang subjeknya hanya aktivis kehutanan Indonesia, terutama yang berada di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Hari Hutan Internasional dan Hari Bumi Sedunia lebih bersifat global lantaran menuntut dedikasi seluruh penghuni bumi untuk menjaga keberlangsungannya.

Hari Hutan Internasional ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi Nomor 67/200 tahun 2012. Sedangkan di Indonesia, Hari Hutan Internasional baru diperingati secara rutin sejak tahun 2014. Tahun ini, Hari Hutan Internasional mengusung tema "Forests and Sustainable Cities" alias "Hutan dan Kota Berkelanjutan".

Hmmm, kenapa harus kota yang harus jadi fokus perhatian di Hari Hutan Internasional?

Boleh jadi, ini pertimbangannya. Berdasarakan Revision of World Urbanization Prospects yang dirilis PBB pada 2014 disebutkan, sebanyak 54% warga dunia berada di perkotaan. Jumlah tersebut diperkirakan bakal menembus angka 80% di tahun 2050.

Masuk akal. Faktanya, kota masih menjadi magnet kuat bagi penduduk dunia untuk didatangi, bahkan ditinggali. Selain itu, deru pembangunan, terutama di negara-negara berkembang, termasuk kota-kota baru, tidak bisa dipungkiri bakal menggerus keberadaan hutan-hutan di wilayahnya masing-masing.    

Bagaimana kondisi di Indonesia? Setali tiga uang. Dalam sebuah workshops di pengujung tahun 2015, Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dr. A. Hermanto Dardak menyebutkan, kondisi real urbanisasi di Indonesia meningkat 6 kali lipat dalam 4 dekade terakhir. Menurutnya, urbanisasi dan daya dukung kota yang terus menurun telah menimbulkan dampak negatif bagi perkotaan, mulai dari masalah sosial, kawasan kumuh, anjloknya kualitas lingkungan serta kemacetan kota.

UN Habitat mendefinisikan sustainable cities sebagai kota yang dalam pembangunan di bidang sosial, ekonomi dan fisiknya dilakukan untuk jangka waktu yang lama dengan mempertimbangkan pasokan sumber daya alam yang terus menerus dengan memperhatikan daya dukung, daya tampung serta kelestariannya. Terkait konsep "Sustainable Cities" ini, kemudian populer istilah Green City dan Smart City.

Menyadari situasi tersebut, KLHK sebagai wakil pemerintah yang bertanggung jawab atas kelestarian lingkungan hidup dan kehutanan pun mulai menggeserkan perhatian ke perkotaan. Persoalan sampah dan limbah, ruang terbuka hijau, hutan kota, dan polusi menjadi fokus atensi KLHK di perkotaan.

Soal sampah, gerakan Tiga Bulan Bersih Sampah (TBBS) melalui tagline #BersihBisaKok terus digelorakan di berbagai kota di Tanah Air. Bukan hanya sampah di daratan, tapi juga di sungai dan laut, seperti aksi pengangkutan puluhan ton sampah di Muara Angke yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Soal ruang terbuka hijau dan hutan kota, KLHK juga menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang bertujuan menumbuhkan kesadaran publik tentang pentingnya keberadaan semua jenis hutan dan pohon di luar hutan. Menteri LHK, Siti Nurbaya tidak segan-segan terjun langsung memimpin kampanye penanaman pohon untuk menambah ruang terbuka hijau di perkotaan.

Hasilnya? Meski ada klaim sudah terlihatnya perbaikan lingkungan perkotaan, tentu masih jauh dari kata ideal sesuai dengan konsep "Kota Berkelanjutan" yang diharapkan. Fakta di lapangan menunjukkan, pekerjaan besar masih harus dihadapi, bukan hanya pemerintah yang dalam hal ini KLHK, tapi juga seluruh stakeholder dan masyarakat untuk mengatasi kompleksitas persoalan lingkungan hidup, termasuk di perkotaan.

Selamat Hari Hutan Internasional... 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR