Kamis, 23 Mei 2019
Berita Komunitas

Ramadan, Kelompok Lestari Tanam Pohon di TNBNW

Rabu, 15 Mei 2019

Bersama Resort Dumoga Barat

Ramadan, Kelompok Lestari Tanam Pohon di TNBNW
ksdae.menlhk.go.id
Kelompok Lestari Tanam Pohon di TNBNW

Kotamobagu -- Bulan Ramadan tidak menyurutkan niat Kelompok Lestari dan Resort Dumoga Barat untuk melakukan pemulihan ekosistem kolaboratif di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) dengan menanam pohon. Kelompok ini berada di Desa Kinomaligan, Kecamatan Dumoga Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Desa Kinomaligan merupakan salah satu desa penyangga TNBNW yang masuk dalam Resort Dumoga Barat, SPTN II Doloduo. Desa Kinomaligan dan Werdhi Agung Selatan berbatasan langsung dengan TNBNW dan sebagian dari  wilayah ini telah lama dibuka oleh masyarakat dari kedua desa tersebut untuk dijadikan kebun. Pembukaan kawasan ini menyebabkan debit air di sekitar lokasi menjadi tidak stabil. Pada waktu musim kemarau debit air kecil dan pada musim hujan bisa menyebabkan banjir. 

Baca Juga: TNBNW dan 2 Kelompok Masyarakat Teken Kerjasama

Karena itu, dalam upaya untuk mengatasi keterlanjuran pengelolaan masyarakat, Balai TNBNW telah menawarkan program pemulihan ekosistem kolaboratif kepada masyarakat. Masyarakat melakukan penanaman pohon dengan jenis tertentu yang memiliki potensi hasil hutan bukan kayu/HHBK dan juga memiliki nilai ekologis.

Resort Dumoga Barat sebagai unit terkecil dari Balai TNBNW bersama EPASS telah melakukan pendekatan dan diskusi dengan Kelompok Lestari, di Desa Kinomaligan, untuk menyampaikan pentingnya pelestarian TNBNW. Bersama dengan kelompok masyarakat, membicarakan langkah-langkah ke depan, antara lain penanaman pohon di kawasan yang terbuka dengan jenis nantu, cempaka, pala dan kemiri. Jenis nantu dan cempaka merupakan jenis yang mempunyai manfaat ekologis. Sedangkan kemiri dan pala dipilih oleh mayarakat karena juga memiliki potensi HHBK. 

Baca Juga: Kelola Taman Nasional, TNBNW Libatkan Masyarakat

“Dengan kegiatan pemulihan ekosistem kolaboratif ini masyarakat dapat memanfaatkan hasilnya mulai 5 tahun ke depan. Buah kemiri dan pala sudah mulai dapat dipanen dan diambil hasilnya oleh masyarakat. Di sisi lain fungsi ekologis untuk kawasan TNBNW juga akan mulai pulih kembali,” kata Kepala Resort Dumoga Barat, Vence Momongan, S.Hut.

Untuk mendukung kegiatan ini, Resort telah mmemberikan 1.500 bibit ke lokasi penanaman, yaitu di daerah Tayeb. “Hal ini adalah upaya minimal resort untuk mendukung pemulihan ekosisitem secara mandiri oleh masyarakat,” sambung Vence.

Baca Juga: Izin Pemanfaatan Air Banteng Mulya Diperpanjang

Kelompok Lestari yang terdiri dari 15 anggota telah sepakat untuk mulai melakukan penanaman pada bulan Ramadhan agar kerja pada bulan suci ini diberikan berkah melimpah pada desa mereka. Sejak hari Senin lalu Kelompok Lestari telah mulai membuat lubang penanaman. 
“Kelompok Lestari dari awal terbentuk telah berkomitmen untuk mendukung upaya pelestarian TNBNW dengan melakukan penanaman pohon. Masyarakat menyadari pentingnya kelestarian TNBNW karena pada tahun 2006 lalu terjadi banjir besar di Desa Kinomaligan. Oleh karena itu masyarakat ingin mengembalikan kembali fungsi hidrologis TNBNW dengan melakukan penanaman pohon. Walaupun saat ini baru 15 orang yang terlibat, namun dapat menjadi stimulan untuk masyarakat atau kelompok lain mengikuti kegiatan penanaman,” kata Ketua Kelompok Lestari, Djaini Mokotubong.  

Kepala Balai TNBNW, drh. Supriyanto menambahkan, melalui 10 cara baru kelola kawasan konservasi, masyarakat diposisikan sebagai subjek dalam pengelolaan kawasan dan mempertimbangkan prinsip-prinsip HAM, sehingga dalam penyelesaian masalah dan upaya pelestarian TNBNW, didahului dengan dialog dan komunikasi dengan masyarakat. Dikatakannya, pemulihan ekosistem kolaboratif ini merupakan salah satu upaya resolusi konflik yang mengedepankan masyarakat sebagai pelaku dalam upaya pelestarian TNBNW dengan didukung oleh Balai TNBNW. 

Baca Juga: Lama Jadi Misteri, Musang Sulawesi Ditemukan Lagi

“Program Pemulihan Ekosistem Kolaboratif secara mandiri ini merupakan hasil  penerapan Resort Based Management (RBM) secara menyeluruh di Balai TNBNW. Sistem kelola ini memastikan petugas hadir di lapangan dengan target yang jelas, salah satunya anjangsana. Kegiatan ini secara rutin meningkatkan frekuensi komunikasi antara petugas dan masyarakat sehingga peran masyarakat dalam kelola kawasan dapat dibangun. Hal ini merupakan modal social untuk pengelolaan kawasan yang lebih efektif,” beber Supriyanto.

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dengan luas 282.008,757 hektar ini telah ditetapkan sebagai kawasan taman nasional sejak tahun 1993 berdasarkan SK Menhut No.724/Kpts-II/1993 oleh karena kawasan ini merupakan daerah tangkapan air daerah Bolmong dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga menjadi penyangga kehidupan masyarakat, khususnya di daerah Bolaang Mongondow.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR