Kamis, 12 Desember 2019
News & Nature
Berita

Peneliti dan Konservasionis Hidupan Liar Bertemu

Senin, 8 Juli 2019

Tingkatkan Peran Peneliti dan Konservasionis Hidupan Liar Indonesia di Kancah Global

Peneliti dan Konservasionis Hidupan Liar Bertemu
ppid.menlhk.go.id
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar lokakarya temu peneliti dan konservasionis hidupan liar Indonesia di IPB International Convention Center, Bogor, Senin (8/7/2019)

Jakarta -- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar lokakarya temu peneliti dan konservasionis hidupan liar Indonesia di IPB International Convention Center, Bogor, Senin (8/7/2019). Kegiatan tersebut selain meningkatkan kapasitas peneliti hidupan liar di Indonesia, juga untuk meningkatkan jaringan kerja serta memaksimalkan kemampuan Indonesia di bidang diplomasi konservasi internasional.

“Saat ini baru sekitar 75 orang baik peneliti, profesi maupun penggiat hidupan liar Indonesia yang berkiprah dalam berbagai specialist group dalam Species Survival Commission (SSC) yang dibentuk oleh International Union of Conservation of Nature (IUCN). Jumlah ini sebenarnya sedikit, mengingat banyak specialist group yang tidak memiliki anggota dari Indonesia. Oleh karena itu, lokakarya para peneliti dan konservasionis hidupan liar Indonesia kali ini diarahkan untuk memaksimalkan kemampuan Indonesia di bidang konservasi internasional,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno.

Baca Juga: TNGC dan IPB Kembangkan Bioprospecting Mikroba

Sebagai salah satu negara mega biodiversitas, Indonesia telah menjadi perhatian peneliti hidupan liar dan menghasilkan ratusan temuan baru. Berbagai peneliti hidupan liar di Indonesia kini telah bergabung dalam banyak himpunan profesi yang merupakan kumpulan para peneliti dan penggiat konservasi sebidang seperti Indonesian Ornthologist Union (IDoU), Perhimpunan Herpetologi Indonesia (PHI), Perhimpunan Entomologis Indonesia (PEI), Perkumpulan Biologi Indonesia (PBI), Forum Orangutan Indonesia, Forum Harimau Kita dan perkumpulan yang bersifat profesi seperti Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).

Species Survival Commission dibentuk oleh IUCN yang tumbuh menjadi jaringan global berbasis ilmu dari ribuan ahli sukarelawan di bidang keanekaragaman hayati. SSC melakukan penilaian terhadap status spesies, mengembangkan rencana dan strategi aksi konservasi spesies, menyiapkan pedoman teknis dan merumuskan pernyataan kebijakan IUCN. Secara umum, SSC mempromosikan pengetahuan teknis, saran, dan panduan kebijakan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan tindakan konservasi di seluruh dunia.

SSC memanfaatkan jaringan para pakar sukarelawan sedunia untuk membangun landasan ilmiah dan praktis untuk penyampaian konservasi yang efektif. Ribuan ahli sukarelawan diorganisakan ke dalam lebih dari 100 Specialist Group (SG), Red List Authority (RLA) dan Taksonomi (TF) yang diatur untuk menanggapi masalah konservasi yang mendesak.

Secara timbal balik, melalui SSC, para anggota memiliki hubungan langsung dengan forum konservasi internasional utama, tempat IUCN memainkan peran kunci dan juga kesempatan untuk terhubung dan berkolaborasi dengan rekan kerja yang bekerja pada masalah serupa di seluruh dunia. Namun kiprah peneliti dan konservasionis dari Indonesia di bidang diplomasi internasional dinilai belum maksimal sehingga perlu adanya upaya untuk meningkatkan jaringan kerja di antara para pihak.

Baca Juga: Menteri LHK Gelar Expert Meeting

Dekan Fakultah Kehutanan IPB, Rinekso Soekmadi menyampaikan, “Pertemuan lokakarya peneliti dan konservasionis hidupan liar tahun 2019 ini dapat merekatkan jejaring para peneliti dengan pengambil kebijakan. Sekaligus juga meningkatkan sinergi dengan para pihak terkait dalam menyelesaikan berbagai persoalan konservasi.”

Senada dengan Rinekso, Wiratno turut berharap pertemuan ini dapat meningkatkan peran serta peneliti Indonesia dalam berbagai keanggotaan lembaga konservasi internasional terutama IUCN melalui keikutsertaan dalam specialist group maupun pengajuan specialist group/red list authority khusus yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

“Termasuk juga memberikan masukan bagi delegasi Indonesia yang akan hadir dalam pertemuan IUCN Asia Regional Members Committee di Islamabad, Pakistan bulan Agustus mendatang. Untuk itu saya mengucapkan selamat melaksanakan lokakarya para peneliti dan konservasionis Indonesia. Mari kita bangun komunikasi dan koordinasi di antara para anggota SSC IUCN Indonesia,” ungkap Wiratno.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR