Selasa, 10 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

Jakarta Perlu Sabuk Hijau Mangrove

Kamis, 4 April 2019

Penelitian sarankan penanaman mangrove untuk mengurangi intrusi air laut

Jakarta Perlu Sabuk Hijau Mangrove
badan litbang & inovasi KLHK
Mangrove berfungsi sebagai sabuk hijau untuk melindungi pesisir dari intrusi air laut

Bogor -- Pesisir utara Jakarta, membutuhkan sabuk hijau (greenbelt) mangrove dengan lebar lebih dari 115 meter untuk mengurangi intrusi air laut, berdasarkan garis optimal. Demikian menurut riset Dr. Endang Hilmi dkk yang dirilis dalam Indonesian Journal of Forestry Research Vol. 4, No. 2, 2017, Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi (BLI).  

“Terdapat korelasi yang kuat antara intrusi air laut dengan lebar greenbeltmangrove di kawasan pesisir utara Jakarta,” jelas Dr. Endang Hilmi, peneliti kajian ini, yang juga merupakan Kepala Pusat Mitigasi Bencana Universitas Jenderal Soedirman. 

Dalam penelitian yang dilakukannya di kawasan pesisir dari ekosistem muara sungai Angke, Ciliwung, dan Cisadane, serta Samudera Jawa Utara ini, diketahui bahwa keberadaan mangrove diprediksi mampu menurunkan laju intrusi menjadi 0,2 km/tahun.

Kondisi ini lebih rendah dari laju intrusi dengan tanpa ekosistem mangrove, yakni sebesar 0,3-0,4 km/tahun. Ini menegaskan bahwa keberadaan ekosistem mangrove sangat penting bagi pesisir utara Jakarta.

“Simulasi intrusi air laut ini  menggunakan permintaan air tawar untuk industri, pemukiman, masyarakat, pasang air laut, genangan air, debit sungai, kapasitas air tawar, topografi, intensitas hujan dan kepadatan bakau sebagai elemen dari model,” lanjutnya.

Untuk mendukung suksesnya rehabilitasi mangrove di Jakarta, sistem lingkungan mangrove yang kompleks dan dinamis harus menjadi perhatian. Jenis yang dipilih harus berdasarkan dominasi terbaik di wilayah Jakarta, karena jenis-jenis tersebut memiliki kemungkinan terbaik untuk bertahan hidup dan kepadatan untuk mendukung keberhasilan rehabilitasi mangrove.

Jenis-jenis yang direkomendasikan dalam riset ini adalah Avicennia marina, Avicennia alba, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris.

Intrusi air laut merupakan masalah besar di Jakarta Utara. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Degradasi dan deforestasi ekosistem mangrove adalah faktor kunci. Bersama dengan faktor lain seperti pemompaan air tawar untuk pemukiman, industri dan hotel, secara terintegrasi telah menyebabkan peningkatan intrusi air laut di Jakarta.  

Selain model intrusi, Hilmi dkk juga melakukan simulasi salinitas air tawar di Jakarta. Dalam kurun waktu 10 tahun, diperkirakan salinitas air tawar meningkat dari 1,92 ppt menjadi 4,86 ??ppt.  Peningkatan ini diketahui berkorelasi signifikan antara degradasi mangrove dan pemompaan air tawar.  

Faktanya, luas hutan mangrove di pesisir utara Jakarta memang terus berkurang. Konversi ekosistem mangrove di Jakarta merupakan faktor pemicunya. Data citra satelit yang diolah Hilmi dkk memperlihatkan luas mangrove di kawasan tersebut telah berkurang 1.000 ha atau rata-rata 27,8 ha/tahun, dalam kurun waktu 1980-2016. 

Untuk mensukseskan proses suksesi itu, keberadaan bibit dan anakan vegetasi mangrove harus dilestarikan sebagai proses dinamika ekosistem mangrove untuk mencapai vegetasi klimaks. Ini merupakan tantangan, karena vegetasi mangrove membutuhkan waktu lama untuk regenerasi dan pulih untuk mencapai fase pohon.

Untuk penelitian selanjutnya, selain faktor kemampuan vegetasi dan lebar greenbelt mangrove, Hilmi dkk merekomendasikan untuk memasukkan zona mangrove sebagai faktor penting untuk mengurangi gelombang laut tinggi, banjir air laut, dan abrasi.*(DP)



BAGIKAN

BERI KOMENTAR