Minggu, 8 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

BP2TSTH-BTNBT Berdayakan Warga di Zona Tradisional

Jumat, 22 November 2019

Melalui pembentukan kelompok tani hutan (KTH) hingga perjanjian kerjasama

BP2TSTH-BTNBT Berdayakan Warga di Zona Tradisional
BTNBT
Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (BTNBT) kembali mengajak Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) untuk bersinergi mengelola zona tradisional

Siambul -- Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (BTNBT) kembali mengajak Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) untuk bersinergi mengelola zona tradisional. Sejak tahun 2017, BTNBT telah melakukan inisiasi kegiatan pemberdayaan masyarakat yang ada di zona ini melalui pembentukan kelompok tani hutan (KTH) hingga perjanjian kerjasama.

Pada tahun 2019 ini, pengelolaan zona tradisional dilakukan di bawah koordinasi resort Siambul SPTN Wilayah 2 Belilas Riau yang  secara administratif berada di Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kawasan zona tradisional secara vegetasi merupakan suksesi sekunder dalam bentuk perkebunan rakyat dan juga semak belukar.

Baca Juga: BP2TSTH Kuok Optimalkan Pengelolaan Datin

Kegiatan kali ini berlangsung selama delapan hari pada tanggal 4 – 12 November 2019 meliputi KTH Batu Berdiri yang beranggotakan 15 orang di Dusun Sadan, KTH Bomban Berduri di Dusun Air Bomban dengan anggota 17 orang, KTH Kasih Alam di Dusun Nunusan yang beranggotakan 26 orang dan KTH Tualang Sejahtera dengan anggota 15 orang di Dusun Tualang.  Dalam pelaksanaannya tim perlebahan yang dipimpin Syasr iJannetta, SP dan Eko Sutrisno, SP turut didampingi oleh penyuluh kehutanan BTNBT yaitu Fonda Amelia Sarah, S.Hut dan Nur Hajjah, S.Hut serta beberapa anggota polisi kehutanan di Resort Siambul.

Perjalanan ditempuh menggunakan sampan bermesin selama enam jam, ke arah hulu menyusuri Sungai Batang Gansal. “KTH yang telah dibentuk hingga tahun ketiga ini telah memiliki progres yang cukup signifikan di antaranya telah mampu memproduksi madu kelulut setahun belakangan. Padahal alih teknologi oleh tim perlebahan litbang Kuok dilakukan pada semester kedua tahun 2018. Ini artinya potensi pakan lebah di dusun – dusun tersebut sangat melimpah dan berhasilnya transfer iptek mengenai teknis budidaya lebah kelulut,” ujar Fonda Ameliasari, S.Hut.

Kepala Resort SPTN Wilayah II Siambul, Lukman Hery Prasetyo, S.Hut., M.Eng menyatakan sinergitas kegiatan dengan multipihak selalu dilakukan oleh BTNBT dalam scope pemberdayaan masyarakat lokal yang ditujukan untuk menjaga kawasan hutan konservasi. "Skema kolaboratif BTNBT dengan BP2TSTH ini secara tidak langsung mengurangi intensitas masyarakat untuk mencari nafkah di dalam kawasan,” katanya.

Paket iptek perlebahan bagi BP2TSTH memang sudah tidak asing lagi. Sejak tahun 2013 alih teknologi untuk transfer pengetahuan teknis ini hampir rutin dilakukan dengan skema kerjasama. Stakeholder yang mengundang meliputi instansi pemerintah maupun swasta dengan target peserta yang lebih variatif. Syasr iJannetta, SP mewakili tim perlebahan BP2TSTH menjelaskan, kerjasama pemberdayaan masyarakat di zona tradisional BTNBT di tahun kedua ini dilakukan dengan skema teori dan praktek yang mencakup penanganan pascapanen dan diversifikasi produk perlebahan. "Hal ini dengan pertimbangan bahwa secara teknis anggota KTH telah menguasai dan mampu memproduksi madu dari lebah kelulut sehingga dirasa pas untuk memberikan pengetahuan lainnya,” ujarnya.

Baca Juga: HAKI Pencapaian Tertinggi Para Peneliti

Pengelolaan zona tradisional BTNBT ini menjadi tantangan tersendiri dikarenakan secara sosial kultur anggota KTH di keempat dusun ini adalah Suku Talang Mamak dan Melayu Tua yang memiliki ketergantungan hidup dengan hutan yang sangat tinggi. Di sisi lain, akses yang lumayan sulit dan keterbatasan informasi dari luar membuat proses transfer knowledge membutuhkan penyederhanaan mekanisme.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR