Sabtu, 7 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

P3H Bangun Stasiun Riset di TN Teluk Cendrawasih

Sabtu, 12 Oktober 2019

Untuk Mendukung Pengelolaan TN Teluk Cenderawasih

P3H Bangun Stasiun Riset di TN Teluk Cendrawasih
P3H
Penandatangan kerjasama

Bogor -- Besarnya sumber daya yang dimiliki Taman Nasional (TN) tidak hanya menjadikan keberadaannya sangat penting sebagai kawasan konservasi. Namun, hal itu juga sebagai sumber ilmu pengetahuan untuk menunjang pengambilan kebijakan.

Menyadari hal ini, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (P3H) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pembangunan Stasiun Riset untuk Mendukung Pengelolaan TN Teluk Cenderawasih bersama para pihak. "Stasiun riset di taman nasional menjadi suatu kebutuhan untuk meningkatkan fungsi dan manfaat taman nasional sebagai laboratorium alam, sumber data dan IPTEK, dan memanfaatkan hasil riset sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan untuk pengelolaan yang berkelanjutan," tutur Kepala Puslitbanghutan, Kirsfianti L. Ginoga, saat membuka FGD, Kamis (10/10/2019).  

Baca Juga: Butuh Kerja Keras Perbaiki Kerusakan Lingkungan

Dalam periode 2015-2019, P3H mendapatkan amanah untuk mengawal pembentukan Stasiun Riset di 13 Taman Nasional yaitu TN Gunung Halimun Salak, TN Baluran, TN Ujung Kulon, TN Merbabu, TN Bromo Tengger Semeru, TN Gunung Rinjani, TN Bantimurung Bulusaraung, TN Way Kambas, TN Sebangau, TN Bogani Nani Wartabone, TN Bunaken dan TN Bukit Barisan Selatan, dan TN Teluk Cenderawasih. Keseluruhan TN ini  memiliki kekhasan biofisik dan sosial ekonomi serta mewakili bioregion di Indonesia. 

FGD ini diharapkan dapat mengevaluasi pengembangan pusat penelitian di beberapa TN yang sudah dibangun, seperti yang baru saja dicanangkan di TN Baluran, Baluran Research Center (BRC) bekerja sama dengan Copenhagen Zoo.  TN Teluk Cenderawasih dalam rencana pengelolaannya, diharapkan dapat membangun sistem database dan informasi pengetahuan untuk manajemen yang handal, serta membentuk kelembagaan penelitian, untuk pendidikan dan pengembangan IPTEK konservasi.

Bekerja sama dengan Balai Besar TN Teluk Cenderawasih dan Balai TN Baluran, kegiatan FGD juga meliputi isu-isu penting, antara lain efektifitas pengelolaan kawasan konservasi (KK), kerentanan keanekaragaman hayati (kehati), koridor KK dan High Conservation Value Forest (HCVF), perlindungan dan pengamanan kehati, serta peningkatan peran serta dan pemberdayaan masyarakat.

Mendukung hal tersebut, menurut Kirsfianti, pengembangan stasiun riset di TN Teluk Cenderawasih perlu disertai pelaksanaan penelitian yang sesuai dengan status dan prioritas, serta didukung kelembagaan yang profesional, dan Standar Operatonal Procedure (SOP), seperti SOP pendanaan, SOP Pengumpulan dan Pemanfaatan Data, SOP Pengembangan Hasil Penelitian. 

Baca Juga: Solusi Inovatif untuk Hutan Lestari

TN Teluk Cenderawasih seluas 1.453.500 ha ini memiliki nilai jasa lingkungan yang tinggi sebagai penyangga kehidupan bagi masyarakat, terutama masyarakat pesisir. Keunikan sejarah geologis dan osenografisnya yang menyebabkan Teluk Cendrawasih mengalami proses isolasi yang berulang ulang, sehingga menjadikannya sebagai pusat bagi beragam spesies endemik salah satunya Hiu paus (Rhincodon typus).

Pada kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan Deklarasi Pengelolaan Stasiun Riset Kehati Terintegrasi antara Kepala P3H, Kepala BBTN Teluk Cendrawasih, Kepala BTN Baluran, Kepala BP2LHK Manokwari, dan Copenhagen Zoo. Acara FGD ini juga dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Alas Purwo, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Tujuh Belas Agustus, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Situbondo, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Banyuwangi, serta Kepala Dinas Peternakan Situbondo. Sehari sebelumnya juga dilakukan kegiatan peletakan batu pertama untuk pembangunan BRC di TN Baluran. 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR