Selasa, 10 Desember 2019
News & Nature
Inovasi

KLHK Bangun Fasilitas Pemanfaatan Limbah Biomassa

Senin, 17 Desember 2018

Di Bangka Belitung

KLHK Bangun Fasilitas Pemanfaatan Limbah Biomassa
ppid.menlhk.go.id
Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bidang Energi, Hudoyo menyerahkan Fasilitas Pemanfaatan Limbah Biomassa, Senin (17/12/2018).

Jakarta -- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyerahkan Fasilitas Pemanfaatan Limbah Biomassa sebagai Energi bagi masyarakat Desa Cendil, Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung. Energi yang dihasilkan dari dua reaktor yang dimiliki fasilitas tersebut, yaitu sekitar 154 m3/hari. Jumlah tersebut setara dengan 61,6 kg gas elpiji, dan dapat digunakan oleh 20 kepala keluarga.

“Sebagai bagian dari Program Ketahanan Energi, fasilitas ini memanfaatkan limbah biomassa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) menjadi biogas. Limbah biomassa yang potensial untuk dikembangkan sebagai energi adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit. Sekitar 27,6% - 32,5% TKKS menjadi timbulan limbah padat yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit,” ujar Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bidang Energi, Hudoyo, saat acara penyerahan fasilitas, Senin (17/12/2018).

Baca Juga: Limbah Cair Kelapa Sawit Bisa Diolah Jadi Listrik

Salah satu pemanfaatan TKKS adalah dengan menjadikannya sebagai media jamur, sehingga TKKS yang menumpuk dapat terdegradasi. Pengomposan anaerobic di dalam reaktor limbah biomasa pada fasilitas ini selanjutnya menghasilkan gas metan (CH4), karbondioksida (CO2) dan asam organic. Selanjutnya gas metan yang dihasilkan dapat menjadi bahan bakar alternatif (biogas) yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.

Tujuan pembangunan fasilitas ini, selain memberikan nilai manfaat bagi masyarakat dalam penyediaan energi, juga untuk mengurangi timbulan limbah. Fasilitas yang dilengkapi dengan kumbung jamur ini, memberikan manfaat lebih dalam mencapai ketahanan pangan.

Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3, KLHK Sinta Saptarina Soemiarno, menyampaikan bahwa fasilitas ini diharapkan memberi manfaat dari empat aspek, yaitu aspek lingkungan, aspek produksi pangan dan energi, aspek finansial, serta aspek edukasi.

“Dari sisi lingkungan, teknologi ini dapat mengurangi limbah padat dan membentuk methane capture, sehingga mengurangi pemanasan global. Dari aspek produksi, teknologi ini menghasilkan media tumbuh jamur untuk Ketahanan Pangan serta menghasilkan energi gas untuk Ketahanan Energi. Dari sisi finansial, dapat menambah penghasilan masyarakat dari hasil panen jamur dan penghematan bahan bakar. Dari sisi aspek Edukasi, fasilitas ini diharapkan menjadi ajang pembelajaran masyarakat setempat, komunitas universitas serta pengembangan ilmu pengetahuan,” jelas Sinta.

Baca Juga: Dirjen PPKL Resmikan IPAL Komunal di Pesantren

Lebih lanjut, Sinta mengungkapkan, pemilihan lokasi pembangunan fasilitas ini mempertimbangkan jumlah timbulan limbah biomasa besar seperti limbah TKKS, dan kebutuhan energi serta kebutuhan pangan bagi masyarakat setempat. Teknologi Reaktor biomasa terbukti menyediakan energi biogas sebagai bahan bakar kepada kurang lebih 20 kepala keluarga ini mendorong program prioritas nasional dalam ketahanan energi. “Selain Fasilitas fisik, KLHK juga memberikan pelatihan pengembangbiakan jamur serta pelatihan pengelolaan fasilitas ini kepada masyarakat setempat,” tambahnya.

Pemanfaatan limbah biomasa untuk energi ini sangat diperlukan Indonesia. Saat ini, kita masih bergantung pada bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan gas. Fasilitas Pemanfaatan Limbah Biomasa ini, berkontribusi untuk mewujudkan Ketahanan Energi di masa depan, dengan mengedepankan Energi baru dan terbarukan (EBT).

Indonesia menargetkan pengembangan EBT sebesar 23% pada Bauran Energi Nasional tahun 2025. Salah satu energi terbarukan yang mempunyai potensi besar di Indonesia adalah biomassa. Biomassa dikonversi menjadi bahan bakar gas setara dengan kira-kira 0,1 - 0,12 liter BBM atau 0,33 - 0,67kWh. 

Pada tahun 2018, KLHK membangun enam Fasilitas Pemanfaatan Limbah Biomasa sebagai Energi di 6 Kabupaten, yaitu Kabupaten Kotabaru, Kabupaten Pasangkayu, Kabupaten Belitung Timur, kabupaten Pelalawan, Kabupaten Katingan dan Kabupaten Deli Serdang. Masing-masing fasilitas dilengkapi dengan reaktor dengan kapasitas 20 ton/batch.  
 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR