Sabtu, 7 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

BLI KLHK Perkuat Kerjasama dengan AFoCO & DLH NTT

Jumat, 19 Juli 2019

Pengelolaan hutan berbasis masyarakat

BLI KLHK Perkuat Kerjasama dengan AFoCO & DLH NTT
puslitbanghut.org
Pusat Penelitian Pengembangan Hutan (P3H), Badan Litbang Inovasi KLHK, memperkuat kerjasama dengan Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) dan Dinas LHK Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kabupaten Sikka

Bogor -- Keberhasilan pengelolaan hutan berbasis masyarakat perlu didukung melalui upaya peningkatan kapasitas masyarakat dan keterlibatan semua pihak, termasuk pemerintah daerah. Mendukung hal tersebut, Pusat Penelitian Pengembangan Hutan (P3H), Badan Litbang Inovasi KLHK, memperkuat kerjasama dengan Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) dan Dinas LHK Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kabupaten Sikka.

"Sejalan dengan konteks global dan prioritas nasional, kegiatan kerjasama dilakukan di tiga lokasi percontohan (pilot site) yaitu Hutan Kemasyarakatan Tuar Tana di Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Sikka (NTT), Hutan Nagari Paru di KPHL Sijunjung (Sumatera Barat), dan Kemitraan kehutanan Cempaka di KPHL Batutegi (Lampung), dengan mengacu pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs)," jelas Kirsfianti L. Ginoga, Kepala P3H saat menghadiri pembahasan kerjasama, mewakili Kepala BLI KLHK, di Kantor Dinas LHK NTT, Kupang (18/07/2019).

Dirinya juga menambahkan, upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia dan membangun sinergi dengan berbagai pihak, menjadi unsur yang penting dalam kerjasama ini, sehingga kegiatan ini harus dilakukan secara kontinu, agar pengetahuan yang sudah ada bisa berkembang di masyarakat.

"Dalam hal kolaborasi dan sinergitas kegiatan, pemda diharapkan dapat memberi jaminan mengenai pengolahan potensi dan pemasaran produk, antara lain dengan melibatkan BUMD, koperasi, perdagangan dan bumdes. Adapun untuk pengembangan komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) tidak perlu banyak, akan tetapi fokus pada beberapa komoditi saja, ditangani dari hulu sampai hilir agar tuntas," tegas Kirsfianti.

Sebagaimana diketahui, keberhasilan pengelolaan hutan berbasis masyarakat menjadi salah satu target dalam kerangka AFoCO Regional Project Component 3, yaitu Facilitating the Participatory Planning of Community-Based Forest Management Using Geographic Information System (GIS) and Remote Sensing (RS) Technologies in Forest Resources Management in the Philippines, Indonesia, and Thailand.

Kedepannya, Kirsfianti berharap kegiatan kerjasama AFoCO ini dapat ditindaklanjuti oleh Pemda, sehingga kemampuan yang telah diberikan, dan kesiapan masyarakat bisa terfasilitasi untuk jadi model yang bisa ditingkatkan, dan direplikasi di tempat lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Dinas LHK Provinsi NTT, Yandri Lasi, menyampaikan apresiasi atas fasilitasi yang diberikan oleh P3H dan AFoCO, untuk peningkatan kapasitas kelompok masyarakat pengelola Hutan Kemasyarakatan Tuar Tana di KPHL Sikka, dan wilayah NTT lainnya.

"Sebanyak 70 % desa di wilayah NTT berada di sekitar areal hutan, dan hal ini membutuhkan kemampuan masyarakat dalam mengelola hutan dengan baik, sehingga hutan lestari, dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai," ujar Yandi, mewakili Kepala Dinas LHK Provinsi NTT.

Sementara itu, Koordinator AFoCO Regional Project Component 3, Dona Octavia, menyampaikan bahwa, di tahun 2019 sebagai tahun terakhir kerjasama sejak 2015, akan mengutamakan penggunaan Sistem Informasi Geografis (GIS) dan Penginderaan Jauh (RS), dalam perencanaan pengelolaan hutan.

Selain itu, Dona menambahkan, saat ini telah berjalan kegiatan penanaman seluas 10 hektar menggunakan konsep agroforestri, dengan jenis-jenis pohon hutan multi guna, seperti buah-buahan dan tanaman semusim, yang memenuhi asas sustainabilitas, produktivitas dan adoptabilitas masyarakat setempat.

"Pengembangan mata pencaharian masyarakat dengan peningkatan kapasitas anggota kelompok juga telah dilakukan melalui ragam alih teknologi, workshop pemasaran digital (digital marketing) untuk mendukung forestry 4.0," lanjutnya.

Khusus pilot site HKm Tuar Tana di Sikka, Dona menjelaskan, alih teknologi yang telah diaplikasikan adalah Alih Teknologi pembibitan, pembuatan persemaian dan pupuk organik, pengolahan dan pengemasan minyak kemiri, pembuatan lilin dari sarang lebah madu, serta peningkatan hasil agroforestri dan pengolahan pasca panen Pinang.

"Kegiatan utama lainnya sebagai output kerjasama, adalah pengembangan database dalam bentuk aplikasi webGIS dan android. Semoga hal ini mempermudah pemasaran dan pengelolaan hutan, seiring dengan era forestry 4.0.," harap Dona.

Turut hadir dalam pembahasan ini, perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan lingkup Propinsi NTT, Balai Diklat LHK Kupang, Pusat Litbang Hutan dan Balai Litbang LHK Kupang KLHK, KPH Sikka, KPH Kota Kupang dan ketua Gapoktan HKm Tuar Tana Sikka.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR