Sabtu, 7 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

Orangutan, Mutiara Tersisa dari Hutan Batangtoru

Selasa, 25 Juni 2019

Bernilai guna bagi regenerasi hutan secara alami

Orangutan, Mutiara Tersisa dari Hutan Batangtoru
forda.mof.org
Orangutan Tapanuli

Aek Nauli -- Orangutan tapanuli saat ini bagaikan mutiara yang masih tersisa di Hutan Batangtoru. Hal ini disampaikan Peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc.  Dikatakannya, keberadaan orangutan tapanuli akan bernilai guna bagi regenerasi hutan secara alami dan mendatangkan sumber pendapatan bagi masyarakat apabila pengelolaannya dilakukan secara tepat.

“Orangutan tapanuli juga bisa dijual sebagai obyek ekowisata dunia dan mengajak masyarakat internasional untuk menyumbang dalam membantu upaya konservasinya. Apabila ekowisata orangutan bisa dikembangkan secara baik oleh Pemerintah setempat maka akan mendorong roda perekonomian pada masyarakat Tapanuli,” kata Wanda di laman forda.mof.org.

Baca Juga: Wisata Eksotis Gajah Jinak & Siamang di Aek Nauli

Menurutnya, beragam bantuan hibah dunia internasional maupun CSR perusahaan akan mengalir ke daerah Tapanuli untuk membantu pelaksanaan konservasi maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitarnya, seperti yang telah terjadi di Kecamatan Sipirok dan Marancar, Tapanuli Selatan.

Seperti diketahui, orangutan di Hutan Batangtoru telah menjadi magnet perhatian dunia karena telah ditetapkan sebagai spesies baru dengan nama Pongo tapanuliensis dan diprediksi yang akan paling cepat mengalami kepunahan karena populasinya sangat rendah dibandingkan jenis lainnya, seperti Pongo abelii dan Pongo pygmaeus di Pulau Kalimantan.

Baca Juga: Eco Friendly Pengelolaan Gajah di KHDTK Aek Nauli

Untuk itu, apapun alasannya, sudah saatnya kegiatan pembangunan dan pembukaan lahan, baik yang dilakukan oleh perusahaan swasta maupun masyarakat di kawasan Batangtoru harus memperhatikan kaidah pembangunan kehutanan yang berkelanjutan.

“Keseimbangan aspek kelestarian ekologi, pemberdayaan ekonomi dan budaya lokal dan peningkatan sumberdaya manusia harus dipaduserasikan agar keberadaan orangutan Tapanuli sebagai mutiara yang tersisa di hutan Batangtoru tidak mengalami kepunahan. Bila orangutan bisa lestasi maka Indonesia akan dipandang sebagai negara yang peduli terhadap pelestarian hutannya oleh dunia internasional,” tambah Wanda.

Baca Juga: Atasi Limbah Gajah, BP2LHK Aek Nauli Undang Petala

Dari pengamatan Wanda selama 15 tahun melakukan penelitian di hutan Batangtoru, diketahui bahwa luas lahan perkebunan masyarakat maupun yang dibuka perusahaan swasta, baik yang sifatnya monokultur maupun dengan model agroforestri terus meningkat. Jenis tanaman yang banyak dibudidayakan masyarakat di sana diantaranya karet, sawit, salak, coklat, kayu manis, durian dan kopi.

Bertambah luasnya area hutan yang dibuka dan terdegradasi, ternyata membawa konsekuensi dengan semakin berkurangnya populasi satwaliar karena kehilangan habitat dan berkurangnya sumber pakan mereka. Salah satu satwa yang terkena dampaknya adalah orangutan karena merupakan satwa yang membutuhkan makanan yang bervariasi setiap harinya.

Baca Juga: PNBP KHDTK Aek Nauli Terus Meningkat

Hutan Batangtoru memiliki kekayaan hayati dan tipe ekosistem yang beragam. Keragaman jenis tumbuhan dan satwaliar cukup melimpah di sini. Masyarakat pun telah memanfaatkannya sebagai sumber makanan, obat-obatan, lahan budidaya sampai sarana pembangunan. Akan tetapi, pembukaan hutan yang eksploitatif telah mengakibatkan banyak jenis satwa semakin terancam kepunahan. Kawasan  hutan Batangtoru merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati dan nilai jasa lingkungan yang tinggi.

Dalam skala lansekap, kawasan ini diperkirakan seluas 275.000 ha dan masih merupakan hutan alam yang relatif utuh sekitar 140.000 hektar dengan ketinggian 50-1875 meter dpl. Beragam tipe ekosistem, mulai dari ekosistem dataran rendah,  sub montana sampai pegunungan tersebar pada lansekap Batangtoru. Secara administratif kawasan ini termasuk pada tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan sebagian Tapanuli Utara.

Baca Juga: Eco Friendly Pengelolaan Gajah di KHDTK Aek Nauli

Kawasan ini merupakan habitat tersisa bagi beragam jenis flora dan fauna yang berada di sebelah selatan Danau Toba. Hasil penelitian Conservation International Indonesia  dan BP2LHK Aek Nauli menemukan sedikitnya 67 spesies mamalia, 287 jenis burung, 110 jenis satwa herpetofauna serta  49 spesies reptilia. Dari banyak jenis tersebut, telah digolongkan lebih dari 20 spesies mamalia yang dilindungi, 12 spesies yang terancam punah dan 14 spesies termasuk dalam kategori CITES (Convention International of Trade of Endagered Species). Di samping itu terdapat 21 jenis burung migran, 8 jenis endemik dan 4 jenis berkontribusi dalam pembentukan kawasan Endemic Bird Area di Pulau Sumatera.

Untuk flora, telah ditemukan sedikitnya 688 jenis yang digolongkan dalam 137 famili. Delapan jenis diantaranya terancam bahaya kepunahan,  3 jenis endemik untuk Sumatera dan 4 jenis dilindungi, seperti Rafflesia gadutensis dan Nepenthes sumatrana. Pada tingkat pohon, spesies dominan diantaranya Shorea maxwelliana, Nephelium rubescens, Ganua motleyana, Palaquium dasyphyllum dan Syzygium sp. Beragam jenis tumbuhan tersebut tersebar pada berbagai status hutan, baik hutan konservasi, hutan lindung dan area penggunaan lain.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR