Minggu, 8 Desember 2019
News & Nature
Berita

Periau Danau Sentarum Berbagi Pengalaman

Jumat, 29 November 2019

Talk Show Festival Pesona 2019

Periau Danau Sentarum Berbagi Pengalaman
ksdae.menlhk.go.id
Manajer Pemasaran Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS), Jasryadi dan enam narasumber lain berbagi pengalaman kegiatan perhutanan sosial di Auditorium Utama Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Rabu (27/11/2019)

Jakarta -- Manajer Pemasaran Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS), Jasryadi dan enam narasumber lain berbagi pengalaman kegiatan perhutanan sosial di Auditorium Utama Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Rabu (27/11/2019). Audiens yang hadir merupakan perwakilan pemerintahan, swasta dan masyarakat adat.

Talk Show bertema “Berbagi Peran untuk  Perhutanan Sosial Juara” ini merupakan rangkaian Festival Perhutanan Sosial Nasional (Pesona) 2019 yang diselenggarakan Dirjen PSKL dan mitra, 27–29 November 2019. Tujuh narasumber  yang dihadirkan  dianggap berhasil melakukan kegiatan perhutanan sosial di daerahnya masing–masing. Didin "Miing" Gumilar yang menjadi moderator, tujuh narasumber adalah motor–motor serangan perhutanan sosial yang harus diapresiasi karena mendorong perubahan perekonomian di daerah-daerah yang jauh dari kata sejahtera.

Baca Juga: TaNa Bentarum Bekali Kelompok Periau Madu Hutan

APDS sebagai organisasi pemungut madu hutan di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) telah mendapat Surat Keputusan Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Konservasi (SK Kulin KK) dari Dirjen PSKL memproduksi madu hutan organik rata–rata sebesar 15-20 ton per  musim. Dalam satu tahun terdapat dua musim panen yaitu bulan Februari-Maret dan September–Oktober.

“Dalam satu musim panen rata–rata APDS memiliki keuntungan 1–1,5 miliar Rupiah. Hal ini tidak terlepas dari  dukungan penuh  taman nasional yang terus-menerus melakukan fasilitasi, bantuan–bantuan peralatan dan pendampingan bagi kami untuk selalu maju berkarya,” ujar Jasryadi.

Baca Juga: TNBKDS, Cifor dan P3SEKPI Gelar Belajar Bersama

Dirjen PSKL, Bambang Suprianto meyakini, perhutanan sosial dan manfaatnya sudah dirasakan secara nyata oleh sekitar 6.112 kelompok yang tersebar di Indonesia. Tidak hanya tokoh masyarakat dengan local wisdom-nya, kemudian ada pendamping yang luar biasa karena transformasi masyarakat yang berpikir secara tradisional dibawa kepada pengelolaan hutan lestari, kemudian pemanfaatannya dilakukan melaui pendampingan yang berkelanjutan dari penyuluh kehutanan, pemerintah daerah dan LSM. Untuk mewujudkan transformasi masyarakat dalam pengelolaan hutan lestari adalah pentingnya kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama yang tidak mungkin bisa tercapai kalau kita lakukan secara sendiri–sendiri.

“Kegiatan ini adalah salah satu pekerjaan besar kita dalam merubah kiblat pengelolaan hutan. Maka ini sangat penting dan menjadi kerjaan kolektif dan bangsa yang belum ada sejarahnya hutan untuk rakyat,” Dirjen KSDAE, Wiratno.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR