Senin, 18 November 2019
News & Nature
Inovasi

BP2TSTH Kuok Optimalkan Pengelolaan Datin

Rabu, 23 Oktober 2019

Ajak Kerjasama PDDI LIPI

BP2TSTH Kuok Optimalkan Pengelolaan Datin
BP2TSTH Kuok
Sosialisasi Sistem Repositori Ilmiah Nasional (RIN) dan inisiasi kerjasama dari Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah (PDDI), LIPI yang diikuti oleh struktural dan seluruh peneliti di ruang rapat BP2TSTH Kuok, Selasa (22/10/2019)

Kuok -- Data dan informasi litbang adalah aset utama dan sangat penting bagi Badan Litbang dan Inovasi (BLI). Oleh karena itu, untuk menunjang dan mengoptimalkan kegiatan litbang, perlu adanya pengelolaan sistem datin terpadu. Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok pada kegiatan Sosialisasi Sistem Repositori Ilmiah Nasional (RIN) dan inisiasi kerjasama dari Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah (PDDI), LIPI yang diikuti oleh struktural dan seluruh peneliti di ruang rapat BP2TSTH Kuok, Selasa (22/10/2019).

“Sebenarnya ini adalah bagian dari kegiatan pengelolaan database litbang yang menjabarkan mengenai mekanisme penginputan, pemutahiran, penyimpanan dan penggunaan data sebagai dasar pengambil kebijakan. Data yang beredar di litbang dan yang dihasilkan dari APBN adalah aset tak berwujud milik Negara sehingga perlu ditata mengenai penjaminan data sebagai sebuah informasi keterbukaan publik sesuai dengan UU 14/2010,” ujar Priyo.

Baca Juga: Konsorsium Pulp dan Kertas Membangun Sinergitas

“Saat ini kendalanya adalah pengelolaan datin litbang belum optimal, khususnya pengelolaan data hasil litbang yang masih belum dikelola dengan sistem yang bagus. Apabila datin litbang dikelola dengan baik maka akan sangat bermanfaat bagi institusi maupun penelitinya,” tambahnya.

Sementara itu koordinator PUI PDDI LIPI, Wasi Prasetyo menyambut baik inisiasi sinergitas PUI LIPI dengan BP2TSTH Kuok. Wasi memaparkan mengenai sharing pemanfaatan sistem repositori ilimiah nasional di LIPI yang terdiri dari data ilmiah dan data primer riset yang dikelola dan dimanfaatkan.

“Repositori yang kami lakukan ini berdasar hukum pada Perka LIPI Nomor 12 tahun 2016 tentang Repositori dan Depositori Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan UU No 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisteknas Tahun) pada pasal 40 yang mengamatkan wajib serah dan wajib simpan atas seluruh data primer dan keluaran hasil penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan," katanya.

"Data yang dapat disimpan pada repositori berupa data angka, audio, video, bahasa pemograman dan rekaman kegiatan pendukung lainnya. Repositori sendiri adalah interpretasi manajemen open data untuk meningkatkan kualita skegiatan litbang," lanjutnya.

Baca Juga: HAKI Pencapaian Tertinggi Para Peneliti

Wasi menjelaskan, tujuan RIN ini adalah memberikan pemanfaatan SRIN (repositori dan depositori data primer hasil litbang), mengelola data dengan baik agar publikasi ilmiah dan data primer dapat dimanfaatkan dengan bijak, memberikan kesadaran bahwa open data harus dilakukan agar meningkatkan kualitas data, dan menginisiasi kerjasama terkait PUI.

Selaras dengan hal tersebut, Cahyo Trianggoro pada sesi paparan materi teknis mengatakan, publikasi data litbang adalah suatu bentuk komunikasi ilmiah yang merupakan partisipasi dalam gerakan global “open science”. Melalui kegiatan open access data hasil penelitian mampu meningkatkan 25% sitasi manuscripts atau artikel ilmiah. Di sisi lain, melalui keterbukaan publikasi dan sharing data akan meningkatkan peluang kerjasama dan sinergitas kegiatan litbang sehingga meminimalisir adanya duplikasi kegiatan litbang.

“RIN ini kami kompilasi dari beragam program dan kebijakan untuk mengantisipasi kehilangan data sebagai sebuah aset negara, meningkatkan keterbukaan peluang kerjasama dengan instansi dalam dan luar negeri dan stimulasi untuk berkarya pada kancah internasional,” paparnya antusias.

“Konsep pengelolaan data pada RIN bertujuan untuk mengantisipasi ancaman data penelitian dari bencana alam, kerusakan teknis dan ketidaktersediaan wadah penyimpanan dengan kapasitas mumpuni,” jelas Cahyo.

Baca Juga: BP2TSTH Kuok Kembangkan Biopot

“Hasil eksplorasi LIPI, perilaku peneliti terhadap data penelitiannya penyimpanan data litbang disimpan pada PC, USB, Harddisk external, Hosting data berbasis internet dan sangat minim yang menyimpan dalam repositori kelembagaan. Selain itu kebiasaan mem-backup data sangat minimalis dan cenderung kurang antisipasi resiko,” ungkap Cahyo.

“Selanjutnya, dari kalangan peneliti ada 81% peneliti yang berkeinginan untuk sharing data namun terkendala oleh manajemen waktu, kekurangan dana, tidak adanya wadah hingga ketidaktahuan manajemen data. Skema yang dipakai pada aplikasi RIN yang berbasis web ini adalah deposite data, open data dan sharing data dengan memperhartikan kepemilikan data (peneliti, lembaga afiliasi dan pemberi data). Secara singkat RIN berprinsip FAIR (Findable, Accessible, Interoperable, Reuseable),” lanjut Cahyo.

Cahyo mengingatkan, penyimpanan data (deposit data) bertujuan untuk menghindari kehilangan data dan melakukan open data dan sharing data. “Data hasil penelitian itu tidak mutlak milik peneliti, tetapi juga milik penyandang dana dan lembaga afiliasi (dalam hal ini kegiatan penelitian yang dibiayai APBN merupakan milik pemerintah). Akan ada pengaturan juga terkait lisensi data, untuk menjamin keamanan data dan menghindari penyalahgunaan data,” tutup Cahyo.

Pada akhir kegiatan. Kabalai berharap melalu iskema kolaboratif dan sinergitas PUI ini diharapkan institusi litbang semakin nyata berkontribusi untuk khasanah keilmuan guna memajukan Indonesia di bidang Iptek.

 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR