Selasa, 18 Juni 2019
Inovasi

Restorasi Ekosistem Berbasis Genetik Cocok di TNGM

Selasa, 12 Maret 2019

Diskusi terbatas mencari formulasi terbaik pelaksanaan restorasi eksosistem

Restorasi Ekosistem Berbasis Genetik Cocok di TNGM
b2p2bpth
Restorasi Ekosistem Berbasis Genetik Cocok di TNGM

Yogyakarta -- Prinsip restorasi ekosistem di kawasan konservasi harus menjaga kemurnian genetik dan memperhatikan asal-usul bibitnya. Karena itu, salah satu solusi tepat untuk restorasi ekosistem di taman nasional adalah Restorasi Ekosistem Berbasis Genetik.

Hal ini disampaikan Dr. Ir. AYPBC Widyatmoko, M.Agr dalam diskusi terbatas mencari formulasi terbaik pelaksanaan restorasi eksosistem di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) di kantor Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta, Kamis (28/2/2019) lalu.

Baca Juga: Kayu Putih Bikin Kesejahteraan Petani Meningkat

“Kegiatan restorasi ekosistem perlu diarahkan untuk menjawab setidaknya empat pertanyaan. Bagaimana cara mengembalikan kondisi seperti awal, jenis apa saja yang ditanam, dari mana asal bibitnya, dan bagaimana desain penanamannya,” kata peneliti senior genetika molekuler ini.

Dalam beberapa kasus, restorasi ekosistem dilakukan di beberapa tempat, namun boleh jadi ada sesuatu yang kurang tepat jika benih/bibit yang digunakan bukan berasal dari kawasan konservasi setempat. Terlebih jika membeli dari pengada bibit yang mendapatkanya dari luar kawasan. 

Sejak tahun lalu, kegiatan restorasi ekosistem berbasis genetik diimplementasikan dalam bentuk Kegiatan Bersama antara B2P2BPTH dengan BTNGM Nomor: S.0172/BBPPBPTH/DIK/KUM.3/02/2018 tentang “Penguatan Fungsi Pengawetan Jenis-Jenis Tumbuhan Lokal Melalui Pembuatan Demplot Restorasi di Kawasan TNGM”, dengan durasi 3 tahun dari tahun 2018-2020. 

Kerjasama ini meliputi kegiatan inti, yaitu survei populasi dan potensi jenis-jenis potensial Gunung Merapi; pengumpulan sampel dan analisa keragaman genetik menggunakan penanda DNA; perbanyakan secara vegetatif dan atau generatif dari jenis-jenis target; penyusunan strategi dan pelaksanaan kegiatan konservasi jenis-jenis tersebut untuk mendukung pemulihan ekosistem di TNGM; monitoring ekosistem dan pembuatan desain serta pembangunan demplot restorasi jenis-jenis lokal/endemik.

Baca Juga: KLHK Hasilkan Penelitian & Pengembangan Integratif

“Tahun 2018, kegiatan yang sudah dilakukan adalah survei populasi dan potensi 6 jenis target potensial Gunung Merapi yaitu Sarangan/Saninten (Castanopsis argentea), Tesek (Dodonaea viscosa), Puspa (Schima wallichii), Pasang (Lithocarpus sp.), Sowo (Engelhardia spicata), dan DadapD uri (Erythrina lithosperma),” lanjut Doktor lulusan Jepang ini.
Selain itu, juga telah dilakukan kegiatan pengumpulan materi genetik daun dan/atau kambium, anakan, buah dan biji untuk analisis DNA, perbanyakan secara vegetatif dan atau generatif; pembuatan PUP untuk monitoring eksosistem dan pembangunan demplot restorasi jenis-jenis lokal.

Jenis yang tumbuh di TNGM secara genetik mempunyai kekhususan, kemungkinan tidak dimiliki oleh jenis yang sama yang tumbuh di tempat lain. “Kegiatan restorasi ekosistem berbasis genetik di TNGM merupakan perpaduan antara in-situ dan eks-situ atau sering juga disebut sebagai pseudo-insitu, dengan memperhatikan asal usul bibit dan lokasi penanaman,” tambah Anton.

Dari aspek formal, PP 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa merupakan acuan kegiatan restorasi ekosistem untuk menjaga kemurnian dan keragaman genetik di suatu kawasan konservasi, dan juga Perdirjen KSDAE NOMOR : P. 12/KSDAE-Set/2015 tentang Pedoman Tata Cara Penanaman dan Pengkayaan Jenis Dalam Rangka Pemulihan Ekosistem Daratan Pada Kawasan Suaka Alam Dan Kawasan Pelestarian Alam. “Oleh karena itu, restorasi ekosistem di TNGM kita usahakan menggunakan bibit yang berasal dari TNGM untuk menjaga kemurnian genetik yang ada di kawasan tersebut,” tegasnya.

Kegiatan yang sangat penting dalam restorasi berbasis genetik adalah analisis keragaman genetik. Menurut Anton, tahun 2017 telah dilakukan analisis keragaman jenis saninten, tahun 2018 jenis tesek, dadap dan sowo, sedangkan pada tahun 2019 untuk jenis pasang dan puspa.

Baca Juga: Nilai Capaian Indikator PUI B2P2BPTH 2018 9,9

Hal menarik dalam kegiatan restorasi ini adalah TNGM juga mengandeng masyarakat sekitar sebagai mitra untuk melakukan koleksi dan pembibitan dengan pendampingan dari para peneliti B2P2BPTH. Langkah ini juga menjadi bentuk pemberdayaan masyarakat yang apik, untuk meningkatkan terciptanya kecintaan masyarakat pada TNGM sekaligus membantu peningkatan pendapatan masyarakat.

“Kami berharap kegiatan restorasi ekosistem yang dilakukan di kawasan TNGM pasca kerjasama ini paripurna nanti dapat menjadi acuan untuk kegiatan restorasi ekosistem bagi taman nasional lain dengan menitikberatkan perhatian pada kemurnian genetik melalui penggunaan benih/bibit yang berasal dari dalam kawasan konservasi tersebut,” tutup Anton. 
 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR