Senin, 9 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

ITPC Rumuskan Metode Penelitian Gambut Aplikatif

Sabtu, 13 Juli 2019

Libatkan 30 peneliti dari penjuru dunia

ITPC Rumuskan Metode Penelitian Gambut Aplikatif
BLI KLHK
ITPC Rumuskan Metode Penelitian Gambut Aplikatif

Bogor -- Saat ini berbagai kajian terkait gambut telah dilakukan oleh banyak peneliti. Namun masing-masing seringkali menggunakan parameter (variabel) dan metode yang berbeda-beda, serta dituangkan dalam format laporan yang berbeda. Hal ini menjadi salah satu tantangan dalam referensi penyusunan kebijakan pengelolaan lahan gambut berkelanjutan, karena hasil dari kajian ini tidak dapat diterapkan pada konteks lain di luar ruang lingkup pengumpulan data, sehingga data menjadi kurang optimal untuk digunakan sebagai sintesis, dalam penyusunan kebijakan dan penerapan di lapangan.

Menjawab tantangan ini, International Tropical Peatlands Center (ITPC), Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK dan CIFOR, mengumpulkan 30 peneliti dari berbagai penjuru dunia, untuk merumuskan ruang lingkup dan metode kajian yang tepat terkait pengelolaan gambut. Kesempatan ini dihadirkan dalam bentuk Workshop bertema "Enhancing Evidence-Based Policy by Developing Core Common Outcomes for Tropical Peatland Research and Management" di kantor ITPC, CIFOR, Bogor (10/07/2019).

Baca Juga: Paradigma Baru BLI KLHK Hadapi Dinamika Global

"Telah ada investasi yang signifikan dalam pengumpulan data lahan gambut di seluruh daerah tropis, termasuk aspek hidrologi gambut, biologi, pedologi, risiko kebakaran, penyediaan jasa ekosistem, kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi dalam pemantauan stok karbon dan emisi gas rumah kaca, dan topik-topik lainnya. Namun masih ada beberapa hal yang perlu disepakati dan disinkronkan antara lain terkait indikator pengukuran, analisis, dan pelaporan apa yang akan digunakan, atau pada hasil, dan variabel apa yang menjadi fokus kajian," tutur Dr. Haruni Krisnawati, Peneliti Pusat Litbang Hutan BLI yang juga merangkap sebagai Koordinator ITPC.

Sejak diluncurkannya ITPC pada Oktober tahun lalu, berbagai kajian terkait gambut tropis telah dilakukan untuk mendukung tahap awal operasional ITPC, yaitu pengumpulan data dan informasi. Workshop ini merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan hasil-hasil umum dan standar pelaporan inti, dalam penelitian dan pemantauan lahan gambut untuk memperkuat  kebijakan berbasis ilmiah (sains).

Haruni juga berharap, hasil workshop ini dapat berkontribusi pada upaya-upaya konservasi, restorasi, dan pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. "Dengan mengkoordinasikan pengumpulan dan melaporkan  hasil-hasil pengukuran data lahan gambut, dan membangun kolaborasi lintas disiplin ilmu di seluruh lahan gambut tropis, akan memungkinkan sintesis data dan tren secara global, untuk menginformasikan kebijakan masa depan di tingkat nasional dan internasional," lanjutnya.

Baca Juga: BLI KLHK dan CIFOR Inisiasi Paradigma Baru Litbang

Sementara itu, Prof. Mark Reed dari New Castle University menyebutkan perbedaan variabel dan metode dalam kajian gambut ini sebagai suatu pemborosan dalam proses penelitian, sehingga diperlukan upaya untuk mengurangi pemborosan tersebut, dan meningkatkan kualitas data yang mudah disintesis, untuk dimanfaatkan  sebagai dasar penyusunan kebijakan dan praktik di lapangan.

Workshop yang didukung UN Environment, FAO, Global Peatland Initiative dan difasilitasi Newcastle University ini dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 10-11 Juli 2019. Dalam workshop ini dibahas pengumpulan data, dan pelaporan dengan cara-cara yang dapat memberi informasi lebih baik tentang lahan gambut tropis, pemetaan lahan gambut secara global, serta pemantauan dan pelaporan pada kegiatan-kegiatan restorasi gambut yang sudah berjalan.

Turut hadir dalam workshop ini, perwakilan ITPC dari negara Peru, Newcastle University, University of Leeds, Chiba University, Arizona State University,IPB, UNSRI, CIFOR, ICRAF, IFSA, RECOFTC, BLI, B2SDLP, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK, UN Environment, FAO, GCRF, dan IUCN.(*)



BAGIKAN

BERI KOMENTAR