Selasa, 10 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

Demplot Agroforestri BP2TA di Kalbar Diapresiasi

Jumat, 10 Agustus 2018

Sebagai Lokasi Alih Teknologi Restorasi Gambut

Demplot Agroforestri BP2TA di Kalbar Diapresiasi
forda-mof.org
Lokasi Alih Teknologi Restorasi Gambut

Ciamis -- Sejak pertengahan tahun 2017, Balai Penelitian & Pengembangan Teknologi Agroforestry (BP2TA) Ciamis mendapat kepercayaan dari Badan Restorasi Gambut (BRG) untuk melaksanakan kegiatan penelitian dalam rangka restorasi gambut di Provinsi Kalimantan Barat. Demplot agroforestri seluas 4 ha yang terdiri dari 2 ha pada gambut kedalaman 0-2 m dan 2 ha pada gambut kedalaman 3-4 m dibangun untuk mendukung penelitian tersebut.

Penelitian restorasi gambut yang dilakukan pada demplot tersebut meliputi 3R yaitu rewetting (pembasahan), revegetasi (penanaman kembali) dan revitalisasi (peningkatan peran gambut sebagai sumber mata pencaharian masyarakat). Demplot yang berada di kawasan lahan budidaya milik masyarakat di Desa Rasau Jaya II, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya ini merupakan daerah transmigran dari Pulau Jawa.

Baca Juga: Peran BP2TA dalam Pengembangan MDRHL Berbasis DAS

Keberadaan dan keberhasilan demplot agroforestri ini mendapat apresiasi dari BRG dan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat dengan menjadikannya sebagai lokasi praktik kegiatan alih teknologi restorasi gambut yang diadakan pada 23 - 27 Juli 2018 lalu. 20 orang peserta yang terdiri dari staf Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, staf Dinas Pemukiman dan Lingkungan Hidup, staf Kesatuan Pengelolaan Hutan dan penyuluh dari empat kabupaten prioritas restorasi gambut, mengikuti alih teknologi tersebut.

Aditya Hani, peneliti dari BP2TA ketika mendampingi peserta mengunjungi demplot tersebut menjelaskan bahwa pola yang dibangun pada setiap kedalaman memiliki perbedaan. “Gambut dangkal (kedalaman 0-2 m) dapat digunakan untuk budidaya pertanian tanaman semusim sehingga jenis tanaman yang dikembangkan adalah pulai, jelutung dan jengkol dengan jarak tanam yang lebar yaitu 4 m x 6 m,” jelas Aditya.

Baca Juga: BPH VI Jawa Tengah Konsultasi Agroforestry Bambu

“Jenis tanaman semusim yang sudah dibudidayakan antara lain kacang tanah,  jagung, terong, cabai dan tomat. Pada tepi lahan ditanami rumput pakan ternak. Harapannya ada integrasi antara lahan agroforestri dan ternak milik masyarakat sebagai sumber pupuk organik,” tambah Aditya.

Aditya menjelaskan, berbeda dengan lokasi gambut dangkal yang dapat digunakan sebagai areal budidaya pertanian,  sesuai aturan, gambut dalam adalah kawasan lindung. Namun, karena lahan gambut tersebut merupakan lahan milik petani maka pola yang dikembangkan adalah kombinasi jenis tanaman penghasil kayu  dan non kayu yaitu pulai, jelutung, gerunggang, jengkol, dan pinang. “Hal tersebut untuk menjembatani kepentingan konservasi dan ekonomi petani,” kata Aditya.

Baca Juga: BP2TA Ciamis Diseminasikan Hasil Litbang Bagi KPHP

Peserta cukup terkesan dengan adanya demplot agroforestri di lahan gambut tersebut. Walaupun tanaman baru berusia 7 bulan namun pertumbuhannya cukup tinggi dengan tingkat kematian yang rendah. Kasli, salah satu peserta alih teknologi menyatakan bahwa peserta terutama dari kabupaten sangat tertarik dengan materi alih teknologi yang disampaikan.

“Saya berharap agar kegiatan seperti ini sering dilaksanakan agar semakin tertanam pentingnya sistem pengelolaan gambut yang lestari dan agar ada pengelolaan gambut yang berkolaborasi dengan berbagai instansi sebagai model di Kalimantan Barat,” kata Kasli.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR