Selasa, 10 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

BP2LHK Banjarbaru Kenalkan Alat Pletes Purun

Kamis, 13 Juni 2019

Diharapkan mendongkrak produktivitas

BP2LHK Banjarbaru Kenalkan Alat Pletes Purun
BLI KLHK
BP2LHK Banjarbaru Kenalkan Alat Pletes Purun

Banjarbaru -- Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru bersama mitra, yaitu Yayasan Pemberdayaan Ekonomi Lokal dan Banjarmasin Post mengenalkan alat pletes purun kepada perajin anyaman purun di Kampung Purun, Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Selasa (21/5/2019) lalu. 

“Kami memandang perlu untuk mengganti teknologi alat tumbuk dengan alat pletes purun, sebab kelemahan purun yang diolah dengan alat tumbuk mengalami pecah batang. Sedangkan jika diproses dengan alat pletes,  purun tidak mengalami pecah batang,” jelas Peneliti BP2LHK Banjarbaru, Marinus Kristiadi Harun. 

Baca Juga: BP2LHK Banjarbaru Uji Kesukaan Teh Daun Gemor

Selain itu, menurut Marinus, alat pletes purun mudah dioperasionalkan dan tidak memerlukan bahan bakar. Harga alat pletes purun juga relatif terjangkau, yakni sekitar enam juta rupiah. “Harapan kami dengan adanya alat pletes purun tersebut, produktivitas pengrajin purun dapat meningkat. Selain itu, kualitas anyaman dapat lebih baik karena purun tidak mengalami pecah batang,” lanjut Marinus ketika ditanya kelebihan dari alat tersebut.

Alat pletes purun adalah satu unit alat yang terbuat dari bahan besi dengan bagian utama adalah dua buah batangan besi yang berfungsi sebagai penggilas batang purun agar dapat pipih.

Seperti diketahui, pengembangan produk kerajinan berbasis purun merupakan upaya yang dilakukan oleh BP2LHK Banjarbaru untuk turut berperan aktif menumbuhkan ekonomi lahan basah. BP2LHK Banjarbaru sedang berupaya mensosialisasikan sistem paludikultur, yakni budidaya tanaman yang adaptif terhadap genangan air, tanpa melakulan pengeringan lahan (drainase).

Baca Juga: Upaya BP2LHK Banjarbaru Rehabilitasi Lahan Gambut

BP2LHK Banjarbaru telah melakukan penelitian terkait sistem paludikultur ini. Beberapa kearifan lokal telah diangkat untuk disosialisasikan kepada publik, salah satunya adalah potensi ekonomi purun dan sistem perikanan beje. Untuk purun, Marinus telah menjajaki pemasaran olahan purun berupa tali purun untuk memenuhi kebutuhan pengrajin di Wates, Kulon Progo dan Sukoharjo.

Selain purun, daun rasau (pandan sungai) dan daun kajang sangat diminati oleh pengrajin di dua daerah tersebut. Hal ini disebabkan kondisi daun pandan pantai (sea grass) sudah mulai langka di Jawa. Berbagai produk yang dihasilkan dari purun selain tikar dan tas adalah  kerajinan berupa kap lampu hias.

Baca Juga: Menganyam Purun, Upaya Melestarikan Gambut

Yang menarik, pada kesempatan tersebut Marinus juga mensosialisasikan batang purun sebagai pengganti sedotan (straw) berbahan plastik. Hal ini diharapkan dapat mengurangi limbah plastik dan meningkatkan nilai ekonomi purun.

Sebagai informasi, masyarakat di Kampung Purun mendapatkan bantuan alat pletes purun tersebut dari CSR Haji Mardani H. Maming Official. Kampung ini dinamakan Kampung Purun karena rata-rata masyarakat di sana berprofesi sebagai pengrajin purun.

Baca Juga: BP2LHK Banjarbaru Raih Penghargaan Poster Favorit

Di sana terdapat tempat workshop untuk para wisatawan yang berminat mengetahui cara pengolahan purun hingga menjadi berbagai produk olahan. Beberapa pengrajin juga membangun galeri mini di rumah mereka. Berbagai produk olahan purun dipajang untuk memudahkan para wisatawan memilih dan membeli kerajinan purun.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR