Sabtu, 7 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

BP2TSTH Kuok Kembangkan Biopot

Kamis, 3 Oktober 2019

Pengganti Plastik Polybag untuk pembibitan tanaman

BP2TSTH Kuok Kembangkan Biopot
BP2TSTH Kuok
BP2TSTH  Kuok mengembangkan Biodegradable Pot  (Biopot) bibit tanaman kehutanan

Kuok -- Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH)  Kuok mengembangkan Biodegradable Pot  (Biopot) bibit tanaman kehutanan yang berasal dari pemanfaatan limbah lignoselulosa seperti limbah industri penggergajian, pemanenan hutan tanaman industri (HTI), produksi pabrik kelapa sawit (PKS) dan rumah tangga.

Inovasi ini menggunakan limbah pemanenan HTI, industri penggergajian atau tandan kosong kelapa sawit sebagai komponen utama pembuatan biopot. Selain itu, sumber serat lain yang dapat digunakan sebagai bahan baku biopot adalah seperti limbah kertas atau karton yang sehari hari mudah ditemui di rumah tangga.

Baca Juga: Peneliti BP2TSTH Kuok Temukan Alat Uji Madu

Proses pembuatannya relatif mudah, dimulai dengan penguraian bahan baku menjadi serat. Selanjutnya, seluruh bahan dicampurkan dengan persentse kelarutan tertentu (menyesuaikan dengan ketebalan yang dikehendaki). Kemudian dicetak sesuai dengan ukuran pot yang dikehendaki menggunakan mesin vacumm lalu dicoating dengan larutan berbahan dasar dari limbah sarang lebah.

Kegiatan riset ini, dimulai dilakukan pada tahun 2012 oleh BP2TSTH untuk menghasilkan biodegradable pot (biopot) yang praktis, ramah lingkungan dan bisa menjadi sumber hara bagi tanaman.

Tiga tahun belakangan, kegiatan litbang ini berkonsentrasi pada pengembangan biopot agar lebih ekonomis dan praktis serta simulasi produksi massal dalam skema usaha kecil menengah (UKM) sebagai usaha alternatif masyarakat desa.

Proses panjang ini telah menghasilkan inovasi untuk menggantikan plastik polybag yang dinilai tidak ramah lingkungan dan diperlukan waktu yang lama untuk dapat terdekomposisi sempurna di alam.

Baca Juga: Potensi Budidaya Lebah Madu di Indragiri Hilir

Secara teknis, biopot yang dihasilkan oleh tim peneliti BP2TSTH mampu bertahan selama 6-12 bulan di persemaian yang setiap hari disiram dan terdekomposisi sempurna didalam tanah dalam jangka waktu dua tahunan.nBiopot ini juga mampu menyumbang hara makro (resources) ke tanah dan atau tanaman, kemampuannya melepaskan unsur N (~1 %), unsur P (~0.1 %) dan unsur K (~0.05  %).

Dari aspek analisis finansial, yiatu dari aspek benefit and cost ratio (B/C ratio), biopot ini mendapatka angka 1.04 yang artinya inovasi ini layak untuk diusakan oleh masyarakat sekitara kawasan hutan. Sedangkan dari kalkulasi biaya sementara yang dibutuhkan untuk produksi semi massal, berdasarkan hasil analisis finansial sekitar Rp. 958,-/biopot dan masih dilakukan pengembangan untuk dapat mencapai harga Rp. 100,-/biopot.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Persemaian BP2TSTH Kuok

Diharapkan biopot ini bisa diaplikasikan pada skala industri kecil menengah dan mampu menjadi percontohan untuk implementasi 3R (Reduce, Recycle, Reuse).  Dengan konsep yang mengacu pada realitas sosial atau konsep pemberdayaan (empowerment), biopot ini diharapkan mampu menjadi salah satu bentuk kampaye penyelamatan lingkungan berbasis pembardayaan masyarakat serta secara tidak langsung sebagai alternatif mata pencaharian untuk kesejahteraan masyarakat disekitar kawasan hutan.

Inovasi ini selaras dengan program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengendalikan sampah plastik di Indonesia. Menurut data Kemeterian LHK, timbunan sampah di Indonesia secara nasional sebesar 175.000 ton per hari dengan komposisi sampah organik (sisa makanan dan tumbuh-tumbuhan) 50%, plastik 15%, kertas 10% dan sampah lain-lainnya sebesar 25%.

Baca Juga: BP2TSTH Sosialisasikan Peduli Hutan & Lingkungan

Oleh karena itu, dapat dikalkulasi jumlah sampah plastik yang dibuang ke planet bumi oleh masyarakat Indonesia setiap hari sekitar 26.250 ton, dan menempati urutan kedua dunia sebagai penghasil sampah plastik yang terbuang kelautan.

Di sektor kehutanan, kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan plastik dan berpotensi menjadi sampah plastik dalam kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Menurut Dirjen PDASHL Kementerian LHK target yang dicanangkan dalam kegiatan rehabilitasi lahan dan hutan sekitar 1,1 juta ha setiap tahun.

Baca Juga: BP2TSTH Kuok Kembalikan Fungsi KHDTK Kepau Jaya

Dari luasan tersebut, kebutuhan bibit tanaman yang harus disiapkan untuk bahan tanaman di lapangan sekitar 440 juta bibit (1 ha diperlukan 400 tanaman). Pengadaan atau pembuatn bibit tanaman untuk memenuhi kebutuhan tersebut masih menggunakan plastik polybag sebagai wadah media tanam dalam persemaiannya.

Penggunaan plastik polybag tersebut sekali pakai dan menjadi sampah plastik yang jumlahnya mencapai 880 ton/tahun (1 kg berisi 500 lembar polybag). Hal ini akan menimbulkan masalah tersendiri dikarenakan sifat bahan plastik yang digunakan menjadi polybag sulit diurai secara alami. Selain itu, dalam proses pengeluran bibit dari polybag seringkali menimbulkan kerusakan dan gangguan fisiologis pada akar bibit tanaman dan berpengaruh pada proses adaptasi atau survival rate dan pertumbuhan tanaman di lapangan.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR