Senin, 9 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

Restorasi Gambut untuk Pemberdayaan Masyarakat

Rabu, 26 Juni 2019

Penghidupan masyarakat sekitarnya sangat bergantung pada lahan gambut

Restorasi Gambut untuk Pemberdayaan Masyarakat
forda.mof.org
Lahan gambut

Palembang -- Saat ini, upaya restorasi lahan gambut terdegradasi terus dilakukan. Hal ini penting dilakukan mengingat penghidupan masyarakat sekitarnya sangat bergantung pada lahan gambut.

Menurut Sri Lestari, Peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Palembang, restorasi lahan gambut harus memperhatikan aspek sosial-ekologi dan penghidupan masyarakat lokal yang bersentuhan langsung dengan lahan gambut.

Baca Juga: PT Alam Bukit Tiga Puluh Gandeng BP2LHK Palembang

“Lahan gambut yang terdegradasi masih memungkinkan untuk budidaya asal pemilihan jenis tanamannya tepat, kesesuaian lahan diperhatikan dan kesuburan tanahnya diperbaiki terlebih dahulu agar produktivitas dan kelestarian lahan gambut dapat tercapai,” kata Sri Lestari dikutip dari tulisannya “Degradasi Lahan Gambut Serta Upaya Restorasi untuk Pemberdayaan Masyarakat dan Peningkatan Ekonomi: Kasus di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan”.

Dalam tulisannya bersama Bondan Winarno dan Bambang T. Premono yang diterbitkan di Prosiding Seminar Nasional 2018 bertema Merawat Asa Restorasi Gambut, Pencegahan Kebakaran dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat oleh BP2LHK Palembang ini, Sri Lestari menyebutkan, banyak kendala yang ditemukan dalam melakukan budidaya di lahan gambut terdegradasi.

Baca Juga: BP2LHK Palembang Terima Kunjungan Studi Banding

“Seperti terjadi penurunan muka tanah setelah drainase, mengalami sifat mengerut tidak balik sehingga menurunkan daya retensi air, tingkat kesuburan yang rendah, tanah masam (pH rendah), sampai daya tahan (bearing capacity) rendah sehingga pohon akan mudah roboh,” kata Sri Lestari.

Namun, menurutnya, pengelolaan lahan yang tepat dan dengan penambahan input dapat memperbaiki kondisi sifat fisik dan kimiawinya, sehingga lahan gambut dapat menjadi lahan yang memiliki produktivitas yang baik untuk budidaya.

Baca Juga: Seminar Karhutla BP2LHK Palembang Diapresiasi

Sri menjelaskan, mata pencaharian utama masyarakat sekitar lahan gambut di OKI adalah bertani karet, sedangkan bekarang (mencari ikan) di wilayah bergambut biasanya dilakukan pada musim kemarau. Beberapa waktu terakhir, banyak masyarakat dari luar yang berinvestasi kerbau rawa di wilayah ini, sedangkan masyarakat setempat hanya sebagai pemelihara saja. Bila musim hujan tiba dan jumlah pakan melimpah, produksi susu kerbau akan melimpah sehingga banyak ibu rumah tangga yang membuat produk olahan dari susu kerbau. Namun, degradasi gambut sempat membuat masyarakat kesulitan mencari pakan di musim kemarau sehingga banyak kerbau yang mati.

Menyoal degradasi lahan gambut di Kabupaten OKI, Sri Lestari dan tim berpendapat, degradasi ini terjadi karena banyaknya alih fungsi lahan, pembalakan liar, proses drainase yang kurang tepat, kebakaran serta adanya pembukaan lahan untuk program transmigrasi.

Baca Juga: BRG Lanjutkan Kerjasama dengan BP2LHK Palembang

Menurut Sri Lestari dan tim, ekstensifikasi pertanian pada akhirnya akan mengarah pada lahan-lahan suboptimal, salah satunya lahan gambut. Dua dekade terakhir, menurut Sri dan tim, lahan gambut di OKI semakin banyak digunakan sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk yang sangat signifikan.

“Bila lahan gambut yang terdegradasi tidak segera direhabilitasi dan direstorasi, akan terjadi degradasi lebih lanjut yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya, akan tetapi juga masyarakat umum secara luas,” kata Lestari.

Sumber: http://www.forda-mof.org/berita/post/6100-restorasi-gambut-untuk-pemberdayaan-masyarakat-dan-peningkatan-ekonomi

 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR