Senin, 9 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

Butuh Kerja Keras Perbaiki Kerusakan Lingkungan

Selasa, 3 September 2019

Bedah Buku “Telaah Mendalam tentang Bioremediasi, Teori dan Aplikasinya dalam upaya Konservasi Tanah dan Air”

Butuh Kerja Keras Perbaiki Kerusakan Lingkungan
puslitbang.or.id
Bedah Buku “Telaah Mendalam tentang Bioremediasi, Teori dan Aplikasinya dalam upaya Konservasi Tanah dan Air”

Bogor -- Bedah Buku “Telaah Mendalam tentang Bioremediasi, Teori dan Aplikasinya dalam upaya Konservasi Tanah dan Air” diselenggarakan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (P3H) di Open Campus Day Badan Litbang dan Inovasi (BLI), 30 Agustus 2019. Even ini merupakan rangkaian kegiatan Inafor Expo yang berlangsung di Kampus Badan Litbang dan Inovasi (BLI). 

Kerusakan lingkungan sebagian besar (>75%) terjadi karena ulah manusia. Sedangkan sisanya akibat fenomena alam seperti erupsi. Sengaja atau tidak, aktivitas manusia telah mendorong lingkungan menjadi rusak. Lingkungan menjadi tidak normal atau bahkan berbahaya bagi makhluk yang mendiaminya.

Baca Juga: Solusi Inovatif untuk Hutan Lestari

Hal tersebut disampaikan Prof. (Ris) Chairil Anwar Siregar salah satu penulis buku “Telaah Mendalam tentang Bioremediasi, Teori dan Aplikasinya dalam upaya Konservasi Tanah dan Air” dalam pengantar acara bedah buku.

Perlu kerja keras dan bukan perkara yang mudah untuk mengembalikan lingkungan yang sudah rusak. Untuk itu, dibutuhkan waktu, tenaga, biaya, ilmu, komitmen, dan konsistensi seluruh stakeholder dalam mengembalikannya.

Baca Juga: Iptek untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

Asep Hidayat, S.Hut., M.Agr., Ph.D yang juga penulis buku tersebut, dalam paparannya menyampaikan gambaran lebih detail tentang isi bukunya yaitu peran mikroba dalam mengurai limbah senyawa organik, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya, serta teknik-teknik bioremediasi apa saja yang dapat diaplikasikan; Status riset pengurai senyawa organik, seperti pada minyak mentah, zat pewarna, dan senyawa berklorinasi yang dimainkan oleh mikroba; aplikasi bioremediasi pada kasus minyak mentah di Indonesia; dan peraturan yang mengatur dan kasus-kasus yang terjadi selama aplikasinya.

“Bioremediasi lahir dengan sebuah pendekatan bahwa sebuah penguaraian atau dekomposisi limbah secara alami terjadi karena peran dari mikroba. Meskipun bioremediasi bukan satu-satunya cara untuk pemulihan lingkungan tercemar, namun bioremediasi adalah metode yang ramah lingkungan, murah, sederhana, dan lebih diterima oleh masyarakat dibandingkan dengan metode lainnya,” tegasnya.

Baca Juga: Perhutanan Sosial Solusi Pemulihan Ekosistem Hutan

Sebagai upaya tindaklanjut Asep menyampaikan bahwa lingkungan tercemar harus dipulihkan dengan metode yang benar, jauh dari hasil yang menyimpang dan berbiaya murah. Peraturan, Kepmen LH 128/2003 perlu dikaji ulang untuk mempertajam substansi proses pengolahan, metode analisa dan memperkecil dampak negatif akhir hasil pengolahan.

Sebagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab atas regulasi, perlu didukung oleh sumberdaya manusia yang memiliki dasar keilmuan bioremedasi yang cukup, berintegritas moral tinggi, cakap, jujur dan bertanggung jawab. Objek target pencemar perlu diperluas, tidak hanya untuk minyak mentah namun untuk jenis pencemar lainnya seperti POP berklorinasi, zat pewarna dan lain-lain. Upaya pemulihan lingkungan tercemar yang dilimpahkan ke pihak ke-3, perlu dilakukan kajian. Bioremediasi terlihat sangat mudah dan sederhana, namun dasar keilmuan bioremediasi sangat multidisplin yang mencakup mikrobiologis, ilmu lingkungan, ilmu tanah, kimia analisis, geologis dan arsitektur. Setiap bidang keilmuan tersebut harus terdistribusi di dalam personalia pihak ke-3. Lebih jauh dari itu mereka harus meliliki spesifikasi bidang pekerjaan bioremediasi yang telah teruji dan memiliki sertifikat," tutup Asep.

Baca Juga: Peneliti Kehutanan Indonesia Gelar Konferensi

Sementara itu, Dr. Dede Heri Yuli Yanto Peneliti Pusat Penelitian Biomaterial – LIPI sebagai narasumber menyampaikan bahwa secara umum buku “Telaah Mendalam tentang Bioremediasi, Teori dan Aplikasinya dalam upaya Konservasi Tanah dan air” berbeda dengan buku “Bioremediasi” yang telah ada sebelumnya. Pembahasan yang cukup lengkap dengan menguraikan perspektif teori bioremediasi hingga aplikasinya di Indonesia. pembahasan bioremediasi fraksi minyak mentah yang mendetail dan pembahasan bioremediasi senyawaan pewarna dan berklorinasi lengkap disajikan dalam buku ini.

Namun sebagai peningkatan kedepan, buku ini perlu dilengkapi dengan pembahasan Teknik Analisa TPH , fraksi minyak mentah dan hasil degradasinya termasuk untuk dyes dan POPs. Bahkan setelah ini dapat membuka peluang untuk penulisan buku selanjutnya yaitu “prospek perkembangan teknologi” yang belum dibahas secara rinci," ungkap Dede.

Baca Juga: BLI KLHK dan CIFOR Inisiasi Paradigma Baru Litbang

Dengan dipandu Bagja Hidayat dari Media TEMPO sebagai moderator, diskusi  bedah buku ini berlangsung sangat atraktif. Sebanyak kurang lebih 60 peserta hadir dalam acara ini, yang terdiri dari para pelajar, mahasiswa, peneliti, komunitas, dan praktisi lingkungan. Antusiasme peserta terhadap Bioremediasi juga terlihat dengan banyaknya tanggapan saat acara diskusi berlangsung.
 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR