Sabtu, 7 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

KLHK Punya Tiga Profesor Riset Baru

Senin, 22 Juli 2019

Hendra Gunawan menjadi peneliti Macan Tutul Jawa pertama di Indonesia yang menjadi Profesor Riset

KLHK Punya Tiga Profesor Riset Baru
ppid.menlhk.go.id
Pengukuhan Profesor Riset ini dilakukan di Auditorium Soedjarwo, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (22/7/2019)

Jakarta -- Tiga Peneliti dari Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK dikukuhkan sebagai Profesor Riset baru. Mereka adalah Hendra Gunawan dan Raden Garsetiasih dari bidang konservasi keanekaragaman hayati, dan Sri Suharti dari bidang ekonomi sosial kehutanan. Pengukuhan Profesor Riset ini dilakukan di Auditorium Soedjarwo, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (22/7/2019).

Bambang Hendroyono mewakili Menteri LHK dalam Pengukuhan Profesor Riset ini, dalam sambutannya membacakan sambutan Menteri LHK ditekankan bahwa Peneliti KLHK dituntut untuk mampu beradaptasi dan memegang peranan yang penting di dalam kemajuan IPTEK. Peneliti KLHK tidak boleh tertinggal dengan negara maju dan negara berkembang lainnya di dalam pengembangan IPTEK dan harus mampu menjadi pemain pertama dan utama di dalam setiap perkembangan IPTEK di dunia.

Baca Juga: Giatkan Penelitian, KLHK Tambah Dua Profesor Riset

"Peneliti harus mampu menjadi problem solver atas permasalahan yang berkembang di masyarakat sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Disamping itu, Peneliti harus mampu menjadi pakar atau spesialis di bidangnya dan mampu mengembangkan jejaring penelitian dan kerjasama baik di level nasional maupun internasional. Hal ini merupakan satu tonggak penting dari upaya menjadikan peneliti BLI sebagai salah satu ujung tombak dari penguatan IPTEK di lingkungan KLHK," ujar Bambang membacakan Sambutan Menteri LHK.

Kemudian pada orasi ilmiah masing-masing Profesor Riset yang dikukuhkan, Hendra Gunawan tercatat menjadi peneliti Macan Tutul Jawa pertama di Indonesia yang menjadi Profesor Riset. Orasi ilmiahnya dalam pengukuhannya sebagai Profesor Riset berjudul "Inovasi Konservasi Habitat Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) di Lanskap Hutan Terfragmentasi". Orasi ilmiah dari pria kelahiran Banjarnegara 55 tahun silam ini menjelaskan tentang perlunya inovasi dalam konservasi habitat Macan Tutul Jawa menghadapi fragmentasi hutan di Pulau Jawa yang semakin tinggi.

"Fragmentasi hutan menyebabkan meningkatnya efek tepi pada habitat Macan Tutul Jawa, padahal Macan Tutul Jawa merupakan satwa interior yang mengambil jarak dari tepi habitat sejauh 500 sampai 1500 meter. Hal ini berarti fragmentasi hutan menyebabkan luasan habitat efektif Macan Tutul Jawa menjadi berkurang," ujar Profesor Riset Hendra.

Profesor Riset Hendra pun menambahkan jika hutan yang terfragmentasi atau telah dipotong-potong oleh jalan, perkebunan dan lahan pertanian berarti telah memotong daerah jelajah satwa. Hal tersebut menyebabkan satwa-satwa terpaksa melintasi jalan raya, permukiman, lahan perkebunan dan ladang masyarakat untuk jelajah hariannya dalam mencari makan atau mencari pasangan kawin. Di saat satwa-satwa terebut melintasi jalan, permukiman, perkebunan atau lahan pertanian, dapat terjadi insiden/konflik manusia dengan satwa, misalnya satwa merusak dan memakan tanaman, atau bahkan menyerang manusia dan memangsa ternak. 

Baca Juga: Pembangunan Nasional Harus Berbasis Hasil Riset

Sebelum dikukuhkan, Profesor Riset Hendra merupakan Peneliti Ahli Utama di BLI KLHK. Beliau telah menghasilkan 127 karya tulis ilmiah (KTI) diterbitkan diantaranya adalah 28 Buku, 71 karya tulis populer dan tidak diterbitkan, 16 Hak Kekayaan Intelektual (Hak cipta buku), dan Penghargaan MURI untuk Kurikulum dan buku-buku Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove yang disusun bersama Tim.

Berikutnya Sri Suharti dalam pengukuhan Profesor Risetnya melakukan orasi ilmiah dengan judul "Kebijakan Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat: Dari Partisipasi Menuju Inklusi". Orasi ilmiah tersebut disampaikan wanita kelahiran Yogyakarta 57 tahun silam ini menekankan pentingnya kebijakan inklusi dalam Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat alih-alih hanya kebijakan partisipatif. 

“Implementasi kebijakan inklusif, akan membuka peluang bagi lebih banyak masyarakat untuk dapat menikmati manfaat pembangunan, khususnya pada kelompok marginal yang hidupnya sangat bergantung pada sumberdaya hutan”, jelas Profesor Riset Suharti.

Profesor Riset Suharti juga menjelaskan jika partisipasi dan inklusi adalah dua hal yang berbeda. Partisipasi merupakan keterlibatan masyarakat dalam implementasi suatu kebijakan. Inklusi satu langkah lebih maju dari partisipasi, karena merupakan upaya terus-menerus untuk melibatkan masyarakat termasuk juga komunitas marginal dalam menentukan proses penyusunan dan isi suatu program kebijakan serta mengadaptasinya jika diperlukan.

Baca Juga: BLI KLHK Dukung Revisi UU Sisnas Iptek

Sebelum dikukuhkan, Profesor Riset Suharti merupakan Peneliti Ahli Utama bidang Ekonomi dan Sosial Kehutanan di Pusat Litbang Hutan BLI KLHK, beliau telah menghasilkan 79 karya tulis ilmiah dan 36 publikasi, serta aktif berkiprah sebagai tim riset kerja sama dengan berbagai instansi seperti ICRAF, KIPCCF, KOICA, ITTO, Waseda University, MIE University, ICBG, dan AFoCO.

Yang terakhir adalah Raden Garsetiasih, dalam pengukuhan Profesor Risetnya melakukan orasi ilmiah dengan judul “Resolusi Konflik Manusia Dengan Satwa Liar Melalui Pengelolaan Kolaboratif”. Wanita yang lahir di Purwakarta 56 tahun yang lalu ini, menyampaikan hasil kajiannya yang mencakup perkembangan resolusi konflik antara manusia dengan satwa liar, faktor-faktor penyebab, dampak, strategi implementasi, dan kelembagaan serta implikasi kebijakan.

"Dalam meminimalisasi konflik manusia dengan satwa liar diperlukan sistem pengelolaan secara kolaboratif, yang selain mempertimbangkan aspek ekologi, juga aspek sosial, budaya dan ekonomi masyarakat sekitar hutan," ujar Profesor Riset Garsetiasih.

Profesor Riset Garsetiarsih juga menjelaskan terkait strategi implementasi resolusi konflik secara kolaboratif, yaitu melalui konservasi in situ (pembinaan habitat alaminya), konservasi ex situ (penangkaran), serta pengembangan ekowisata satwa liar dan ekosistemnya. Disebutkan jika strategi konservasi in situ khususnya untuk satwa liar mamalia besar seperti gajah, perlu dilakukan pengelolaan berdasarkan tata ruang kawasan, pembangunan koridor atau stepping stone, pengayaan jenis-jenis pakan, pengendalian spesies invasif dan lain sebagainya. 

Baca Juga: BLI KLHK Selenggarakan Diskusi Penerapan REDD+

Sementara itu jika dilakukan konservasi ex situ maka diarahkan untuk jenis-jenis satwa yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai sumber protein hewani dengan melibatkan masyarakat dalam pelaksanaannya. Selanjutnya untuk strategi pengembangan ekowisata dapat dilakukan secara terpadu baik untuk satwa liar maupun ekosistemnya dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan dalam pelaksanaannya. 

Sebelum dikukuhkan, Profesor Riset Garsetiasih adalah Peneliti Ahli Utama bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati di Pusat Litbang Hutan BLI KLHK, ibu satu anak yang akrab dipanggil Tia ini, telah menghasilkan 74 karya tulis ilmiah dalam bentuk buku, jurnal, prosiding, dan makalah, serta aktif sebagai anggota Asia Pasific Forest Invasive Species dan anggota Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo).

Sampai saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki 24 Profesor Riset termasuk dalam pengukuhan hari ini, dengan jumlah Profesor Riset aktif 13 orang, sisanya
telah pensiun dari keseluruhan peneliti lingkup Badan Litbang dan Inovasi sebanyak 472 peneliti. 

Acara Pengukuhan Profesor Riset ini dihadiri oleh Wakil Kepala LIPI, Pejabat Eselon I KLHK, Pejabat Eselon I LIPI, Majelis Profesor Riset, Jajaran BLI KLHK, Para Peneliti BLI KLHK, Kepala UPT Direktorat Jenderal KSDAE, dan Mitra LSM.(*)
 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR