Senin, 19 Agustus 2019
Berita Konservasi

BKSDA Aceh Evakuasi Orangutan dari Kebun Warga

Rabu, 13 Maret 2019

Bersama mitra WCS-IP dan OIC

BKSDA Aceh Evakuasi Orangutan dari Kebun Warga
BKSDA Aceh
BKSDA Aceh Evakuasi Orangutan dari Kebun Warga

Subussalam -- Personel Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Seksi Wilayah 2 Subulussalam bersama mitra WCS-IP dan OIC mengevakuasi orangutan sumatera (Pongo abelii) dari kebun warga Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam. 

Upaya evakuasi ini bermula dari laporan warga tentang terjadinya konflik orangutan di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam. Kemudian, pada tanggal 9 Maret 2019, tim melakukan pengecekan ke lokasi dan dijumpai satu individu orangutan di pohon nangka serta sarang dan bekas makanan seperti pelepah daun sawit dan daun kelapa. Orangutan terisolasi di kebun sawit milik seorang warga. 

Baca Juga: Dua Kelompok Gajah Liar Dipasangi GPS Collar

Menurut warga setempat, orangutan tersebut dalam kondisi kurang sehat. Bahkan, berdasarkan pengakuan anak-anak sekitar areal kejadian menyatakan, orangutan tersebut sudah terkena alat dodos kelapa sawit dan anaknya sempat diambil dari induknya.

Selanjutnya, pada Minggu (10/3/2019), tim BKSDA Aceh bersama dengan personel WCS-IP dan HOCRU-OIC turun ke lokasi ditemukannya orangutan sumatera di Kecamatan Sultan Daulat dan berhasil mengevakuasi dua individu orangutan terdiri dari anak dan induknya, dengan melakukan pembiusan terhadap induknya. 

Dari pemeriksaan awal di lapangan diketahui, induk Orangutan dalam kondisi terluka parah karena benda tajam pada tangan kanan, kaki kanan serta punggung. Selain itu didapati juga kedua mata induk orangutan terluka parah karena tembakan senapan angin. Sedangkan bayi orangutan yang berumur 1 bulan, dalam kondisi kekurangan nutrisi parah dan syok berat.  

Tim kemudian bergegas membawa  kedua orangutan tersebut ke Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara, yang dikelola Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) melalui Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP) untuk dilakukan perawatan intensif.  Namun dalam perjalanan anak orangutan mati, diduga karena malnutrisi. Anak OU kemudian dikuburkan di Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit Sumatera Utara.

Baca Juga: BKSDA Obati Gajah Luka Akibat Terjerat

Induk orangutan sumatera berusia sekitar 30 tahun selanjutnya diberi nama Hope yang berarti “harapan". Diharapkan Hope bisa pulih dan bisa mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.

Dari hasil pemeriksaan di Pusat Karantina Orangutan, Hope memiliki berat badan 35,68 Kg, kondisi rambut kusam dan kulit bersisik dengan status dehidrasi >10 %.  Bagian mulut terlihat bengkak banyak bekas luka dan memar, mata kanan terlihat bengkak sudah mengalami kerusakan permanen (bagian mata sudah mengecil dan berwarna putih susu) kemungkinan kerusakan terjadi lebih dari 2-3 bulan yang lalu. Mata kiri rusak, dengan pendarahan di bagian kornea dan pupil, diakibatkan tembakan 3 butir peluru senapan angin. Luka lebam di seluruh tubuh, terutama bagian kedua tangan, luka sayatan terbuka di beberapa bagian:

1.    Tangan kanan dengan lebar luka 10 cm, tepi luka rata
2.    Tangan kiri luka di bagian jari-jari dengan lebar luka 2-3 cm, tepi luka rata 
3.    Kaki kanan luka terbuka di bagian paha atas dengan lebar luka 10 cm, luka terlihat seperti luka sayatan benda tajam.
4.    Telapak kaki kanan luka terbuka, yang mengakibatkan kerusakan di bagian tendon, dengan lebar luka 5 cm namun luka cukup dalam
5.    Kaki kiri luka selebar 4 cm dengan kedalaman 1 cm di daerah ruas jari telunjuk.
6.    Luka di bagian bahu kiri dengan lebar luka 1 cm, namun cukup dalam (dengan kedalaman lebih dari 10 cm mengenai tulang).
7.    Hasil pemeriksaan dengan x-ray, ditemukan:
a.    Peluru senapan angin sebanyak 74 butir yang tersebar di seluruh badan
b.    Patah tulang Clavicula kiriter buka- dalam artian tulang mencuat keluar dari kulit.
c.    Retak tulang pelvis kiri dengan keretakan kurang lebih 2 cm.
8.    Kondisi OU Hope masih belum stabil sehingga masih akan berada di kandang treatment untuk mendapatkan perawatan intensive 24 jam.

Orangutan sumatera (Pongo abelii) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Primata Famili Hominidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/ Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi, yang saat ini dalam ancaman kepunahan.

Kejadian di Subulussalam ini merupakan kejadian keempat penggunaan senapan angin untuk menyerang orangutan di wilayah Aceh, selama kurun waktu 2010 – 2014.  Kejadian pertama di Aceh Tenggara, kedua di Aceh Selatan, ketiga di Aceh Timur dan terakhir di Subulussalam ini.

Baca Juga: BKSDA Aceh Berhasil Selamatkan Anak Gajah Sumatra

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh mengecam keras tindakan biadab yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang menganiaya satwa liar yang dilindungi undang-undang yaitu orangutan sumatera (Pongo abelii) di Desa Bunga Tanjung Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam, sehingga orangutan terluka parah dengan 74 butir peluru senapan angin bersarang di tubuhnya, serta menyebabkan bayi orangutan mati karena kekurangan nutrisi dan shock berat.

BKSDA Aceh telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum LHK, melalui Balai Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera, untuk mengusut tuntas kasus kematian bayi orangutan sumatera dan penganiayaan induknya, di Subulussalam ini.  Balai Gakkum Wilayah Sumatera didukung BKSDA Aceh, berkomitmen untuk dapat mengungkap kasus ini. BKSDA juga akan berkoordinasi dengan Kapolda Aceh agar dapat dilakukan penertiban peredaran senapan angina illegal, karena dalam Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012, penggunaan senapan angina hanya untuk olah raga dan harus diliput dengan ijin.  Penyadartahuan masyarakat juga akan lebih massif dilakukan, dengan melibatkan tokoh masyarakat, perangkat desa, media massa serta media social, dan juga melibatkan aparat penegak hukum.  

BKSDA Aceh mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra dan masyarakat yang membantu dalam evakuasi orangutan Hope.
 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR