Selasa, 18 Juni 2019
Inovasi

Kayu Putih Bikin Kesejahteraan Petani Meningkat

Selasa, 26 Februari 2019

Pilot project pengembangan di KPHL Biak Numfor

Kayu Putih Bikin Kesejahteraan Petani Meningkat
BP2BPTH
Pilot project pengembangan di KPHL Biak Numfor

Yogyakarta -- Pilot project pengembangan kayuputih (Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi) di KPHL Biak Numfor, Papua membuktikan jika pengembangan benih unggul kayuputih dapat meningkatkan pendapatan. Hal tersebut disampaikan Dr. Anto Rimbawanto dan kawan-kawan pada saat menyampaikan hasil kegiatan pengembangan di Kantor Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH), Yogyakarta, Selasa (26/2/2019).

Anto menyampaikan, pilot project ini mengubah kebiasaan petani setempat yang dulunya peladang berpindah-pindah dan penebang pohon ikut berpartisipasi menanam kayuputih dan menjadi petani menetap. Bahkan, dari menanam kayuputih tersebut, kesejahteraan petani menjadi lebih baik.

Baca Juga: Kayu Putih Purwobinangun Masuk Zona Eye Catching

Keberhasilan pilot project pengembangan kayuputih ini dapat dievaluasi dari 2 aspek, yaitu pertumbuhan tanaman dan rendemen minyaknya, serta dampak ekonominya terhadap petani yang mengelola kebun kayuputih tersebut. Dari sisi pertumbuhan tanaman, tanah dan iklim Biak Timur yang kondusif bagi pertumbuhan tanaman, telah memungkinkan pemanenan perdana dilakukan pada saat tanaman baru berumur 18 bulan, dengan hasil biomas daun seberat rata-rata 9 kg/pohon, dengan rendemen minyak 1% (rendemen ini akan meningkat setelah pohon berumur 2 tahun). Dari sisi petani, testimoni dari dua orang petani yang secara langsung terlibat dalam pembangunan dan pengelolaan kebun ini, yaitu Moses Ronggeare dan Issac Warnares dari Kelompok Tani Kovarwis di Kampung Rimbajaya, membuktikan bahwa kebun kayuputih ini telah memberikan dampak positif . 

"Dulu saya adalah penebang pohon Tetapi setelah ada penanaman kayuputih di Biak, saya berhenti total menebang pohon. Saya menanam kayuputih sebanyak 3000 pohon. Dari hasil suling, hidup saya menjadi sangat berubah. Menjadi lebih baik. Saya bisa menguliahkan anak saya, ibu sekarang punya warung dan sekarang saya punya tabungan di Bank Mandiri 11 juta. Saya mengucapkan terimakasih sekali kepada KPH Biak Numfor dan Balai Besar di Yogyakarta,” kata Moses.

Issac Warnares, petani lainnya mengaku selalu berkebun dengan cara berpindah pindah. "Tetapi sekarang setelah ada penanaman kayuputih saya berkebun di satu lahan saja. Karena saya bisa panen setiap tahun. Dari hasil penyulingan saya bisa membiayai anak sekolah. Saya bisa menabung,” katanya.

Menurut Anto, kebun kayuputih di Kampung Rimbajaya berpotensi memberikan pendapatan yang sangat baik bagi kelompok tani Kovarwis. Dengan jumlah pohon siap panen sebanyak 12.000 pokok, potensi daun yang dapat dipanen sebesar 4 kg x 12.000 = 48 ton. Dengan rendemen minyak sebesar 1.3%, maka dapat dihasilkan minyak kayuputih sebanyak 624 kg, atau setara dengan hampir Rp. 125 juta. Pemanenan daun dapat dilakukan setiap 6-9 bulan. Sementara ini hasil minyak nya dibeli oleh KPHL Biak Numfor, dan sebagian lainnya dipasarkan langsung oleh anggota kelompok tani ke pasar setempat.

Baca Juga: Bangun Sinergi untuk Produk Litbang Unggulan

Anto berharap, dengan keberhasilan pilot project pengembangan kayuputih skala kecil di Biak ini dapat direplikasi di desa-desa lain di Indonesia, dan pada gilirannya nanti dapat mengurangi import minyak subtitusi ekaliptus dari Cina yang selama ini digunakan sebagai bahan campuran untuk menutupi defisit produksi minyak kayu putih dalam negeri sebanyak kurang lebih 3.000 ton/tahun. Kebutuhan minyak kayu putih Indonesia selama ini sebanyak 3.600 ton/tahun dan hanya mampu dipenuhi sebanyak 600 ton/tahun.

Oleh karena itu, B2P2BPTH Yogyakarta gencar melakukan pengembangan industri minyak kayuputih dengan berbagai skema, baik skema kerjasama dengan industri skala besar seluas 4.000 ha dengan PT. Sanggaraggo Karyapersada di Kabupaten Bima, NTB dan rencana kedepan dengan skema inti-plasma antara petani dengan industri minyak kayuputih yaitu PT. Eagle Indho Pharma (Cap Lang) di beberapa lokasi dengan tujuan utama adalah untuk mengurangi import minyak subtitusi dan memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan menggunakan benih/klon unggul kayuputih yang telah dihasilkan oleh para peneliti B2P2BPTH.

“Tiga hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi minyak kayuputih yaitu perbaikan mutu genetik tanaman, menggunakan benih unggul, ekstensifikasi tanaman dengan perluasan areal tanaman kayuputih dan revitalisasi dan modernisasi industri penyulingan,” tutup Anto

Keberhasilan pilot project pengembangan kayuputih skala kecil di Biak Numfor tidak terlepas dari kerjasama/kolaborasi dengan KPHL Biak Numfor, Kelompok Tani Kovarwis, dan PSKL Maluku Papua yang memberikan bantuan  alat suling dan tentunya partisipasi yang baik dari masyarakat setempat.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR