Minggu, 8 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

Teras Inovasi Promosikan Hasil Riset KLHK

Kamis, 21 November 2019

Terletak di Kampus BLI, Gunung Batu, Bogor

Teras Inovasi Promosikan Hasil Riset KLHK
BLI KLHK
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (P3H) Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melaunching Teras Inovasi di Bogor, Kamis (21/11/2019)

Bogor -- Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (P3H) Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melaunching Teras Inovasi di Bogor, Kamis (21/11/2019). Tujuannya untuk mempromosikan berbagai hasil riset.

Kepala BLI KLHK, Agus Justianto mengungkapkan, BLI KLHK telah menghasilkan banyak inovasi. Sebut saja ulat sutera unggul, inokulan gaharu, benih unggul tanaman hutan, dan obat untuk penyakit karat puru pada tanaman sengon. Dikatakannya, inovasi tersebut perlu dipromosikan dan disebarluaskan kepada masyarakat.

Baca Juga: P3H Bangun Stasiun Riset di TN Teluk Cendrawasih

“Inovasi BLI KLHK diharapkan bisa menjadi solusi inovatif bagi masyarakat saat menghadapi tantangan pengelolaan lingkungan dan kehutanan. Masyarakat pun bisa memberi feedback yang bisa menjadi inspirasi penelitian selanjutnya,” kata Agus.

Teras Inovasi terletak di Kampus BLI, Gunung Batu, Bogor. Di lokasi itu, masyarakat bisa mengeksplorasi berbagai inovasi BLI dan berinteraksi langsung dengan para peneliti dalam diskusi yang santai namun substantif.

Agus meminta agar para para peneliti untuk terus menghasilkan inovasi yang bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Pengenalan inovasi kepada generasi milenial juga harus secara konsisten dilakukan. “Inovasi harus menjadi sebuah budaya,” katanya.

Peluncuran Teras Inovasi dihadiri Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (KLHK) Bambang Supriyanto dan Kepala Pusat Litbang Hutan Krisfianti L Ginoga. Selain peluncuran digelar diskusi tentang budidaya ulat sutera. Peneliti BLI telah menghasilkan ulat sutera dan pohon murbei sebagai pakan ulat yang unggul. Pemanfaatan inovasi itu oleh masyarakat petani mampu meningkatkan produksi kokon hingga 39% dan benang sutera yang hingga 20% sehingga impor benang sutera bisa ditekan.
 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR