Senin, 9 Desember 2019
News & Nature
Berita

TNAL dan AMAN Gelar Workshop Kemitraan Konservasi

Kamis, 14 Februari 2019

Sinergitas dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi sangat diperlukan

TNAL dan AMAN Gelar Workshop Kemitraan Konservasi
ksdae.menlhk.go.id
TNAL dan Aman Gelar Workshop Kemitraan Konservasi

Sofifi -- Sinergitas dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi sangat diperlukan. Hal ini serupa dengan 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi yang disampaikan oleh Dirjen KSDAE, Wiratno. 

Karena itu, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata  (TNAL) bersama Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) Maluku Utara melakukan kegiatan workshop kemitraan konservasi. Workshop dilaksanakan di kantor SPTN Wilayah I Weda kemarin (13/02). Kegiatan yang dihadiri oleh Kepala Balai TNAL beserta para struktural, AMAN, perwakilan dari Balai PSKL Wilayah Maluku Papua, dan perwakilan dari Desa Kobe dan Desa Sawai Itepo tersebut merpakan tindak lanjut dari pertemuan pada bulan Oktober 2018 lalu.

Baca Juga: Ini Jenis Serangga Hasil Penelitian di TNAL

Acara diawali dengan pemutaran film Tangkahan dan presentasi 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi Oleh Kepala Balai. Kepala Balai berharap bahwa kegiatan workshop ini dapat melahirkan gagasa-gagasan yang yang konstruktif, namun untuk menjawab keinginan masyarakat secara cepat dapat membentuk skema kemitraan konservasi.

Materi perhutanan sosial dan akses keadilan bagi masyarakat adat sekitar hutan juga disampaikan oleh Kepala Seksi Penyiapan Kawasan dan Usaha Perhutanan Sosial yang mewakili Balai PSKL pada acara tersebut. Dalam kesempatan lainnya, Ketua Aman menyampaikan bahwa eksistensi masyarakat adat tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat itu sendiri.

Pada akhir kegiatan diperoleh hasil bahwa masyarakat Desa Sawai Itepo yang merupakan desa pemekaran dari Desa Kobe telah menerima keberadaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Kegiatan selanjutnya adalah sosialisasi dan verifikasi serta validasi turun ke lapangan bersama AMAN guna meninjau lahan masyarakat yang terindikasi masuk dalam kawasan TNAL.

“Hal ini merupakan langkah maju dalam penyelesaian konflik tenurial antara Balai TNAL dengan desa-desa sekitae kawasan,” kata Kepala Balai TNAL, Wahyudi.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR