Jumat, 15 November 2019
News & Nature
Inovasi

HAKI Pencapaian Tertinggi Para Peneliti

Minggu, 13 Oktober 2019

Sosialisasi di Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan Kuok

HAKI Pencapaian Tertinggi Para Peneliti
BP2TSTH Kuok
Sosialisasi HAKI di Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok pada saat membuka Sosialisasi HaKI di ruang rapat, Kamis (9/10/2019)

Kuok -- Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) adalah pencapaian atau penghargaan tertinggi dari para peneliti baik berupa paten, hak cipta, perlindungan varietas tanaman (PVT), dan lain-lain. Hal tersebut disampaikan oleh Priyo Kusumedi, S.Hut,MP, Kepala Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok pada saat membuka Sosialisasi HaKI di ruang rapat, Kamis (9/10/2019). 

“Tantangan peneliti bukan hanya menghasilkan karya tulis ilmiah (KTI) tetapi harus bisa dihilirisasi bahkan dikomersialkan hasil litbangnya dan diproses lebih lanjut menjadi salah satu rejim HKI, contoh Ir. Jamal Balfas, M.Sc, peneliti ahli utama dari Pusat Litbang Hasil Hutan(P3HH) yang sudah dapat paten pemanfaatan limbah batang sawit untuk produk solid dan panel kayu lapis pada tahun 2011,” kata Priyo.

Baca Juga: BP2TSTH Kuok Kembangkan Biopot

Pada sesi paparan contoh, Ir. Jamal Balfas, M.Sc menjelaskan tentang definisi hak kekayaan intelektual (HaKI) yaitu hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada seseorang atau sekelompok orang untuk memegang monopoli dalam menggunakan dan mendapatkan manfaat dari kekayaan intelektual

Jamal mengatakan, yang menjadi dasar Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) adalah mewakili hasil suatu pemikiran dan kecerdasan manusia, yang dapat berbentuk penemuan, desain, seni, karya
tulis atau penerapan praktis suatu ide dan dapat mengandung nilai ekonomis, dan oleh karena itu dianggap suatu aset komersial.

“Terutama arahnya penggunaan HaKI untuk keperluan penelitian, pengembangan dan komersialisasi produk hasil litbang. Bentuk-bentuk (karya) kekayaan intelektual antara lain
berupa penemuan, desain produk, literatur, seni, pengetahuan, software, nama dan merek usaha, know-how & informasi rahasia, desain tata letak ic, danvarietas baru tanaman,” jelas Jamal.

Jamal mengatakan, lingkup perlindungan HaKI yaitu hak cipta, hak milik industri (industrial property), paten, paten sederhana, merek dan indikasi geografis, desain industri, rahasia dagang, desain tata letak sirkit terpadu, dan perlindungan varietas tanaman.

Baca Juga: Peneliti BP2TSTH Kuok Temukan Alat Uji Madu

Lebih lanjut, Jamal mengatakan, tujuan penerapan sistem  HaKI adalah untuk antisipasi kemungkinan melanggar HaKI milik pihak lain dan meningkatkan daya kompetisi dan  pangsa pasar dalam komersialisasi kekayaan intelektual.

“Namun ada konsekuensi dengan paten karena ada pemeliharaan yang tidak murah jadi ada anggaran yang harus dialokasikan pada tahun 6 dan seterusnya untuk biaya pemeliharaan. Biaya pemeliharaan tidak murah, jadi kita harus menyiapkan anggaran kalau tidak maka paten yang sudah diusulkan menjadi hangus karena tidak dipelihara,” jelas Jamal.

Biaya pemeliharan paten cukup besar yaitu total biaya pemeliharaan paten 20 tahun adalah Rp. 61.500.000,-, total biaya tiap klaim paten 20 tahun adalah Rp. 3.550.000, dan total biaya pemeliharaan 1 paten dengan 1 klaim selama 20 tahun adalah Rp. 65.050.000,-. Oleh karena itu perlu untuk menyediak ananggaran di masing-masing institusi apabila sudah mengajukan paten atau rejim HaKI lainnya.

Pada akhir diskusi, Jamal mengingatkan, yang dikejar dalam HaKI adalah nilai atau prestise. Pengajuan paten juga tidak sembarangan, kalau mengajukan topik yang kadaluarsa nanti bisa di-blacklist dan pengusulan paten akan dibuang, apabila patennya tidak berkualitas. 

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Persemaian BP2TSTH Kuok

Pada akhir diskusi, Priyo berharap pada saat penyusunan proposal litbang harus mereview status kegiatan litbang sebelumnya dan melihat posisi HaKI kegiatan litbang sebelumnya sehingga output dan outcame yang dihasilkan akan mempunyai nilai lebih bahkan mempunyai dampak yang lebih bagus, kalau bisa menghasilkan salah satu rejim HaKI karena HaKi merupakan cerminan sebuah institusi. Kalau tidak ada HaKI perlu dipertanyakan kinerja sebuah isntitusi litbang.

Ada beberapa hasil litbang di BP2TSTH Kuok yang berpeluang untuk didaftarkan HaKI-nya antara lain test kit madu, biopot, dan lain-lain yang bisa menjadi kebanggaan Badan Litbang dan Inovasi.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR