Kamis, 23 Mei 2019

Hutan, Alam dan Generasi Milenial

Selasa, 13 Maret 2018

Perhatian besar generasi milenial pada isu lingkungan hidup dan kehutanan, merupakan berkah sekaligus tantangan

 

MUNGKIN seperti dua dunia berbeda, atau setidaknya berjarak cukup jauh, untuk menyandingkan antara hutan dan alam dengan generasi milenial yang identik dengan gawai dan segala hal yang berbau teknologi digital.

Namun, benarkah dengan segala kemudahan yang bisa diraih dalam ketuk jari dan jempol, isu hutan dan alam akan makin ditinggalkan oleh generasi #jamannow ini?  

Data-data terbaru ternyata malah menunjukkan sebaliknya. Pertama, ada data survei terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis pada 2018 baru-baru ini. Data survei sepanjang 2017 ini menunjukkan peningkatan populasi masyarakat digital yang terus berkembang pesat.

Survei 2013, yang menunjukkan angka 82 juta pengguna, telah melonjak menjadi 143,26 juta pada survei 2017– lebih dari separuh penduduk Indonesia. Kota dan desa juga telah terinvasi oleh teknologi digital ini. Lebih dari 72 persen penduduk kota, dan hampir separuh penduduk desa telah terpapar internet.

Tentu saja, populasi digital ini didominasi oleh generasi milenial dan usia produktif, dengan hanya 4,24 persen yang berusia di atas 54 tahun

Jika angka-angka itu masih belum menjawab ke mana sebenarnya bola mata dan ketuk jempol generasi milenial ditujukan, lembaran berikut dalam laporan APJII terbaru tersebut mengungkap juga kategori penggunaan internet untuk berbagai bidang, termasuk bidang sosial-politik.

Nah, ini dia. Ternyata perhatian masyarakat digital terhadap ‘berita sosial/lingkungan’ menempati peringkat teratas dengan angka 50,26 persen dalam kategori pemanfaat internet alam bidang sosial-politik. Angka ini melampaui kategori ‘baca informasi agama’ (41,55%) dan ‘politik’ (39,44%).

Bahkan sejalan dengan survei APJII tersebut, ada survei internasional yang menegaskan hal tersebut. Dalam Global Shapers Survey yang dilakukan oleh World Economic Forum selama tiga tahun berturut-turut hingga survei terakhir pada 2017, sejumlah milenial yang menjadi responden menyebut perubahan iklim adalah isu paling serius yang mempengaruhi dunia saat ini.

Bagi kita yang bergerak dalam isu lingkungan hidup dan kehutanan, tentu saja hasil survei yang dilakukan massif di seluruh Indonesia ini menjadi berita gembira. Alih-alih mungkin merasa tertinggalkan oleh gerak dinamis masyarakat digital, ternyata hutan dan alam malah mendapat sorotan terbesar.

Viralitas tinggi

Dengan populasi penduduk digital yang besar dan proporsi perhatian pada isu lingkungan hidup dan kehutanan yang signifikan, maka potensi informasi dalam isu ini menjadi perhatian yang masif dan bahkan menjadi viral menjadi besar.

Tingkat viralitas atau kemampuan isu ini dengan cepat menyebar di jejaring informasi dan komunikas digital dengan mudah bisa kita saksikan melalui contoh-contoh aktual viralnya berita, video dalam konteks lingkungan hidup dan kehutanan baru-baru ini. Ini adalah berkah sekaligus tantangan yang dihadapi oleh kita yang bergerak dalam isu lingkungan hidup dan kehutanan, untuk dapat memanfaatkan tingginya tingkat viralitas tersebut untuk bisa menyampaikan pesan dan membangun persepsi yang positif di kalangan masyarakat mengenai urgensi menjaga lingkungan hidup dan hutan yang lestari.

Dalam menghadapi tantangan ini, pemahaman mengenai perubahan lanskap media dan keragaman konten menjadi hal yang perlu dikantungi. Lanskap media yang makin terfragmentasi dan diiringi kebutuhan konten yang makin beragam, memerlukan pendekatan yang lebih personal, komunikatif dan kreatif.

Tantangan terbesar ini terutama dihadapi institusi sains dan kebijakan, dengan otoritas dan kapasitas ilmiah yang sejatinya dibutuhkan oleh masyarakat untuk menjadi referensi utama di tengah keberlimpahan – dan potensi kesimpangsiuran – informasi.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR