Kamis, 12 Desember 2019
News & Nature
Konservasi

Solusi Pemulihan Ekosistem SM Kuala Lupak

Sabtu, 10 Agustus 2019

FGD BKSDA Kalsel

Solusi Pemulihan Ekosistem SM Kuala Lupak
ksdae.menlhk.go.id
BKSDA Kalimantan Selatan mengadakan Focus Group Discussion (FGD), Kamis (1/8/2019)

Banjarbaru -- Konflik tenurial merupakan salah satu permasalahan mendasar dalam pengelolaan kawasan konservasi, tidak terkecuali di Suaka Margasatwa (SM) Kuala Lupak. SM Kuala Lupak memiliki kawasan seluas kurang lebih 3.726 hektar. Sebagiannya mengalami perambahan berupa keterlanjuran tambak. 

Kondisi ini telah terjadi selama 20 tahun tanpa solusi yang tepat sehingga mengakibatkan kerusakan ekosistem mangrove dan habitat fauna endemik Kalimantan Selatan, bekantan. Hal itu bisa dilihat dari penurunan populasi kera hidung mancung tersebut.

Baca Juga: BKSDA Kalsel Teken Perjanjian Kerjasama

Diterbitkannya Perdirjen KSDAE P.6/2018 tentang Kemitraan Konservasi (Mitkon) membawa angin segar dalam penyelesaian konflik tenurial pada kawasan konservasi. Dalam penerapannya, Kepala Balai KSDA Kalsel, Dr.Ir. Mahrus Aryadi M.Sc membuat Proyek Perubahan (Proper) dalam penyelesaian konflik tenurial di SM Kuala Lupak melalui Mitkon Model Baparuan. "Model Baparuan merupakan solusi yang saling menguntungkan. Ekosistem terpulihkan dan masyarakat mendapat akses atas hak kelola lahan melalui Perjanjian Kerja Sama," katanya.

Sebagai langkah awal dalam penerapan Mitkon model Baparuan, BKSDA Kalimantan Selatan mengadakan Focus Group Discussion (FGD), Kamis (1/8/2019) lalu, untuk mendapatkan saran dan masukan serta dukungan dari para pihak seperti BPDASHL Barito, BPSKL Wil Kalimantan, Kepala Desa Kuala Lupak, Kepala Desa Sungai Telan Besar dan Tokoh masyarakat keterlanjuran tambak SM Kuala Lupak,  PT. Adaro Indonesia, serta Tim Kerja Proper.

Baca Juga: BKSDA Kalsel Bersiap Bentuk Mitra Konservasi

Pemulihan ekosistem dilaksanakan melalui rehabilitasi DAS IPPKH PT. Adaro Indonesia selama 3 tahun yaitu P0, P1 dan P2. Menurut Jawase, koordinator tokoh masyarakat petambak SM Kuala Lupak, areal tambak yang ada tanamannya dapat meningkatkan produktivitas. Terbukti hasil panen meningkat 2 kali lipat dibandingkan dengan areal tanpa tanaman.

Kepala Desa Sungai Telan Besar, Amberin berharap kedepannya dapat memberikan dampak positif untuk SM Kuala Lupak dan masyarakat Desa. Sedangkan Kepala Desa Kuala Lupak Bapak Junaidi menyarankan agar dalam pelaksanaan melibatkan masyarakat setempat.

Baca Juga: Kepala BKSDA Kalsel Kenalkan Pendekatan Tapak

Para pihak sangat mengapresiasi proyek perubahan yang digagas oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan ini. Dr. Zainal Arifin Kepala Balai PDASHL Barito sangat mendukung proper ini, karena melibatkan 3 eselon 1 lingkup KLHK, yaitu Dirjen DASHL, Dirjen PSKL dan Dirjen KSDAE. BPSKL Wil Kalimantan yang dihadiri Bapak Aswan dan Bapak Lukas menyampaikan bahwa akan mendampingi dalam perlengkapan administrasi kelompok tani dan pengurusan Kulin KK. 

Perwakilan PT. Adaro Indonesia yang hadir, Agus, Ade dan Bobby menyampaikan, perusahaannya sangat berkepentingan dengan proper ini, khususnya terkait upaya rehabilitasi DAS yang merupakan kewajiban perusahaan.

Baca Juga: BKSDA Kalsel Laksanakan Monev di Kuala Lupak

Bagian akhir FGD, fasilitator Ridwan Effendi merumuskan dukungan bersama peserta yang hadir, dituangkan dalam Surat Pernyataan Dukungan yang ditandatangani bersama para pihak  Tahapan selanjutnya adalah pembentukan kelompok yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus 2019 di kantor Resort Kuala Lupak.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR