Jumat, 15 November 2019
News & Nature
Inovasi

BLI Mataram Dukung Industrialisasi HHBK

Jumat, 8 November 2019

Jadi Narasumber Diklat Penyuluh Se-Provinsi NTB

BLI Mataram Dukung Industrialisasi HHBK
IST
Pelatihan “Industrialisasi Hasil Hutan Bukan Kayu”

Mataram -- Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah gencar mengembangkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) unggulan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Upaya tersebut dijalankan dengan melakukan program penanaman HHBK unggulan seperti bambu, dan pembudidayaan produk perlebahan.

Untuk mendukung suksesnya program tersebut, Badan Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Pemerintah Provinsi NTB mengadakan pelatihan dengan tema “Industrialisasi Hasil Hutan Bukan Kayu”. Pelatihan diselenggarakan untuk memberikan pembekalan kepada penyuluh dan petugas kehutanan di lapangan terhadap upaya industrialisasi HHBK. Pelatihan ini diselenggarakan selama lima hari, 4-8 November 2019. Tiga hari kegiatan dilakukan di Aula Tambora BP2SDM Provinsi NTB dan dua hari kunjungan lapangan.

Baca Juga: KLHK Dorong Usaha Kehutanan Off Farm Gunakan FDB

Pada pelatihan ini dua peneliti BPPT HHBK didaulat menjadi narasumber dengan masing-masing mengampu mata diklat analisis usaha perlebahan dan analisis usaha bambu. Materi pertama dibawakan oleh Septiantina Dyah Riendriasari, S.Hut., M.Si. sementara materi kedua diampu oleh Rubangi Al Hasan, S.Sos,. MPA.

Dalam paparannya, Septiantina Dyah Riendriasari yang kerap disapa dengan Ririn ini mengulas tentang seluk-beluk usaha beberapa jenis lebah seperti Apis cerana, Apis dorsata, Apis mellifera, dan kelulutatau dalam bahasa lokal di Lombok disebut dengan “nyanteng”. Usaha perlebahan yang sudah banyak dilakukan masyarakat selama ini adalah pemanenan madu. Berbekal thesis S2-nya yang banyak mengupas tentang persebaran dan pakan kelulut di Lombok, Ia pun mengupas panjang lebar terkait dengan prospek budidaya kelulut. Ia menegaskan bahwa usaha budidaya kelulut sangat menjanjikan. Di samping madu, kelulut juga menghasilkan propolis dan bee breadyang harganya juga sangat bagus di pasaran. “dalam enam bulan, dari satu stup petani akan mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp55.250.” tegas Ririn.Dengan memiliki 100 setup, maka dalam enam bulan petani akan mendapatkan tambahan penghasilan senilai Rp5 juta lebih, ini tentu sangat menggiurkan.

Baca Juga: Pinjaman Tunda Tebang untuk Usaha Produktif

Dalam paparannya terkait analisis usaha bambu, Rubangi Al Hasanmemaparkan tentang prospek usaha bambu yang menjanjikkan. Ia menjelaskan bahwa industri berbasis bambu memiliki peluang pasar yang sangat besar. Hasan, sapaan akrab peneliti ini menjelaskan bahwasaat ini ekspor komoditas bambu dunia dikuasai oleh negara Cina yang menguasai 65 persen ekspor bambu dunia. Adapun negara tujuan ekspor utama adalah ke Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang.  Ketiga negara dan kawasan tersebut memiliki minat yang tinggi dalam pemanfaatan bambu, khususnya untuk flooring dan furnitur.

Di dunia, Indonesia baru menguasai 8 persen atau nomor tiga di dunia dalam peringkat ekspor komoditas berbasis bambu. Dengan menampilkan studi kasus pengusahaan bambu petung (Dendrocalamus asper), Hasan meyakinkan bahwa usaha budidaya bambu jenis ini sangat menguntungkan. “Budidaya bambu petung, dalam enam tahun sudah balik modal,” tegas Hasan.

Baca Juga: Hasil Hutan Bukan Kayu Bangkitkan Ekonomi Lokal

Di samping bambu petung, bambu tabah juga memiliki prospek yang menjanjikan. Dengan mengambil studi kasus pembudidayaan petani di KHDTK Rarung, Hasan menjelaskan bahwa petani sudah dapat memanen bambu tabah mulai memasuki usia 3 tahun. Pemanenan rebung pada setiap rumpun bisa menghasilkan 30 batang dalam satu musim panen. Dan bambu ini bisa bertahan mencapai 100 tahun, bahkan lebih jika dikelola dan dirawat dengan baik.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR