Senin, 27 Januari 2020
News & Nature
Inovasi

Warga Diajak Lakukan Pembibitan Berbasis Mikoriza

Minggu, 22 Desember 2019

Alih teknologi "Aplikasi Fungi Mikoriza untuk Restorasi Hutan Rawa Gambut Tropika di Kalimantan Tengah, Indonesia", di KHDTK Tumbang Nusa

Warga Diajak Lakukan Pembibitan Berbasis Mikoriza
BLI KLHK
Kegiatan alih teknologi "Aplikasi Fungi Mikoriza untuk Restorasi Hutan Rawa Gambut Tropika di Kalimantan Tengah, Indonesia", di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Palangkaraya, 18 Desember 2019

Bogor -- Untuk mendukung restorasi hutan dan gerakan pengurangan sampah plastik, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Puslitbanghutan) Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengajak warga Kalimantan Tengah melakukan kegiatan pembibitan tanaman dengan media tanam ramah lingkungan. Ajakan ini disampaikan melalui kegiatan alih teknologi "Aplikasi Fungi Mikoriza untuk Restorasi Hutan Rawa Gambut Tropika di Kalimantan Tengah, Indonesia", di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Palangkaraya, 18 Desember 2019.

"Indonesia memiliki lahan gambut hutan tropis terbesar di dunia, sehingga Indonesia perlu memberikan contoh-contoh pengelolaan gambut yang bertanggungjawab, salah satunya melalui alih teknologi ramah lingkungan utk pembibitan gambut. Jadi kegiatan restorasi jalan, konservasi berjalan, ekonomi masyarakat berjalan, maka ini adalah paket yang tidak dapat dipisahkan, dan itulah upaya yang sedang Pemerintah lakukan saat ini," tutur Kirsfianti L. Ginoga, Kepala Puslitbanghutan, saat mengawali kegiatan.

Baca Juga: BLI-PSKL Berkolaborasi Bangkitkan Persuteraan Alam

Indonesia memiliki 865 KHG (Kawasan Hidrologis Gambut), dimana beberapa diantaranya terdapat di Kabupaten Pulang Pisau. Ekosistem ini mencakup lahan gambut, kubah gambut, sungai dan beberapa lahan yang memiliki fungsi lindung maupun budidaya.

"Saat ini kita juga sedang berupaya mengurangi sampah kantong plastik, karena sampah plastik memerlukan waktu yang sangat lama untuk daur ulang, dapat mencapai 1.000 tahun, termasuk polybag plastik, dapat menyebabkan penurunan fungsi dari ekosistem gambut, sehingga mengurangi kesuburan lahan. Karena itu kita upayakan untuk seminimal mungkin menggunakan plastik, dan mari belajar bagaimana cara memanfaatkan lahan gambut tanpa polybag plastik," ajak ibu yang biasa disapa Etty ini penuh semangat.

Sebagai narasumber kegiatan, hadir peneliti Puslitbanghutan BLI KLHK yaitu Dr. Maman Turjaman dan Dr. Asep Hidayat, yang mengajarkan bagaimana cara membuat bibit pohon bermikoriza secara organik. Sebanyak 50 peserta dari Kelompok Tani Hutan di sekitar Kabupaten Pulang Pisau tampak sangat antusias mengikuti acara ini.

Saat ini Puslitbanghutan telah meneliti hampir 4.000 jenis mikroba dari jamur dan bakteri yang terdapat di seluruh Indonesia. Salah satu inovasi mikoriza ini akan diaplikasikan di KHDTK Tumbang Nusa, baik endomikoriza maupun ektomikoroza untuk mendukung upaya restorasi.

Baca Juga: Teras Inovasi Promosikan Hasil Riset KLHK

"Teknologi ini juga akan sangat bermanfaat bagi masyarakat, karena fungsi mikoriza dapat meningkatkan persen tumbuh. Selain itu, sambil menunggu panen bibit pohon, masyarakat dapat memanfaatkan panen jamur yang bernilai ekonomis," lanjut Etty.

Selain itu, Etty juga berharap masyarakat dapat berbagi pengalaman tentang penyiapan bibit di lapangan, khususnya dalam pemilihan bibit jenis pohon yang adaptif baik terhadap kekeringan, maupun yang paling diminati masyarakat. "Gambut sangat penting dalam potensi pengurangan emisi gas rumah kaca (GRk). Karena itu kita perlu menjaga gambut agar komitmen nasional terjaga dan masyarakat lokal meningkat kesejahteraannya, melalui teknologi-teknologi yang berkembang untuk menjaga gambut yang berkelanjutan," pesan Etty di akhir sambutannya.

Bekerjasama dengan The Mushroom Initiative (TMI), kegiatan tersebut juga didukung oleh Balai Penelitian dan Pengembangan LHK (BP2LHK) Banjarbaru Kalimantan Selatan, yang diwakili oleh Peneliti Muda, Purwanto Budi Santosa, sebagai pengelola KHDTK Tumbang Nusa. Pada kesempatan tersebut, Direktur TMI, Siu Han Leung, menjelaskan bahwa semua ekosistem yang ada di bumi ini saling mempengaruhi, saling terikat satu sama lain. Sehingga kerusakan hutan di satu daerah akan berdampak pada daerah lain, baik nasional maupun internasional.

"Hutan itu seperti bank atau tabungan yang akan memberi kita tiga kali lipat keuntungan, air bersih, udara segar, dan hasil hutan. Begitu pula sebaliknya, kerusakan hutan juga akan merugikan kita tiga kali lipat. Bersama kegiatan ini, kita harapkan menjadi salah satu langkah kita bersama untuk memelihara, memanfaatkan, dan menjaga hutan kita ini, yang kemudian pada akhirnya dapat menjadi investasi kita dalam mitigasi karbon. Mari saling bergandeng tangan bersama untuk kebaikan bersama, bagi kita dan generasi-generasi setelah kita," ajak Siu Han.

Baca Juga: P3H Bangun Stasiun Riset di TN Teluk Cendrawasih

Pada kesempatan yang sama, masyarakat juga diajari cara membuat kerajinan berupa wadah sapih bibit pengganti polybag, oleh pengrajin Galih Tjempaka Banjarbaru. Tidak lupa, Kepala Puslitbanghutan, Siu Han, bersama 20 pelajar SMP Satap 1 Jabiren Raya, juga melakukan penanaman 50 bibit Jelutung di kawasan KHDTK Tumbang Nusa. Selain Kalimantan Tengah, kegiatan alih teknologi ini juga telah dilakukan di Palembang, Sumatera Selatan pada tanggal 20 Desember kemarin. Selanjutnya, kegiatan yang sama akan direncanakan untuk provinsi-provinsi lainnya yang memiliki wilayah gambut.(*)

 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR